Jumat, 19 Desember 2014

Resensi Buku 60 Puisi Terbaik Indonesia Tahun 2009


                  
Judul Buku      : 60 Puisi Terbaik Indonesia Tahun 2009; Anugerah Sastra pena Kencana
Pengarang     : Acep Zamzam Noor, Alois A. Nugroho, A. Muttaqien, Ari Pahala  Hutabarat, Deddy Arsya, Esha Tegar Putra, Fitri Yani, Frans Nadjira, Gunawan Maryanto, Hasan Aspahani, Inggit Putria Marga, I Nyoman Wirata, Isbedy Stiawan ZS, Jamal D. Rahman, Joko Pinurbo, Komang Ira Puspitaningsih, Kurnia Effendi, Lupita Lukman, Mardi Luhung, Marhalim Zaini, Nana Rishki Susanti, Nersalya Renata, Ni Made Purnama Sari, Nirwan Dewanto, Oka Rusmini, Ook Nugroho, Ramon Damora, Romi Zarman, Sindu Putra, Sunlie Thomas Alexander, Timur Sinar Suprabana, Triyanto Triwikromo, TS Pinang, Warih Wisatsana.
Tebal             : 160 halaman
Penerbit        : PT Gramedia Pustaka Utama
Harga            : Rp 43.000
Tahun Terbit : Catakan Pertama, Februari 2009
                      Cetakan Kedua, Juni 2009
&&&
            Buku ini merupakan kumpulan puisi yang telah terseleksi dari koran-koran terkemuka di Indonesia. Setelah sekali lagi disaring oleh tim juri Pena Kencana (Sapardi Joko Damono, Sitok Srengenge dan Joko Pinurbo) terpilihlah 60 puisi yang temanya bervariasi. Dan buku ini berhasil terbit pada Februari 2009 oleh Anugrah Sastra pena Kencana dan diterbitkan oleh PT Gramedia Pustaka Utama.
            Jujur, pertamakali melihat buku ini saya tidak tertarik sama sekali untuk membacanya karena covernya yang kurang menarik. Namun ketika saya membaca prolog dari Triyanto Triwikromo sebagai penyelenggara yang berujar “Apakah kesusastraan Indonesia hidup dalam suasana yang kondusif? Apa boleh buat jawabannya: ia masih nelangsa. Ia diproduksi dengan semangat gegap-gempita, tetapi tetap tak menyihir manusia-manusia di luar dunia teks untuk membaca kaya-karya yang dianggap sangat elistis tidak bertolak dari kenyataan sosial, dan kian jauh meninggalkan persoalan-persoalan sejarah bangsanya itu.” membuat saya tergugah untuk berselancar pada kata-demi kata di dalam puisi ini.
Ah, membaca buku ini saya seperti dipermainkan oleh kata. Kadang suka karena sekali baca langsung faham, namun kadang jengkel dan bebal karena ada beberapa kata yang sulit untuk saya fahami—mungkin karena faktor saya bukan anak sastra kali yaa. Tapi beginilah puisi, suka-suka yang menulis. Untuk di bikin sesuai dengan minat pembaca dengan terpaksa, maka karyanya pun akan terancam membosankan dan menjemukan. Jadi sekali lagi, baiklah… suka-suka yang nulis—saya mengerti.
&&&
Kita tentu tahu bahwa yang namanya perasaan itu sukar untuk diungkapkan. Dan apa yang dirasa pun musykil untuk ditumpahkan. Kecuali dengan puisi.
Membaca buku ini, saya jadi menyadari suatu hal, bahwa puisi adalah perwakilan rasa untuk berbicara. Dan sajak adalah agen dari sebuah rasa yang katanya musykil untuk dituturkan.
Sajak maupun puisi adalah bahasa perasaan yang memaksa untuk diperhatikan. Ataupun tutur rasa yang sangat manja dan menyebalkan. Terlebih lagi perihal rindu. Adalah rasa yang datang dari berantah dan entah untuk dipahami oleh logika. Misalnya, kalau memang rindu kenapa tidak bilang langsung saja kepada yang dituju bahwa “aku merindukanmu?” Nah, hal ini saya jumpai pada sajak rindu yang banyak dilahirkan di buku ini. Salah satunya dari sajak Metamorforsis oleh A Muttaqien:
“Pada mulanya adalah bunga: sekuntum doa yang menggigil di bibir senja. Pada mulanya adalah bunga: kelopak mata yang mekar di kedalaman rahasia. Pada mulanya adalah bunga: setangkai cinta yang akan jadi buah. Rindu” (Hal. 12)
            Tentu saja bukan hanya rindu yang tertuang di buku ini. Masih banyak lagi sajak yang mewakili bahasa rasa di dalamnya. Suka, duka, kesal, damba, dan lain-lain sebagainya.
&&&
            Layaknya pelangi yang memiliki warna lebih dari 3 rona, buku ini tak kalah berwarna dengan berbagai bahasa rasa yang saya utarakan seperti kata diatas tadi. Dan lagi, semua mempesona. Membuat saya terbuai serta ingin berlama-lama membaca buku ini dan membabat habis setiap katanya—meskipun saya berkali-kali dipermainkan oleh beberapa kata di sana-sini.
            Sudah saya katakan, saya bukanlah bocah sastra, namun saya suka kata. Nyaris semua puisi di dalam buku ini saya suka dan senang membacanya. Tetaplah, diantara beberapa hal yang disuka, pasti ada salah satu yang paling disuka. Salah satu yang paling saya sukai adalah sajak dari Hasan Aspahani berjudul Yang Sajak, Yang Kata.
“Ketika kau tuliskan sajak-sajak suram, ketika itu pula mata kata memejam.
“Apabila tak kau tulis sebait pun sajak, Ada kata yang diam-diam hendak berteriak.
“Saat kau dilahitkan sajak sebait, Sejak itu kata mengenal jerit sakit.
“Walau tak datang sajak yang kau undang, Jangan kau usir kata asing yang datang.
“Kau sembunyikan di mana jejak sajakmu? Selalu ada kata rindu memaksa bertemu.
“Ada sajak yang kau tuangkan ke gelas, Siapakah yang mereguk kata hingga tandas?
“Jika kau paksa juga menulis sajak, Kata memang tiba, tapi makna jauh bertolak.
“jangan ajari sajakmu mengucap dusta, Sebab mulutmu akan dibungkam kata-kata.
“Biarkan sajakmu dicela dicaci dinista, Karena maki Cuma kata yang cemburu buta.
“Di mana kau simpan sajak terbaik? Di hati, lalu biarkan kata mengucap tabik.
“Pernahkah sajak meminta lebih darinya? Kata berkata: ah apalah, aku cuma kata…” (Hal. 26)
Nah… bagi teman-teman yang sama seperti saya; sama-sama menyukai kata. Buku ini sangat layak untuk dikonsumsi oleh kamu sekalian sebagai muda-mudi bangsa yang mendamba frasa maupun kata.
Dan pada akhirnya, buku dari Anugerah Sastra Pena Kencana memang menjadi anugrah bagi penyuka frasa dan kata. Baik muda maupun tua--saya pikir seperti itu. Selamat membaca dan semoga tak di permainkan oleh kata seperti saya.

Happy reading…

Ps: dikutip dari beberapa sumber

Tidak ada komentar:

Posting Komentar