Lembayung senja di pelupuk mata penuh maknaa... terhempas
oleh semilir angin menyibak manja. Bahasa istana langit terdengar merayu jiwa
yang berhati putih untuk segera menemui Rabbnya. Nafas lega terembuskan dari
hati yang semula terpompa riuh kebisingan menyakitkan.
Ahh.. Sejenak aku mengingat sosok baru menjemput kejadianku
waktu lalu stelah kekacauan meraut-raut sebongkah hati yang rapuh.
Terasakan desiran hati ketika ingatan tertuju pada satu
titik yaitu dia, jasad ini mulai terdorong lagi untuk mendekat kepada Sang
Pemilik Cinta.. Membingungkan. Ya. Memang!
Awal mengenalnya.. Aku benar-benar merasakan akan jantung
yang bedegup lebih kencang dari pada yang lalu-lau. Sekencang meteor yang
meluncur ke atmosfer hingga terdampar ke permukaan bumi.
Misterius. Sosok baru itu memaksaku untuk mengingatnya juga
mengingat Sang Pemberi Ingatan; Dari tutur katanya.. Dari lekuk bahasa
isyaratnya melalui tingkah polahnya. Juga dari suaranya yang aku dengar dari
sebrang.
Siapakah dia?' kata hatiku. 'Aku tak tahu' jawabku dengan
ragu. Bagaimana mungkin? Hah… aku tak mengerti. Aku belum larut dalam pemahaman
tentangnya. Hanya membungkam menikmati
rasa bergejolak aneh.
Entahlah apa makna dari ini semua. Dapatkah aku menjawabnya
seorang diri dari pertanyaan hatiku sendiri? Adakah yang dapat mengartikan
pertanyaan hatiku? hahaha Aku gila.. Itu tak mungkin.
Aku mencoba untuk berdialog dengan hati dan pikiranku
sendiri. aku juga mencoba untuk memahaminya dari pertanyaan-pertanyaan hatiku.
Tapi, tak jua tertemukan apa makna dari semua. Inginku nyatakan perasaan ini
pada malaikat yang selalu saja mengawasiku dan bertanya; 'apa ini maknanya?'
aku yakin, itu tak akan mungkin mereka jawab.
Makin bodohlah diri.. jika aku katakan pada hatiku sendiri
bahwa 'ini namanya cinta' tanpa bukti secara nyata. Tapi kenapa niat memaksa
untuk ku katakan bahwa 'ini adalah cinta'. Semakin ke sana, semakin aku ingin
katakan pada hatiku sekarang juga.
Tapi… aku takut jika
aku tertahan oleh pertanyaan hatiku sendiri setelah aku menjawab pertnyaannya.
Aku semakin tak yaqin dengan keberadaan ini. Aku takut nantinya semua akan
menjadi nestapa yang berkelanjutan.
Duh.. Allah.. Apa aku memang jatuh cinta? Duh Allah.. Ini
hatiMu yang Engkau pinjamkan untukku. Kumohon jawablah sebagian dari
pertanyaanku. Aku takut terjerat nafsu ketika aku tak dapat mengartikannya. Duh
Allah.. Aku butuh Engkau menjawabnya.. Aku takut hati ini terdapat
bintik-bintik noda hitam..
Salatiga, 2011
:)
BalasHapus