Jumat, 22 Februari 2013

Ukhuwah Fillah-kah ini???


Awalnya aku tidak mengerti apa makna ukhuwah fillah?? Tapi setiap kali ada seorang sahabat berkata 'ukhuwah fillah'. Terasa semua menjadi seperti ada butiran embun di siang hari menyegarkan dahaga di telak gurun dengan surya yang menyengat! Hmm kata-kata berlalu pun aku masih merasakan kesegaran itu, walau mungkin aku tak dapat mengerti apa arti kata bahkan makna itu yang sesungguhnya!
***

Ukhuwah fillah… Ikatan karena Allah????
 Sejak pertama kali kehidupan baru mucul di hadapanku, aku menemukan seorang seperti aku (seorang akhwat) aku sebut dia ukhti. dengannya kita mencoba mengnali satu sama lain. Hari berlalu, kita semakin mengenal, dan mungkin dengan Ridho Allah. InsyaAllah..  Tapi yang namanya roda kehidupan,.. pasti ada-ada saja perubahan.

Awal dari awal adalah ketika kita bertukar pengalaman dan apapun yang kita hadapi saat itu. Kita bahas tentang pesantren yang sebelumnya kita ingin-inginkan namun tak dapat terkabulkan. Kemudian, kita berbagi ilmu tentang agama, saat itu aku ingat tentang kata 'KIAMAT'. YA!!
Saat itu pembahasan kita adalah ilmu agama tentang kiamat. Menakutkan, tapi asyik dan penuh kejutan ketika aku dan ukhti terjun ke dalam pembahasan yang mendalam.

Sesuai waktu yang menuntun kita kedalam kehidupan, kita semakin lama semakin dekat. Aku memanggil dia UKH dan dia memanggil aku TI. Dan jika digabungkan akan membentuk kata UKHTI, yang berarti SAUDARAKU! ^_^ manis bukan??? Kita sperti kakak beradik, dan akhirnya kita memang kakak adik. Kita lalui hari-hari bersama dengan berbagai karakter suasana hati semesta dan sunatullah.

Dari bahagia mendapatkan kenikmatan yang tiada banding. Atau kepedihan yang sulit untuk di pecahkan, bahkan sedih dari masalah hati hingga kehidupan yang mempermainkan. Kita lalui semua bersama. Bertahap kita pecahkan masalah yang kita hadapi dengan tiap harinya bertukar ilmu, atau memberi ilmu secara bersama pula. Bahkan kita mencari ilmu secara serempak walaupu  itu harus menyebrangi badai yang sedemikian dahsyatnya. masyaAllah.. Tak akan pernah kita lupakan hal-hal sekecil apapun itu.

Setiap malamnya, kita menulis buku harian secara bersama-sama. Dan kita mendengarkan secara bersama-sama apa masalah kita, jika itu menyedihkan, memecahkan masalah yang kita tulis bersama dengan buku harian kita, atau.. Tertawa bersama-sama ketika ada hal yang lucu ataupun unik saat kita menulis harian kita. Kita tulis dari A hingga Z. kemudian kita jabarkan semua. Jika ada hal yang kurang penting, kita buang jauh-jauh ke dalam perut bumi yang paling bawah, selanjutnya kita bakar semuanya dengan api yang Allah kirimkan..
Seperti itulah kita, yang manis kita kenang, yang pahit kita jadikan pengalaman!

Apakah kau tahu, manis? Apakah itu buku harian yang aku maksud? Buku harian miliknya ukhti adalah aku. Dan milikku adalah ukhti. Kita adalah buku harian kita. Dan kita adalah buku harian yang dapat bicara.

Tahun-tahun telah berlalu, kita masih saja melewati hal yang kemarin seperti biasa dengan hal-hal yang berbeda dan menarik lainnya. Tanpa bosan kita hadapi hal-hal yang baru seperti biasa. Mencatatnya dengan ingatan semampu kita. Namun.. Semakin ke sana, kehidupan bertahap mulai berubah dengan pelan. Ada sosok ikhwan yang mendekati ukhti. Memang awalnya aku sangat tidak setuju, tapi aku melihat ukhti suka dengan kepribadian si ikhwan tersebut, aku coba menelusurinya sedetik sedetik yang kemudian menjadi menit-menit yang bergelantungan menjadi hari.
Aku tahu sekilas tentang karakter si ikhwan, ntah kenapa aku juga setuju seandainya si ikhwan tersebut berkenalan dengan ukhti secara dekat.

Yang kemarin telah berlalu. Kita dan ikhwan tersebut semakin dekat, aku memanggil si ikhwan tersebut dengan sebutan kakak. Faktor pertama karena iseng, dan faktor ke-2 karena jail. Yang kemudian menjadi kebiasaan. Mereka sering aku goda dengan berbagai tingkahku yang aneh. Aku suka jahil terhadap mereka. HAHAHA selain untuk mencari hiburan juga menjadi obat kebosananku. Bosan karena semakin kesana semakin aku tak di perhatikan oleh ukhti. HAHAHA itu perasaanku saja.

Bagiku kakak adalah sosok baru dalam harianku dan juga ukhti. Aku bahagia ketika aku dapat melihat ukhti bahagia semenjak kedatangan kakak. Aku pun ikut bahagia ketika aku sadar bahwa aku memiliki 2 buku harian. Meskipun aku mengisi 2 buku harian itu sama sih.. Tapi itu suatu kebahagiaan karena aku memiliki 2 sosok yang sangat peduli terhadapku.

Aku pernah berkata pada mereka, bahwa aku sering berfikir seperti ini 'ukhti adalah separuh hati, dan kakak adalah separuh hatinya lagi. Aku berada di antara mereka. Alangkah bahagia jika ke-2 belahan itu dapat aku jadikan satu! Dan kemdian menghasilkan 1hati yang menyatu dengan sandaran fillah. Tapi.. Tanganku adalah tangan makhluq pemberian. Dan yang berhak menyatukan itu hanya Allah.. Dan yang mengatur itu hanya Allah.'

Ukhti dan kakak semakin jauh tahap-tahap pengenalannya, 10-11 bulan berlalulah seketika dari hari kemarin menjadi sekarang. Aku rasa ukhti atau pun kakak lebih mementingkan keegoisan mereka hingga aku terlupakan. Aku semakin lama semakin merasa bahwa tak ada lagi yang menjadi buku harianku. Aku merasa banyak kertas yang kosong di harian lamaku terlewati karena kehadiran sosok kakak. Aku merasa jika semakin hari ego ku semakin mengakar dalam diri. Kemarahan pun sudah menjadi hal biasa di keseharianku. Aku merasa tak ada yang memperdulikanku lagi. Dan hari-hariku aku ukir dengan jeritan hati yang meraung-raung.

Aku memilih diam sejenak. Dan diamku ternyata telah lama yang hampir 3bulan. Tak ku fikirkan, bahwa selama aku diam, aku tak pernah mengisi catatan harianku. Dan aku tersadar bahwa 2buku harianku pergi menghilang dalam kebisinganku.

Kini aku ingin merubahnya. Mengisi buku harianku dengan berbagai kisah nyata yang menarik, dan lebih menarik tak seperti yang sebelumnya. Aku ingin kembali mengisi catatan-catatan yang kosong kemarin. Tetapi hanya satu buku harian. Yaitu buku harian lama. Ingiiiinnnn sekali. Namun aku takut jika semua telah terlambat. Dan aku takut jika aku hanya akan menggaanggu kehidupan barunya ukhti dengan kakak. Mugnkin lebih baik aku pergi meratapi semua ini. Dan mungkin lebih baik begitu.

Dan tentang kakak. Aku hanya berpesaan kepadanya, jika memang kau telah berhasil merusak ukhuwah fillah kami, aku harap sosok yang aku anggap kakak itu dapat melukis dunia bersama ukhti seperti kemarin aku dan ukhti melukis dunia dengan berbagai macam warna yang menarik.

Yang terakhir, yang tak habis aku fikirkan adalah, apakah semuanya itu UKHUWAH FILLAH?? Yang dapat memahami? Mengerti? Menghargai? Membimbing dalam kebaikan? Menuntut kebaikan???? AKU BENCI KEHADIRAN SOSOKMU, KAK!!! AKU BENCI!!! SEHARUSNYA KAMU PERGI DAN BELAJAR SENI MENGERTI DAN MEMAHAMI!!! BUKAN AKU YANG PERGI!!! AKU BENCI KAMU!!

Tidak ada komentar:

Posting Komentar