Malam ke 21 pada 3 di tahun ini. Hm… merdunya suara angin yang
bernyanyi ria membawa setiap daun-daun bernari dan berdansa kekanan dan kekiri.
Kobaran bendera-bendera partai yang telah terpasang di setiap sudut jalan dan
tiang tak kalah asyiknya ikut berdansa dengan iringan terpaan sang angin.
Malam ke 21 pada 3 di tahun ini. Hm.. terlihat bentangan awan
keabu-abuan meyelimuti kerlip kejora dan venus di tiap sisi langit. Rembulan
terlihat sangat pucat karena arakan awan keabu-abuan itu. Ingin sekali rasanya
melihat bintang dan bulan bersanding mesra seperti biasanya. Ada sesuatu yang
hilang hinggap pada kerling mataku tiap aku memandang langit.
Oh iya, aku lupa memperkenalkan diri. Perkenalkan, namaku Medina
Mueeza. Aku tinggal di kota kecil bernama Salatiga. Aku seorang pelajar kelas 2
Aliyah. Hobiku melihat langit. Aku pecinta benda benda langit seperti bintang
dan bulan. Penikmat matahari terbit dan terbenam bahkan hujan. Penyuka warna
hijau dan biru. Penggemar lampu kota, lautan, dan hamparan sawah hijau nan
luas. Aku juga seorang penyayang binatang; kucing.
Sudah aku katakan, melihat langit adalah hobiku. Aku suka
memandanginya, apalagi kalau tak ada si abu-abu datang (re; mendung). Dan hari
ini, hampir seharian kota tempat tinggalku di guyur hujan. Itu artinya si
abu-abu mendominasi hari ini.
Aku kurang suka dengan suasana malam ini. Aku bosan dengan malam
yang kelabu. Rasanya aku sudah merindukan adanya kerlip kejora dan cantiknya
cahaya rembulan yang seringkali mendatangkan suasana berbeda pada tiap
malamnya.
Aku memang penikmat hujan. Namun tidak untuk hari ini. Aku sudah
terlalu bosan dengan hadirnya hujan yang seringkali datang membawa
penantian—penantian untuk kembali menatap girang cahaya rembulan dengan sang
penghibur; bintang.