Artikel www.muslim.or.id
Penyusun: Muhammad Nur Ichwan Muslim
---
---
Di antara tanda hati
yang sakit adalah hamba sulit untuk
merealisasikan tujuan penciptaan dirinya, yaitu untuk mengenal Allah,
mencintai-Nya, rindu untuk bertemu dengan-Nya, kembali kepada-Nya dan
memprioritaskan seluruh hal tersebut daripada seluruh syahwatnya. Akhirnya,
hamba yang sakit hatinya lebih mendahulukan syahwat daripada menaati dan mencintai
Allah sebagaimana yang difirmankan Allah ‘azza wa jalla,
أَرَأَيْتَ مَنِ اتَّخَذَ
إِلَهَهُ هَوَاهُ أَفَأَنْتَ تَكُونُ عَلَيْهِ وَكِيلاً
Terangkanlah kepadaku tentang orang yang menjadikan
hawa nafsunya sebagai tuhannya. Maka apakah kamu dapat menjadi pemelihara
atasnya? (QS. Al Furqan: 43).
Beberapa ulama salaf
menafsirkan ayat ini dengan mengatakan,
هو الذي كلما هوى شيئا ركبه . فيحيا
في هذه الحياة الدنيا حياة البهائم لا يعرف ربه عز وجل
ولا يعبده بأمره ونهيه كما قال تعالى :
( يَتَمَتَّعُونَ وَيَأْكُلُونَ كَمَا تَأْكُلُ
الْأَنْعَامُ وَالنَّارُ مَثْوىً لَهُمْ)(محمد: من الآية12)
“Orang yang dimaksud
dalam ayat tersebut adalah dia yang senantiasa menunggangi hawa nafsunya,
sehingga kehidupan yang dijalaninya di dunia ini layaknya kehidupan binatang
ternak, tidak mengenal Rabb-nya ‘azza wa jalla, tidak beribadah kepada-Nya
dengan melaksanakan perintah-Nya dan menjauhi larangan-Nya, persis seperti
firman Allah ta’ala (yang artinya), ‘Dan
orang-orang kafir bersenang-senang (di dunia) dan mereka makan seperti makannya
binatang. Dan jahannam adalah tempat tinggal mereka’ (QS. Muhammad:
12).”
Pada akhirnya,
balasan sesuai dengan perbuatan, sebagaimana di dunia dia tidak menjalani
kehidupan yang dicintai dan diridhai Allah ‘azza wa jalla, dia menikmati
seluruhnya dan hidup menggunakan nikmat Allah untuk bermaksiat kepada-Nya, maka
demikian pula di akhirat kelak, dia akan menjalani kehidupan yang tiada
kebahagiaan di dalamnya, dirinya tidak akan mati sehingga terbebas dari adzab
yang menyakitkan. Dia tidak mati, tidakpula hidup,
يَتَجَرَّعُهُ وَلا يَكَادُ
يُسِيغُهُ وَيَأْتِيهِ الْمَوْتُ مِنْ كُلِّ مَكَانٍ وَمَا هُوَ بِمَيِّتٍ وَمِنْ
وَرَائِهِ عَذَابٌ غَلِيظٌ
“Diminumnya air nanah itu dan hampir dia tidak bisa
menelannya dan datanglah (bahaya) maut kepadanya dari segenap penjuru, tetapi
dia tidak juga mati, dan dihadapannya masih ada azab yang berat” (QS.
Ibrahim: 17).
Diantara tanda hati yang sakit adalah pemiliknya tidak merasa
terluka akibat tindakan-tindakan kemaksiatan sebagaimana kata pepatah ‘وما لجرح
بميت إيلام’, tidaklah menyakiti, luka yang ada pada
mayat. Hati yang sehat akan
merasa sakit dan terluka dengan kemaksiatan, sehingga hal ini melahirkan taubat
dan inabah kepada Rabb-nya ‘azza wa jalla. Hal ini sebagaimana firman Allah
ta’ala,
إِنَّ الَّذِينَ اتَّقَوْا
إِذَا مَسَّهُمْ طَائِفٌ مِنَ الشَّيْطَانِ تَذَكَّرُوا فَإِذَا هُمْ مُبْصِرُونَ
“Sesungguhnya orang-orang yang bertakwa bila mereka
ditimpa was-was dari syaitan, mereka ingat kepada Allah, maka ketika itu juga
mereka melihat kesalahan-kesalahannya” (QS. Al A’raaf: 201).
Allah berfirman
ketika menyebutkan karakter orang beriman,
“Dan (juga) orang-orang yang apabila mengerjakan
perbuatan keji atau menganiaya diri sendiri, mereka ingat akan Allah, lalu
memohon ampun terhadap dosa-dosa mereka dan siapa lagi yang dapat mengampuni
dosa selain dari pada Allah? Dan mereka tidak meneruskan perbuatan kejinya itu,
sedang mereka mengetahui” (QS. Ali Imran: 135).
Maksudnya adalah
ketika mereka bermaksiat, mereka mengingat Allah ‘azza wa jalla, ancaman dan
siksa yang disediakan oleh-Nya bagi pelaku kemaksiatan, sehingga hal ini
mendorong mereka untuk beristighfar kepada-Nya.
Penyakit hati justru
menyebabkan terjadinya kontinuitas keburukan seperti yang dikemukakan oleh
al-Hasan ketika menafsirkan firman Allah,
كلا بل ران على قلوبهم ما
كانوا يكسبون
“Sekali-kali tidak (demikian), sebenarnya apa yang
selalu mereka usahakan itu menutupi hati mereka” (QS. Al Muthaffifin:
14).
Beliau mengatakan,
هو الذنب على الذنب حتى يعمى
القلب أما سليم القلب فيتبع السيئة الحسنة والذنب التوبة
“Hal itu (rahn) adalah dosa di atas dosa yang
membutakan hati. Adapun hati yang salim justru akan melahirkan perbuatan yang
baik setelah dulunya berbuat buruk, melahirkan taubat setelah dulunya berbuat
dosa.”
Di antara tanda
penyakit hati adalah pemiliknya tidak
merasa risih dengan kebodohannya terhadap kebenaran. Hati yang salim
akan merasa resah jika muncul syubhat di hadapannya, merasa sakit dengan
kebodohan terhadap kebenaran dan ketidaktahuan terhadap berbagai keyakinan yang
menyimpang. Kebodohan merupakan musibah terbesar, sehingga seorang yang
memiliki kehidupan di dalam hati akan merasa sakit jika kebodohan bersemayam di
dalam hatinya. Sebagian ulama mengatakan,
ما عصى الله بذنب أقبح من
الجهل ؟
“Adakah dosa kemaksiatan kepada Allah yang lebih
buruk daripada kebodohan?”
Imam Sahl pernah
ditanya,
يا أبا محمد أي شيء أقبح من
الجهل؟ قال ” الجهل بالجهل ” ،قيل : صدق لأنه يسد باب العلم بالكلية
“Wahai Abu Muhammad,
adakah sesuatu yang lebih buruk daripada kebodohan? Dia menjawab, “Bodoh
terhadap kebodohan.” Kemudian ada yang berkata, “Dia benar, karena hal itu akan
menutup pintu ilmusama
sekali.”
Ada penyair yang
berkata,
وفي الجهل قبل الموت موت لأهله وأجسامهم
قبل القبور قبور
وأرواحهم في وحشةٍ من جسومهم وليس لهم
حتى النشور نشور
Kebodohan adalah
kematian sebelum pemiliknya mati,
tubuh mereka
layaknya kuburan sebelum dikuburkan
Kepada tubuh yang
semula, ruh mereka ingin kembali,
padahal bagi mereka,
tidak ada kebangkitan hingga hari kebangkitan
Di antara tanda
penyakit hati adalah pemiliknya berpaling
dari nutrisi hati yang bermanfaat dan justru beralih kepada racun yang
mematikan, sebagaimana tindakan mayoritas manusia yang berpaling dari
al-Quran yang dinyatakan Allah sebagai obat dan rahmat dalam firman-Nya,
وننزل من القرآن ما هو شفاء ورحمة للمؤمنين
“Dan Kami turunkan dari Al Qur’an suatu yang menjadi
penawar dan rahmat bagi orang-orang yang beriman…” (QS. Al Isra:
82).
Mereka justru
berpaling mendengarkan lagu yang menumbuhkan kemunafikan dalam hati,
menggerakkan syahwat dan mengandung kekufuran kepada Allah ‘azza wa jalla. Pada
kondisi ini, hamba mendahulukan kemaksiatan karena kecintaannya kepada sesuatu
yang dimurkai oleh Allah dan rasul-Nya. Dengan demikian, mendahulukan
kemaksiatan merupakan buah dari penyakit hati dan akan menambah akut penyakit
tersebut. Sebaliknya, hati yang sehat justru akan mencintai apa yang dicintai
Allah dan rasul-Nya sebagaimana firman-Nya,
وَلَكِنَّ اللَّهَ حَبَّبَ
إِلَيْكُمُ الْأِيمَانَ وَزَيَّنَهُ فِي قُلُوبِكُمْ وَكَرَّهَ إِلَيْكُمُ
الْكُفْرَ وَالْفُسُوقَ وَالْعِصْيَانَ أُولَئِكَ هُمُ الرَّاشِدُونَ
“Tetapi Allah menjadikan kamu ‘cinta’ kepada keimanan
dan menjadikan keimanan itu indah di dalam hatimu serta menjadikan kamu benci
kepada kekafiran, kefasikan, dan kedurhakaan. Mereka itulah orang-orang yang
mengikuti jalan yang lurus” (QS. Al Hujuraat: 7).
Rasulullah
shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
ذَاقَ طَعْمَ الْإِيمَانِ
مَنْ رَضِيَ بِاللهِ رَبًّا، وَبِالْإِسْلَامِ دِينًا، وَبِمُحَمَّدٍ رَسُولًا
“Orang yang ridhal Allah sebagai Rabb, Islam sebagai
agama dan Muhammad sebagai rasul, niscaya akan merasakan kelezatan iman.” (
HR. Muslim ).
Beliau shallallahu
‘alaihi wa sallam juga bersabda,
لاَ يُؤْمِنُ أَحَدُكُمْ،
حَتَّى أَكُونَ أَحَبَّ إِلَيْهِ مِنْ وَالِدِهِ وَوَلَدِهِ وَالنَّاسِ
أَجْمَعِينَ
“Tidak beriman salah seorang diantara kalian, hingga
diriku lebih dicintainya daripada orangtuanya, anaknya dan seluruh manusia.” (HR.
Bukhari dan Muslim).
Diantara tanda
penyakit hati, pemiliknya condong kepada
kehidupan dunia, merasa enjoy dan tenteram dengannya, tidak merasa bahwa
sebenarnya dia adalah pengembara di kehidupan dunia, tidak mengharapkan
kehidupan akhirat dan tidak berusaha mempersiapkan bekal untuk kehidupannya
kelak disana.
Setiap kali hati
sembuh dari penyakitnya, dia akan beranjak untuk condong kepada kehidupan
akhirat, sehingga keadaannya persis seperti apa yang disabdakan nabi
shallallahu ‘alaihi wa sallam,
كن في الدنيا كأنك غريب أو
عابر سبيل
“Hiduplah di dunia ini seakan-akan engkau orang asing
atau orang yang sekedar menumpang lewat” ( HR. Bukhari).
Wallahul muwaffiq.
Dikutip dari al-Bahr ar-Raiq karya Syaikh Ahmad Farid
Tidak ada komentar:
Posting Komentar