Kamis, 11 April 2013

Ketika Aku Bertanya Tentang Mujahidku


Kembali diri ini melukiskan dalam lembaran-lembaran kertas usang penuh debu karena permintaan sang hati. Dan lagi-lagi aku harus berdebat dengan hatiku sendiri. uhh..

BACALAH!! PAHAMILAH!! Begitu permintaannya memenuhi otak-otakku yang konsentrasinya memang sedang benar-benar membingungkan.
------
Perlahan dan bertahap aku mencoba memahami arti dari apa-apa yang aku baca karena desakan sebongkah pertanyaan dari sang hati. Yang mana hati itu adalah hatiku sendiri. hmm.. Sebal. Kesel. Dan yang paling utama adalah RUMIT. Begitulah kata sang hati.

"katakan padanya apa benar dia masih mencintaimu. Dan jika memang benar dia mencintaimu, mintalah bukti dari padanya untuk meyakinkanku. Agar aku memberinya ruang untuk namanya berada didalamku. Aku mohonn.." rintih hatiku dengan paksaan yang memang benar benar memaksa tanpa ada landasan yang jelas.


Semilir angin melalu-lalukan apa yang menjadi pertanyaan hatiku. Waktu itu telah berbeda lagi dengan kehadirannya menyapa kami. YA!!! AKU BILANG KEHADIRANNYA MENYAPA KAMI itu karena telah lama ia menghilang dari pandangan kami. *Kami; aku dan hatiku!!!

Berbeda~  yang terfikirkan dan terrasakan oleh aku dan hatiku ia datang dengan perbedaadn yang benar-benar SANGAT BERBEDA. Semula adalah 0⁰ masih biasa-biasa saja. dan kini berubah 360⁰. Bertolak belakang dari sebelumnya. AHHHH…

Dia datang dengan membawa angin yang memadamkan cahaya lilin dalam kegelapan kami. Cambuk yang besar ia lemparkan pada diri kami. Kata-kata halusnya yang benar-benar halus telah hilang menjadi kasar yang memang benar-benar tak bisa di maklumi oleh akal.

'Mujahidku? Dia? Ah.. Apa benar mujahidku itu adalah yang aku anggap sbg mujahidku? Hmm pikirku: mujahid yang slalu ku nanti kdatangannya. Perubah senja penuh awan hitam dan kabut tebal, menjadi senja cerah dgn tepi2 langit bermega orange penuh warna. Tapi... Aku tidak mengerti.. Apakah yang ku anggap sebagai mujahidku yg slalu ku nanti itu juga menantiku. Merindui kedatanganku, menginginkan kehadiranku? Sama halnya seperti aku yg menanti dirinya. Merindui kedatangannya, menginginkan kehadirannya.
Peff.. Wallahu'alam..' 18:21

Aku sangat ingat saat dimana aku memberikan sambaran kata itu terhadap dirinya. Ba'da maghrib setelah dia tak jua memberiku salam sapaan atau ucapan 'Maghriban dulu gihh..' :")

Bib bib.. Bib bib.. 18:27 adalah waktu dimana aku tak mempercayai dirinya membalas apa yang menjadi sindiran dariku beberapa saat tadi.

'Masya allah..
sesungguhny hanya Allah yg mengetahui.
Aku mungkin tidak terlalu menonjol dalam memperlihatkn auraku, tapi 1 yang tetapku tuju. Di mana titik itu adalah kamu.
entah itu akan kau trima dengan kata iya, atau menjadi anggpanmu saja tentang  diriku yg menurutmu mulai pudar, wallahu a'lam'

Seketika… aku  sesak dan gemetar. Sedangkan hatiku, ia malah terlihat sangat bahagia tahu tentang jawaban dari dirinya 'seperti itu'. Namun aku sendiri tak tahu… apakah benar dia menjawab sindiranku dan hatiku seperti itu benar-benar dari hatinya..

Aku menutup benda mungilku. Dan meninggalkannya, mencoba menghindar dari kemauan hatiku yang menginginkan dan mendesak aku untuk menjawab 'katanya' itu.

'Ada apa denganmu, ukh?? :o' 21:34

Pesan singkatnya kembali lagi meramaikan kami dan benda mungil yang berusaha aku hindari tadi.

"ukhti sayang sama akhi :'( :'( " jawabku yang berasal adri hatiku.

"Akhi juga, ukh. Mohon ukhti yang sabar yaa? :( "

"Iya. Tapi akhi rada-rada kasar. Jujur. ukhti takut. :'( "

"ukhti.. akhi mungkin kelihatan gitu gara2 tadi malam. Abis itu udah enggak, maaf. Tahu kan ukh kalau akhi udah emosi gimana? Maaf ya :( "

Aahh.. Aku lelah. Mungkin cukup sampai disitu aku tahu apa yang menjadi ungkapannya. Aku memilih benar-benar menyudahi pembicaraanku dan dirinya. Untuk menghindari sesuatu yang tak aku inginkan.

Selamat malam dunia.. Selamat malam hatiku.. Selamat tidur.. Semoga sepertiga malam nanti kita terbangun dengan jiwa dan ruh saling tersenyum bahagia..

Salatiga, Maret 2013

Tidak ada komentar:

Posting Komentar