Sabtu, 06 Desember 2014

Sebuah Damba

Saya sering bertanya tanya tentang sebuah damba yang berakhir luka atau tentang suka yang berujung duka. mengapa mereka selalu membawa kecewa?



Apa memang selalu seperti itu damba dan suka berada? Dicipta untuk mendampingi luka dan duka. Ujung-ujungnya kecewa. || Tidak! Tentu tidak. Ini pastilah saya yang salah. Luka ada pasti karna terlalu berharap. Duka ada pasti karna terlalu mendamba. sedang Kecewa ada karna terlalu memberi ruang pada mereka.


Seseorang pernah berkata "bukankah sesuatu yang terlalu itu tak selalu damai dengan mau. Jangan terlalu mengelu-elukan merea. Nanti kecewa. Nanti terluka. Nanti merana. Nanti berduka." || baik. Saya yang terlalu mengelu-elukan mereka. Tidak seharusnya begitu. || Ya.. Tapi saya tak percaya dengan damba berakhir luka, suka berujung duka. Lalu kecewa. bahkan merana. rasanya tak adil.
Saya tidak percaya. || Seseorang mengajarkan kepada saya, bahwa memang begitu adanya damba dan suka… selalu ada kecewa dan sejenisnya. mereka tentu telah diciptakan oleh Dia Yang Maha Adil dan Bijaksana dengan sepaket rasa beraneka. Duka. Luka. Kecewa. Merana. Sengsara. Tapi jangan bersedih. DIA Maha Kasih tak akan lupa mencipta suka dan bahagia.

"dan ingat, jangan ada kata terlalu. Cukuplah dengan cukup." begitu imbuhnya.
Pada senja yang murung.
Oleh perempuan yang tengah gelisah mendamba.
17:44, Sab 06-12-2014

Tidak ada komentar:

Posting Komentar