Jumat, 22 Maret 2013

Ukiran Dzikir Prajurit Allah




Bismillah-hirrahmanir-rahim..
Aku dengar gemircik air hujan turun di tanah yang gersang. Aku yaqin, Mereka, prajurit langit yang turun bukan sedang membuka topeng kehidupan melainkan mereka sedang menurunkan rahmat dari Allah.

Tik.. Tik.. Tik.. Suara yang nyaring dan merdu menggugah para ruh yang mati agar ikut bersenandung dengannya.. Mereka meminta penduduk bumi untuk bersuka ria bersamanya.

Mereka memberikan ketegasan kepada khalifah fil ardh bahwa recik-recik air hujan yang turun merupakan dzikir-dzikir cinta sang langit dan bumi kepada Rabbnya. Dan suara petir yang menyambar-nyambar itu merupakan sebuah bacaan syahadat mereka. Dan aku percaya akan hal itu, mereka membawa keberkahan bagi khalifah fil ardh.




Namun sayang.. Di balik semua itu, mereka tertentang oleh para khalifah yang tak mengenal syukur. hingga mereka di katakan bahwa mereka adalah 'PEMBAWA SIAL'. Karena mereka datang, semua acara yang telah para khalifah susun, kacau balau tak karuan.

Aku semakin heran.. Dari celaan-celaan orang-orang yang tak mengerti, mereka terus berusaha tanpa henti meyakinkan para khalifah bahwa 'mereka adalah utusan dari Allah untuk menyampaikan keberkah kepada seluruh penduduk bumi.

Aku tertegun oleh semangat mereka yang tak mengenal letih dalam 'PEMBUKTIAN' kepada orang-orang 'itu'. Gemuruh angin ikut berperan dari pembuktian dengan terpaan-terpaannya terhadap para khalifah 'nakal'...

oleh: Humaida Fatwati El Muhtasib

Tidak ada komentar:

Posting Komentar