Pernah,
begitu mencintai namun di tinggalkan? Pernah, begitu menyayangi namun di
tinggal pergi? Pernah, begitu menggenggam namun terlepas? Pernah, begitu sangat
memiliki namun pada akhirnya kamu kehilangan? Bukan. Ini bukan tentang patah hati
karena di hianati. Atau depresi karena di tinggal pergi. Dan bukan… ini bukan
tentang kamu diberikan janji kemudian kamu di bohongi. Namun ini tentang takdir
yang memintamu dan sosok yang kamu sayangi harus terpisah oleh suatu hal yang
memang sudah menjadi kehendak Tuhan.
Nah,
Sudahkah kalian? Sudahkah kalian pernah merasakan apa yang pernah saya rasakan
itu?
Ini
tentang kisah saya yang menyayangi namun di tinggal pergi. saya berjanji akan
bercerita. Mengapa saya begitu sangat bersedih karena kepergian sosok itu. Saya
berjanji akan bercerita mengapa saya sangat kehilangan oleh sosok yang saya
maksudkan ini. ini sajak tentang kehilangan. Jadi tolong kepada kalian yang
tengah membaca tulisan saya ini, duduklah sebentar, biarkan saya bercerita,
kemudian kalian boleh pergi dari tulisan yang saya tulis ini.
***
Dia
sosok yang manis, lucu, lugu, menyenangkan, menggemaskan, menyebalkan, dan kamu
yang dekat dengannya pasti tak akan sanggup jauh darinya berlama-lama. Seperti
halnya aku yang memilikinya. Aku tak dapat jauh darinya. Aku selalu
merindukannya ketika aku berada jauh darinya. Dia milikku. Aku menyayanginya.
Dia
milikku, dan aku menyayanginya.
Aku
ingat 5 desember 2013 lalu dia datang kepadaku. Aku mendapati dirinya dari
kakakku, kakak pertamaku. Aku mengenalnya. Kupeluk dirinya, kubelai dia, dan
pertama kalinya saat aku memeluknya, itu adalah kali pertama aku dan dia mulai
mengikat sebuah kedekatan yang akan mengubah aku dan dia menjadi KAMI.
Dia
menggemaskan. Dia milikku, dan aku menyayanginya.
Dia
masih kecil sekali. Tak sebesar tanganku. Dia seekor bayi kucing yang
menggemaskan. Ah, lucu sekali, bulunya yang hitam mulus di bagian atas, dan
berpadu dengan warna putih di bagian bawah. Aku beri saja nama dia BLENTONG.
Aku menyukainya. Aku yaqin dia menyukaiku pula. Lalu, kami bersahabat. Kami
berteman akrab.
Dia
menyenangkan. Dia milikku, dan aku menyanginya.
Ketika
semesta tengah melukiskan kisah sedihku, dirinya datang, menghiburku, dengan
caranya sendiri tentunya. Aku selalu suka. Aku menyayanginya.
Dia
menyebalkan, tapi dia milikku, dan aku menyayanginya.
Pernah
suatu ketika aku akan memandikan dia di belakang rumah, dia marah karena
kesalahanku, memberinya air dingin, kakiku di cakar dia. berdarah. Aku sebal
padanya. Tapi aku menyayanginya. Dia lari dariku. Sampai beberapa hari dia tak
mau lagi aku gendong dan bermain padaku. Tapi sudah kubilang aku menyayanginya.
Dan dia menyayangiku pula. Aku tahu persis hal itu, terlihat dari cara dia tak
betah berlama lama menyuekiku. Dia kembali kepelukanku.
Dia
menyebalkan..
Ketika
lebaran kemarin sohibku datang kerumahku, sohibku yang sering menannyakan
keberadaannya namun sangat takut ketika bertemu dengan dirinya, dia malah jahil
dan nakal, berlari mendatangi temanku, dengan cepat temanku lari keatas kursi
dan merengek ketakutan. Aku menggendongnya. Tertawa geli dengan kelakuan
dirinya membuat sohibku ketakutan seperti itu
Dia
sangat rewel. Tapi dia milikku, dan aku menyayanginya.
Entah
pada bulan keberapa dia bersamaku, tapi kebiasaannya mengeyong yang terkadang
aku artikan sebagai kode dia sedang kelaparan sering kali malah ketika makanan
untuknya sudah tersedia, ia malah tak mau makan. Oh, rupanya dia sedang
kesakitan. Ibuku, biadanya yang sangat perhatian dengannya, membuatkannya susu
madu. Dia menyukainya. Dia kembali sehat seperti semula.
Dia
penemanku yang tengah kesepian. Dan dia milikku, aku menyayanginya.
Pada
malam yang sepi, aku kedinginan. Entah pada saat itu pukul berapa malam, namun
aku ingat, malam itu sudah terlalu larut. Aku terbangun dari mimpiku yang
sangat buruk. Dia mengeyong. Datang kepadaku. Kemudian dia tidur dia bawah
kakiku. Sudah berapa kali aku bilang? Aku menyayanginya.
Aku
merindukannya, dia yang milikku, aku yang menyayanginya, dan dia yang
menyayangiku pula. Dia sakit, bulan agustus ini, entah sejak kapan dia sakit,
aku lupa. Tapi dia tak mau makan. Dia tak mau masuk rumah. Saat itu aku sangat
sibuk. Aku bahkan sedikit tak peduli dengan dirinya. Bukan berarti aku tak
menyayanginya lagi. aku tetap menyayanginya. Tapi aku sudah kelas 3. waktuku
untuk bersama dengan dirinya berkurang. Dia sakit. Tapi aku bingung bagaimana
cara merawatnya. Ibuku seperti biasa membuatkannya susu dengan madu. Dia tak
mau meminumnya. Aku tidak tahu. Kenapa dia. sakit apa dia.
Dan pada
suatu hari, mungkin satu minggu yang lalu atau beberapa hari yang lalu entah
hari apa aku lupa. Dia datang kepadaku. Mengikutiku. Dia mendatangiku ke kamar.
Dia berputar putar di kakiku. Tapi aku hendak berangkat ke sekolah. Aku tidak
mengerti. Aku sebal dengannya. Dia pergi. Aku pergi. Beberapa hari kemudian
setelah kejadian itu, benarlah dia pergi. Sampai saat itu pula aku tak pernah
melihatnya lagi.
Kemarin,
ibuku baru saja pulang dari Palembang. Kakak pertamaku bilang kepada ibuku,
memberitahukan bahwa kucingnya mati beberapa hari yang lalu. Aku baru saja
bangun tidur. Tapi aku mendengar dengan jelas apa yang dikatakan oleh kakak
pertamaku. Aku tak salah mendengar. Tangisku pecah. Tak peduli ada siapa saja
aku menangis sejadinya. Saudara-saudaraku yang mengetahui akan hal itu pun
angkat bicara. Ketika Blentong bermaon, Blentong di tabrak orang yang tak
bertanggung jawab. Nyawa blentong tak bisa di selamatkan. Dia pergi.
Benar-benar pergi. Aku tak kuasa menahan tangisanku. Menyedihkan sekali. Ini
semua salahku. aku tak dapat menjaganya dengan benat.
Aku
kehilangan sosoknya. Aku kehilangan Blentong bukan hanya sehari saja. atau
seminggu. Namun ini untuk seamanya. Aku tak akan melihatnya lagi. dia pergi
dariku. Tak akan pernah kembali pada pelukanku lagi. aku kehilangan dia, untuk
s-e-l-a-m-a-n-y-a.
Kehilangannya
menyadarkanku akan beberapa hal. Dia yang milikku, rupanya tak pernah menjadi
milikku. Dia yang kugenggam, nyatanya tak pernah kugenggam. Dia milikNya. Dia
berada pada kuasaNya. Dia hanya titipan yang diberikan olehNya kepadaku saja.
Dia hanya menjadi titipan untukku. Dan aku, tak bisa menjaga titipan itu dengan
benar.
Ketahuilah
blentong… disini aku merindukanmu. Aku rindu kamu yang tidur di bawah kakiku.
Aku rindu kamu yang bermain denganku. Aku rindu dengan kamu yang ketika
kupanggil, kau akan berlari dan mengeong kearahku, mendatangiku, mengajakiku
bercanda dan bermain lagi secara bersama. Tidak lagi sekarang. Tidak lagi aku
dapat bermain main lagi bersamamu. Kita sudah berbeda dunia. Tapi, aku masih
menyayangimu.
Blen,
disini banyak sekali yang menengkan aku agar tak menangisi kepergianmu, mereka
banyak yang bilang akan ada lagi pengganti dirimu. Tapi semudah itukah mereka
bilang begitu? Saat ini saja aku tidak tahu bagaimana cara aku untuk menghapus
kesedian akan kepergianmu. Apalagi mencari penggantimu. Apa ada yang sama
seperti dirimu? Menyenangkan seperti kamu? Entah. Aku lelah..
Blen,
aku bertanya tanya dengan apalagi aku mengenangmu kecuali dengan tulisan
sederhana ini, Blen? Dan dengan kenangan permainan yang sering kita mainkan?
Ada hal yang ingin kusampaikan. Kepadamu yang begitu kurindukan. Aku
mencintaimu. Aku menyayangimu, Blentong..
Tertanda, aku yang menyayangimu
dan sangat merindukanmu,
Maeda
14 Agustus 2014