Minggu, 30 Maret 2014

Diskusi Tentang Luka


Malam ke 21 pada 3 di tahun ini. Hm… merdunya suara angin yang bernyanyi ria membawa setiap daun-daun bernari dan berdansa kekanan dan kekiri. Kobaran bendera-bendera partai yang telah terpasang di setiap sudut jalan dan tiang tak kalah asyiknya ikut berdansa dengan iringan terpaan sang angin.

Malam ke 21 pada 3 di tahun ini. Hm.. terlihat bentangan awan keabu-abuan meyelimuti kerlip kejora dan venus di tiap sisi langit. Rembulan terlihat sangat pucat karena arakan awan keabu-abuan itu. Ingin sekali rasanya melihat bintang dan bulan bersanding mesra seperti biasanya. Ada sesuatu yang hilang hinggap pada kerling mataku tiap aku memandang langit.

Oh iya, aku lupa memperkenalkan diri. Perkenalkan, namaku Medina Mueeza. Aku tinggal di kota kecil bernama Salatiga. Aku seorang pelajar kelas 2 Aliyah. Hobiku melihat langit. Aku pecinta benda benda langit seperti bintang dan bulan. Penikmat matahari terbit dan terbenam bahkan hujan. Penyuka warna hijau dan biru. Penggemar lampu kota, lautan, dan hamparan sawah hijau nan luas. Aku juga seorang penyayang binatang; kucing.

Sudah aku katakan, melihat langit adalah hobiku. Aku suka memandanginya, apalagi kalau tak ada si abu-abu datang (re; mendung). Dan hari ini, hampir seharian kota tempat tinggalku di guyur hujan. Itu artinya si abu-abu mendominasi hari ini.

Aku kurang suka dengan suasana malam ini. Aku bosan dengan malam yang kelabu. Rasanya aku sudah merindukan adanya kerlip kejora dan cantiknya cahaya rembulan yang seringkali mendatangkan suasana berbeda pada tiap malamnya.

Aku memang penikmat hujan. Namun tidak untuk hari ini. Aku sudah terlalu bosan dengan hadirnya hujan yang seringkali datang membawa penantian—penantian untuk kembali menatap girang cahaya rembulan dengan sang penghibur; bintang.