Rabu, 17 April 2013

manakah diantaranya?


"….kalau engkau dicintai orang dan mencintai, senanglah hatimu! Tandanya hidupmu telah berharga, tandanya engkau telah masuk daftar anak bumi yang terpilih. Tuhan telah memperlihatkan belas kasihanNya kepadamu lantaran pengaduan hati sesama makhluk. Dua jiwa di sebrang  masyrik dan maghrib telah terkungkung dibawa satu perasaan di dalam lindungan Tuhan…." (Al Anisah Mai)

Kata itu. Kalimat itu. Benarlah. Ia yang membuat aku dilema oleh permasalahan yang terpampang jelas pada pelupuk mataku. 'engkau dicintai orang dan mencintai'. Kata itu. Serasa aku tengah berada dalam ambang pintu yang nyata.

Masih terputar 2 ungkapan dari 2 orang yang berbeda..


"ukhty.. Aku mencintaimu dari hati, bukan dari nafsu"

Hati yang menjawab dan lisan tetap membisu. Pikiran mulai mengelabuhi. Sangat di pertanyakan. Apa-apa yang dari hati akan sulit terungkapkan. Tapi mengapa begitu mudah ia mengungkapkan?? Ini sangat membingungkan. Bukan lagi membingungkan. Tapi meresahkan.

"I love you because Allah"

Ahh.. Benarkah?? Benarkah karena Allah. Karena Allah kenapa kau sebutkan dan kau ungkapkan padaku? Ada waktunya ketika kau benar-benar mencintaiku karenaNya.

"kau wanita paling mengerti untukku"

Apa benar jika itu berasal dari hatimu? Bagaimana dengan ibumu? Yang melahirkanmu? Yang mendidikmu sewaktu kau masih kecil? Bagaimana dengan saudara-saudara perempuanmu? Apa dia tak mengertikanmu? Padahal dia rela cintanya dari ibumu terbagi oleh kehadiaran sosok dirimu.


Apa benar itu merupakan suatu keberuntungan? Apa benar, tandanya aku sangat berharga? Bukankah itu belum termasuk dalam ungkapan hati nurani? Atas dasar apa ia berani mengungkapkan hal itu?? Duhai Allah..

***

"sesungguhnya.. Ana suka pada anti"

Suka?? Ah.. Itu masih biasa. Aku juga meyukaimu, dan juga saudara-saudaraku. Tapi jangan kau tunjukkan aura yang berlebihan kepadaku karena rasa suka. :)

"...Aku yang akan menjadikanmu bidadari…."

Aahh.. Apa lagi kata itu? Sebuah ungkapan dari hati? Iya? Bukankah jika dari hati cukup di ukir dalam do'a dan pasrahkan semua pada Allah hingga tiba saatnya kau memetik ketentuanNya. Itu pun jika Allah meridhainya.

***
Keduanya memiliki persamaan yang mudah di tebak. Kerena dunia.

Begitu mudah dalam mengungkapkan perasaan tanpa pikir panjang apa yang akan terjadi selanjutnya.

Ketika aku terlepas cabang dari A, dan mencoba untuk berhijrah menyerahkan semua hati ini pada yang maha pemberi hati.. Begitu cepat cabang A yang lain muncul dengan membawa penghalang hijrahku kepadaNya.

Aku mulai gelisah. Sungguh. Apa yang membuat mereka sebegitunya terhadapku. Ketika hendak aku menyudahi kesesatan cinta pada dunia fana ini. Padahal aku ingin yang haqiqi dan suci.

"pertaubatanku, hati ini haruslah kokohkan niat untuk bertaubat"
Pernyataanku saat aku ingin menyudahi bahwa semua ini telah menyadarkanku jikalau aku salah. Benar. Aku salah. Aku pencuri. Aku pencuri iman mereka. Bukan lagi pencuri. Aku ini perampok.

Andai dulu aku tak membalas sapaan dari kedua cabang dari A itu, aku yaqin semua ini tak akan terjadi.

Aku semakin takut iman dan taqwa mereka yang runtuh karena serbuan balasan sapaanku terhadapnya. Ini salahku. Dan aku harus memilih antara yang benar dan yang meragukan. Apakah A harus aku hentikan, ataukah B yang harus aku lakoni.

Aku pemeran yang hebat. Berani melawan terhadap ketentuan syariat. Berani merampok iman dan taqwa kedua insan itu..

***

Menetap?? Atau memilih untuk berhijrah??

Kini…. Hmm.. Uhh… entahlah.
Yang terjadi sekarang ini mungkin hanya kebimbangan atau pun keraguan dalam memilih. antara A dan B memiliki senyawa sama(senyawa jalan cinta). namun berwarna berbeda. tapi bagaimana dengan elektron2nya?? entahlah, aku tak mengerti. semakin d telusuri untuk mencari kebenarannya, elektron itu mulai berreaksi membentuk suatu kesatuan yang membingungkan dan rumit. sulit. iya. akan teramat sulit jika untuk mengambil apa kesimpulan dari seluruhnya.

*terlalu lama untuk memberikan pernyataan dari keseluruhannya, malah terlaru larut pada kebingung dalam mengambil keputusan. wallahu'alam

Oleh: Humaida Fatwati El Muhtasib

Tidak ada komentar:

Posting Komentar