Kembali diri ini
melukiskan dalam lembaran-lembaran kertas usang penuh debu karena permintaan
sang hati. Dan lagi-lagi aku harus berdebat dengan hatiku sendiri. uhh..
BACALAH!!
PAHAMILAH!! Begitu permintaannya memenuhi otak-otakku yang konsentrasinya
memang sedang benar-benar membingungkan.
------
Perlahan dan
bertahap aku mencoba memahami arti dari apa-apa yang aku baca karena desakan
sebongkah pertanyaan dari sang hati. Yang mana hati itu adalah hatiku sendiri.
hmm.. Sebal. Kesel. Dan yang paling utama adalah RUMIT. Begitulah kata sang
hati.
"katakan
padanya apa benar dia masih mencintaimu. Dan jika memang benar dia mencintaimu,
mintalah bukti dari padanya untuk meyakinkanku. Agar aku memberinya ruang untuk
namanya berada didalamku. Aku mohonn.." rintih hatiku dengan paksaan yang
memang benar benar memaksa tanpa ada landasan yang jelas.
Semilir angin
melalu-lalukan apa yang menjadi pertanyaan hatiku. Waktu itu telah berbeda lagi
dengan kehadirannya menyapa kami. YA!!! AKU BILANG KEHADIRANNYA MENYAPA KAMI
itu karena telah lama ia menghilang dari pandangan kami. *Kami; aku dan
hatiku!!!
Berbeda~ yang terfikirkan dan terrasakan oleh aku dan
hatiku ia datang dengan perbedaadn yang benar-benar SANGAT BERBEDA. Semula
adalah 0⁰ masih biasa-biasa saja. dan kini berubah 360⁰. Bertolak belakang dari
sebelumnya. AHHHH…
Dia datang dengan
membawa angin yang memadamkan cahaya lilin dalam kegelapan kami. Cambuk yang
besar ia lemparkan pada diri kami. Kata-kata halusnya yang benar-benar halus
telah hilang menjadi kasar yang memang benar-benar tak bisa di maklumi oleh
akal.
'Mujahidku? Dia?
Ah.. Apa benar mujahidku itu adalah yang aku anggap sbg mujahidku? Hmm pikirku:
mujahid yang slalu ku nanti kdatangannya. Perubah senja penuh awan hitam dan
kabut tebal, menjadi senja cerah dgn tepi2 langit bermega orange penuh warna.
Tapi... Aku tidak mengerti.. Apakah yang ku anggap sebagai mujahidku yg slalu
ku nanti itu juga menantiku. Merindui kedatanganku, menginginkan kehadiranku?
Sama halnya seperti aku yg menanti dirinya. Merindui kedatangannya,
menginginkan kehadirannya.
Peff..
Wallahu'alam..' 18:21
Aku sangat ingat
saat dimana aku memberikan sambaran kata itu terhadap dirinya. Ba'da maghrib
setelah dia tak jua memberiku salam sapaan atau ucapan 'Maghriban dulu gihh..'
:")
Bib bib.. Bib bib..
18:27 adalah waktu dimana aku tak mempercayai dirinya membalas apa yang menjadi
sindiran dariku beberapa saat tadi.
'Masya allah..
sesungguhny hanya
Allah yg mengetahui.
Aku mungkin tidak
terlalu menonjol dalam memperlihatkn auraku, tapi 1 yang tetapku tuju. Di mana
titik itu adalah kamu.
entah itu akan kau
trima dengan kata iya, atau menjadi anggpanmu saja tentang diriku yg menurutmu mulai pudar, wallahu
a'lam'
Seketika… aku sesak dan gemetar. Sedangkan hatiku, ia malah
terlihat sangat bahagia tahu tentang jawaban dari dirinya 'seperti itu'. Namun
aku sendiri tak tahu… apakah benar dia menjawab sindiranku dan hatiku seperti
itu benar-benar dari hatinya..
Aku menutup benda
mungilku. Dan meninggalkannya, mencoba menghindar dari kemauan hatiku yang
menginginkan dan mendesak aku untuk menjawab 'katanya' itu.
'Ada apa denganmu,
ukh?? :o' 21:34
Pesan singkatnya
kembali lagi meramaikan kami dan benda mungil yang berusaha aku hindari tadi.
"ukhti sayang
sama akhi :'( :'( " jawabku yang berasal adri hatiku.
"Akhi juga,
ukh. Mohon ukhti yang sabar yaa? :( "
"Iya. Tapi akhi
rada-rada kasar. Jujur. ukhti takut. :'( "
"ukhti.. akhi
mungkin kelihatan gitu gara2 tadi malam. Abis itu udah enggak, maaf. Tahu kan
ukh kalau akhi udah emosi gimana? Maaf ya :( "
Aahh.. Aku lelah.
Mungkin cukup sampai disitu aku tahu apa yang menjadi ungkapannya. Aku memilih
benar-benar menyudahi pembicaraanku dan dirinya. Untuk menghindari sesuatu yang
tak aku inginkan.
Selamat malam
dunia.. Selamat malam hatiku.. Selamat tidur.. Semoga sepertiga malam nanti
kita terbangun dengan jiwa dan ruh saling tersenyum bahagia..
Salatiga,
Maret 2013
Tidak ada komentar:
Posting Komentar