Judul Buku :
60 Puisi Terbaik Indonesia Tahun 2009; Anugerah Sastra pena Kencana
Pengarang : Acep Zamzam Noor,
Alois A. Nugroho, A. Muttaqien, Ari Pahala Hutabarat, Deddy Arsya, Esha Tegar Putra,
Fitri Yani, Frans Nadjira, Gunawan Maryanto, Hasan Aspahani, Inggit Putria
Marga, I Nyoman Wirata, Isbedy Stiawan ZS, Jamal D. Rahman, Joko Pinurbo,
Komang Ira Puspitaningsih, Kurnia Effendi, Lupita Lukman, Mardi Luhung, Marhalim
Zaini, Nana Rishki Susanti, Nersalya Renata, Ni Made Purnama Sari, Nirwan
Dewanto, Oka Rusmini, Ook Nugroho, Ramon Damora, Romi Zarman, Sindu Putra, Sunlie
Thomas Alexander, Timur Sinar Suprabana, Triyanto Triwikromo, TS Pinang, Warih
Wisatsana.
Tebal : 160 halaman
Penerbit : PT Gramedia Pustaka Utama
Harga : Rp 43.000
Tahun Terbit : Catakan Pertama, Februari 2009
Cetakan Kedua, Juni 2009
&&&
Buku
ini merupakan kumpulan puisi yang telah terseleksi dari koran-koran terkemuka
di Indonesia. Setelah sekali lagi disaring oleh tim juri Pena Kencana (Sapardi
Joko Damono, Sitok Srengenge dan Joko Pinurbo) terpilihlah 60 puisi yang
temanya bervariasi. Dan buku ini berhasil terbit pada Februari 2009 oleh
Anugrah Sastra pena Kencana dan diterbitkan oleh PT Gramedia Pustaka Utama.
Jujur,
pertamakali melihat buku ini saya tidak tertarik sama sekali untuk membacanya
karena covernya yang kurang menarik. Namun ketika saya membaca prolog dari
Triyanto Triwikromo sebagai penyelenggara yang berujar “Apakah kesusastraan
Indonesia hidup dalam suasana yang kondusif? Apa boleh buat jawabannya: ia
masih nelangsa. Ia diproduksi dengan semangat gegap-gempita, tetapi
tetap tak menyihir manusia-manusia di luar dunia teks untuk membaca kaya-karya
yang dianggap sangat elistis tidak bertolak dari kenyataan sosial, dan kian
jauh meninggalkan persoalan-persoalan sejarah bangsanya itu.” membuat saya
tergugah untuk berselancar pada kata-demi kata di dalam puisi ini.
Ah, membaca buku ini saya
seperti dipermainkan oleh kata. Kadang suka karena sekali baca langsung faham,
namun kadang jengkel dan bebal karena ada beberapa kata yang sulit untuk saya
fahami—mungkin karena faktor saya bukan anak sastra kali yaa. Tapi beginilah
puisi, suka-suka yang menulis. Untuk di bikin sesuai dengan minat pembaca
dengan terpaksa, maka karyanya pun akan terancam membosankan dan menjemukan.
Jadi sekali lagi, baiklah… suka-suka yang nulis—saya mengerti.
&&&
Kita tentu tahu bahwa yang
namanya perasaan itu sukar untuk diungkapkan. Dan apa yang dirasa pun musykil untuk
ditumpahkan. Kecuali dengan puisi.
Membaca buku ini, saya
jadi menyadari suatu hal, bahwa puisi adalah perwakilan rasa untuk berbicara. Dan
sajak adalah agen dari sebuah rasa yang katanya musykil untuk dituturkan.
Sajak maupun puisi adalah
bahasa perasaan yang memaksa untuk diperhatikan. Ataupun tutur rasa yang sangat
manja dan menyebalkan. Terlebih lagi perihal rindu. Adalah rasa yang datang
dari berantah dan entah untuk dipahami oleh logika. Misalnya, kalau memang
rindu kenapa tidak bilang langsung saja kepada yang dituju bahwa “aku
merindukanmu?” Nah, hal ini saya jumpai pada sajak rindu yang banyak dilahirkan
di buku ini. Salah satunya dari sajak Metamorforsis oleh A Muttaqien:
“Pada mulanya adalah bunga: sekuntum
doa yang menggigil di bibir senja. Pada mulanya adalah bunga: kelopak mata yang
mekar di kedalaman rahasia. Pada mulanya adalah bunga: setangkai cinta yang
akan jadi buah. Rindu” (Hal. 12)
Tentu
saja bukan hanya rindu yang tertuang di buku ini. Masih banyak lagi sajak yang
mewakili bahasa rasa di dalamnya. Suka, duka, kesal, damba, dan lain-lain
sebagainya.
&&&
Layaknya
pelangi yang memiliki warna lebih dari 3 rona, buku ini tak kalah berwarna
dengan berbagai bahasa rasa yang saya utarakan seperti kata diatas tadi. Dan
lagi, semua mempesona. Membuat saya terbuai serta ingin berlama-lama membaca
buku ini dan membabat habis setiap katanya—meskipun saya berkali-kali dipermainkan
oleh beberapa kata di sana-sini.
Sudah
saya katakan, saya bukanlah bocah sastra, namun saya suka kata. Nyaris semua
puisi di dalam buku ini saya suka dan senang membacanya. Tetaplah, diantara
beberapa hal yang disuka, pasti ada salah satu yang paling disuka. Salah satu
yang paling saya sukai adalah sajak dari Hasan Aspahani berjudul Yang Sajak,
Yang Kata.
“Ketika kau tuliskan
sajak-sajak suram, ketika itu pula mata kata memejam.
“Apabila tak kau tulis sebait pun sajak, Ada kata yang
diam-diam hendak berteriak.
“Saat kau dilahitkan sajak sebait, Sejak itu kata
mengenal jerit sakit.
“Walau tak datang sajak yang kau undang, Jangan kau
usir kata asing yang datang.
“Kau sembunyikan di mana jejak sajakmu? Selalu ada
kata rindu memaksa bertemu.
“Ada sajak yang kau tuangkan ke gelas, Siapakah yang
mereguk kata hingga tandas?
“Jika kau paksa juga menulis sajak, Kata memang tiba,
tapi makna jauh bertolak.
“jangan ajari sajakmu mengucap dusta, Sebab mulutmu
akan dibungkam kata-kata.
“Biarkan sajakmu dicela dicaci dinista, Karena maki
Cuma kata yang cemburu buta.
“Di mana kau simpan sajak terbaik? Di hati, lalu
biarkan kata mengucap tabik.
“Pernahkah sajak meminta lebih darinya? Kata berkata:
ah apalah, aku cuma kata…” (Hal. 26)
Nah… bagi teman-teman yang
sama seperti saya; sama-sama menyukai kata. Buku ini sangat layak untuk
dikonsumsi oleh kamu sekalian sebagai muda-mudi bangsa yang mendamba frasa
maupun kata.
Dan pada akhirnya, buku
dari Anugerah Sastra Pena Kencana memang menjadi anugrah bagi penyuka
frasa dan kata. Baik muda maupun tua--saya pikir seperti itu. Selamat membaca
dan semoga tak di permainkan oleh kata seperti saya.
Happy reading…
Ps: dikutip dari beberapa sumber

Tidak ada komentar:
Posting Komentar