Awalnya
aku tidak mengerti apa makna ukhuwah fillah?? Tapi setiap kali ada seorang
sahabat berkata 'ukhuwah fillah'. Terasa semua menjadi seperti ada butiran
embun di siang hari menyegarkan dahaga di telak gurun dengan surya yang
menyengat! Hmm kata-kata berlalu pun aku masih merasakan kesegaran itu, walau
mungkin aku tak dapat mengerti apa arti kata bahkan makna itu yang
sesungguhnya!
***
Ukhuwah
fillah… Ikatan karena Allah????
Sejak pertama kali kehidupan baru mucul di
hadapanku, aku menemukan seorang seperti aku (seorang akhwat) aku sebut dia
ukhti. dengannya kita mencoba mengnali satu sama lain. Hari berlalu, kita
semakin mengenal, dan mungkin dengan Ridho Allah. InsyaAllah.. Tapi yang namanya roda kehidupan,.. pasti
ada-ada saja perubahan.
Awal
dari awal adalah ketika kita bertukar pengalaman dan apapun yang kita hadapi
saat itu. Kita bahas tentang pesantren yang sebelumnya kita ingin-inginkan
namun tak dapat terkabulkan. Kemudian, kita berbagi ilmu tentang agama, saat
itu aku ingat tentang kata 'KIAMAT'. YA!!
Saat itu pembahasan kita adalah ilmu agama tentang kiamat. Menakutkan, tapi asyik dan penuh kejutan ketika aku dan ukhti terjun ke dalam pembahasan yang mendalam.
Saat itu pembahasan kita adalah ilmu agama tentang kiamat. Menakutkan, tapi asyik dan penuh kejutan ketika aku dan ukhti terjun ke dalam pembahasan yang mendalam.
Sesuai
waktu yang menuntun kita kedalam kehidupan, kita semakin lama semakin dekat.
Aku memanggil dia UKH dan dia memanggil aku TI. Dan jika digabungkan akan
membentuk kata UKHTI, yang berarti SAUDARAKU! ^_^ manis bukan??? Kita sperti
kakak beradik, dan akhirnya kita memang kakak adik. Kita lalui hari-hari
bersama dengan berbagai karakter suasana hati semesta dan sunatullah.
Dari
bahagia mendapatkan kenikmatan yang tiada banding. Atau kepedihan yang sulit
untuk di pecahkan, bahkan sedih dari masalah hati hingga kehidupan yang
mempermainkan. Kita lalui semua bersama. Bertahap kita pecahkan masalah yang
kita hadapi dengan tiap harinya bertukar ilmu, atau memberi ilmu secara bersama
pula. Bahkan kita mencari ilmu secara serempak walaupu itu harus menyebrangi badai yang sedemikian
dahsyatnya. masyaAllah.. Tak akan pernah kita lupakan hal-hal sekecil apapun
itu.
Setiap
malamnya, kita menulis buku harian secara bersama-sama. Dan kita mendengarkan
secara bersama-sama apa masalah kita, jika itu menyedihkan, memecahkan masalah
yang kita tulis bersama dengan buku harian kita, atau.. Tertawa bersama-sama
ketika ada hal yang lucu ataupun unik saat kita menulis harian kita. Kita tulis
dari A hingga Z. kemudian kita jabarkan semua. Jika ada hal yang kurang
penting, kita buang jauh-jauh ke dalam perut bumi yang paling bawah,
selanjutnya kita bakar semuanya dengan api yang Allah kirimkan..
Seperti
itulah kita, yang manis kita kenang, yang pahit kita jadikan pengalaman!
Apakah
kau tahu, manis? Apakah itu buku harian yang aku maksud? Buku harian miliknya
ukhti adalah aku. Dan milikku adalah ukhti. Kita adalah buku harian kita. Dan
kita adalah buku harian yang dapat bicara.
Tahun-tahun
telah berlalu, kita masih saja melewati hal yang kemarin seperti biasa dengan
hal-hal yang berbeda dan menarik lainnya. Tanpa bosan kita hadapi hal-hal yang
baru seperti biasa. Mencatatnya dengan ingatan semampu kita. Namun.. Semakin ke
sana, kehidupan bertahap mulai berubah dengan pelan. Ada sosok ikhwan yang
mendekati ukhti. Memang awalnya aku sangat tidak setuju, tapi aku melihat ukhti
suka dengan kepribadian si ikhwan tersebut, aku coba menelusurinya sedetik
sedetik yang kemudian menjadi menit-menit yang bergelantungan menjadi hari.
Aku tahu sekilas tentang karakter si ikhwan, ntah kenapa aku juga setuju seandainya si ikhwan tersebut berkenalan dengan ukhti secara dekat.
Aku tahu sekilas tentang karakter si ikhwan, ntah kenapa aku juga setuju seandainya si ikhwan tersebut berkenalan dengan ukhti secara dekat.
Yang
kemarin telah berlalu. Kita dan ikhwan tersebut semakin dekat, aku memanggil si
ikhwan tersebut dengan sebutan kakak. Faktor pertama karena iseng, dan faktor
ke-2 karena jail. Yang kemudian menjadi kebiasaan. Mereka sering aku goda
dengan berbagai tingkahku yang aneh. Aku suka jahil terhadap mereka. HAHAHA
selain untuk mencari hiburan juga menjadi obat kebosananku. Bosan karena
semakin kesana semakin aku tak di perhatikan oleh ukhti. HAHAHA itu perasaanku
saja.
Bagiku
kakak adalah sosok baru dalam harianku dan juga ukhti. Aku bahagia ketika aku
dapat melihat ukhti bahagia semenjak kedatangan kakak. Aku pun ikut bahagia
ketika aku sadar bahwa aku memiliki 2 buku harian. Meskipun aku mengisi 2 buku
harian itu sama sih.. Tapi itu suatu
kebahagiaan karena aku memiliki 2 sosok yang sangat peduli terhadapku.
Aku
pernah berkata pada mereka, bahwa aku sering berfikir seperti ini 'ukhti adalah
separuh hati, dan kakak adalah separuh hatinya lagi. Aku berada di antara
mereka. Alangkah bahagia jika ke-2 belahan itu dapat aku jadikan satu! Dan
kemdian menghasilkan 1hati yang menyatu dengan sandaran fillah. Tapi.. Tanganku
adalah tangan makhluq pemberian. Dan yang berhak menyatukan itu hanya Allah..
Dan yang mengatur itu hanya Allah.'
Ukhti
dan kakak semakin jauh tahap-tahap pengenalannya, 10-11 bulan berlalulah
seketika dari hari kemarin menjadi sekarang. Aku rasa ukhti atau pun kakak
lebih mementingkan keegoisan mereka hingga aku terlupakan. Aku semakin lama
semakin merasa bahwa tak ada lagi yang menjadi buku harianku. Aku merasa banyak
kertas yang kosong di harian lamaku terlewati karena kehadiran sosok kakak. Aku
merasa jika semakin hari ego ku semakin mengakar dalam diri. Kemarahan pun
sudah menjadi hal biasa di keseharianku. Aku merasa tak ada yang
memperdulikanku lagi. Dan hari-hariku aku ukir dengan jeritan hati yang
meraung-raung.
Aku
memilih diam sejenak. Dan diamku ternyata telah lama yang hampir 3bulan. Tak ku
fikirkan, bahwa selama aku diam, aku tak pernah mengisi catatan harianku. Dan
aku tersadar bahwa 2buku harianku pergi menghilang dalam kebisinganku.
Kini
aku ingin merubahnya. Mengisi buku harianku dengan berbagai kisah nyata yang
menarik, dan lebih menarik tak seperti yang sebelumnya. Aku ingin kembali
mengisi catatan-catatan yang kosong kemarin. Tetapi hanya satu buku harian.
Yaitu buku harian lama. Ingiiiinnnn sekali. Namun aku takut jika semua telah
terlambat. Dan aku takut jika aku hanya akan menggaanggu kehidupan barunya
ukhti dengan kakak. Mugnkin lebih baik aku pergi meratapi semua ini. Dan
mungkin lebih baik begitu.
Dan
tentang kakak. Aku hanya berpesaan kepadanya, jika memang kau telah berhasil
merusak ukhuwah fillah kami, aku harap sosok yang aku anggap kakak itu dapat
melukis dunia bersama ukhti seperti kemarin aku dan ukhti melukis dunia dengan
berbagai macam warna yang menarik.
Yang
terakhir, yang tak habis aku fikirkan adalah, apakah semuanya itu UKHUWAH
FILLAH?? Yang dapat memahami? Mengerti? Menghargai? Membimbing dalam kebaikan?
Menuntut kebaikan???? AKU BENCI KEHADIRAN SOSOKMU, KAK!!! AKU BENCI!!!
SEHARUSNYA KAMU PERGI DAN BELAJAR SENI MENGERTI DAN MEMAHAMI!!! BUKAN AKU YANG
PERGI!!! AKU BENCI KAMU!!
Tidak ada komentar:
Posting Komentar