Kamis, 14 Agustus 2014

Mengenai Kehilangan


Pernah, begitu mencintai namun di tinggalkan? Pernah, begitu menyayangi namun di tinggal pergi? Pernah, begitu menggenggam namun terlepas? Pernah, begitu sangat memiliki namun pada akhirnya kamu kehilangan? Bukan. Ini bukan tentang patah hati karena di hianati. Atau depresi karena di tinggal pergi. Dan bukan… ini bukan tentang kamu diberikan janji kemudian kamu di bohongi. Namun ini tentang takdir yang memintamu dan sosok yang kamu sayangi harus terpisah oleh suatu hal yang memang sudah menjadi kehendak Tuhan.

Nah, Sudahkah kalian? Sudahkah kalian pernah merasakan apa yang pernah saya rasakan itu?

Ini tentang kisah saya yang menyayangi namun di tinggal pergi. saya berjanji akan bercerita. Mengapa saya begitu sangat bersedih karena kepergian sosok itu. Saya berjanji akan bercerita mengapa saya sangat kehilangan oleh sosok yang saya maksudkan ini. ini sajak tentang kehilangan. Jadi tolong kepada kalian yang tengah membaca tulisan saya ini, duduklah sebentar, biarkan saya bercerita, kemudian kalian boleh pergi dari tulisan yang saya tulis ini.

***

Dia sosok yang manis, lucu, lugu, menyenangkan, menggemaskan, menyebalkan, dan kamu yang dekat dengannya pasti tak akan sanggup jauh darinya berlama-lama. Seperti halnya aku yang memilikinya. Aku tak dapat jauh darinya. Aku selalu merindukannya ketika aku berada jauh darinya. Dia milikku. Aku menyayanginya.

Dia milikku, dan aku menyayanginya.
Aku ingat 5 desember 2013 lalu dia datang kepadaku. Aku mendapati dirinya dari kakakku, kakak pertamaku. Aku mengenalnya. Kupeluk dirinya, kubelai dia, dan pertama kalinya saat aku memeluknya, itu adalah kali pertama aku dan dia mulai mengikat sebuah kedekatan yang akan mengubah aku dan dia menjadi KAMI.

Dia menggemaskan. Dia milikku, dan aku menyayanginya.
Dia masih kecil sekali. Tak sebesar tanganku. Dia seekor bayi kucing yang menggemaskan. Ah, lucu sekali, bulunya yang hitam mulus di bagian atas, dan berpadu dengan warna putih di bagian bawah. Aku beri saja nama dia BLENTONG. Aku menyukainya. Aku yaqin dia menyukaiku pula. Lalu, kami bersahabat. Kami berteman akrab.

Dia menyenangkan. Dia milikku, dan aku menyanginya.
Ketika semesta tengah melukiskan kisah sedihku, dirinya datang, menghiburku, dengan caranya sendiri tentunya. Aku selalu suka. Aku menyayanginya.

Dia menyebalkan, tapi dia milikku, dan aku menyayanginya.
Pernah suatu ketika aku akan memandikan dia di belakang rumah, dia marah karena kesalahanku, memberinya air dingin, kakiku di cakar dia. berdarah. Aku sebal padanya. Tapi aku menyayanginya. Dia lari dariku. Sampai beberapa hari dia tak mau lagi aku gendong dan bermain padaku. Tapi sudah kubilang aku menyayanginya. Dan dia menyayangiku pula. Aku tahu persis hal itu, terlihat dari cara dia tak betah berlama lama menyuekiku. Dia kembali kepelukanku.

Dia menyebalkan..
Ketika lebaran kemarin sohibku datang kerumahku, sohibku yang sering menannyakan keberadaannya namun sangat takut ketika bertemu dengan dirinya, dia malah jahil dan nakal, berlari mendatangi temanku, dengan cepat temanku lari keatas kursi dan merengek ketakutan. Aku menggendongnya. Tertawa geli dengan kelakuan dirinya membuat sohibku ketakutan seperti itu

Dia sangat rewel. Tapi dia milikku, dan aku menyayanginya.
Entah pada bulan keberapa dia bersamaku, tapi kebiasaannya mengeyong yang terkadang aku artikan sebagai kode dia sedang kelaparan sering kali malah ketika makanan untuknya sudah tersedia, ia malah tak mau makan. Oh, rupanya dia sedang kesakitan. Ibuku, biadanya yang sangat perhatian dengannya, membuatkannya susu madu. Dia menyukainya. Dia kembali sehat seperti semula.

Dia penemanku yang tengah kesepian. Dan dia milikku, aku menyayanginya.
Pada malam yang sepi, aku kedinginan. Entah pada saat itu pukul berapa malam, namun aku ingat, malam itu sudah terlalu larut. Aku terbangun dari mimpiku yang sangat buruk. Dia mengeyong. Datang kepadaku. Kemudian dia tidur dia bawah kakiku. Sudah berapa kali aku bilang? Aku menyayanginya.

Aku merindukannya, dia yang milikku, aku yang menyayanginya, dan dia yang menyayangiku pula. Dia sakit, bulan agustus ini, entah sejak kapan dia sakit, aku lupa. Tapi dia tak mau makan. Dia tak mau masuk rumah. Saat itu aku sangat sibuk. Aku bahkan sedikit tak peduli dengan dirinya. Bukan berarti aku tak menyayanginya lagi. aku tetap menyayanginya. Tapi aku sudah kelas 3. waktuku untuk bersama dengan dirinya berkurang. Dia sakit. Tapi aku bingung bagaimana cara merawatnya. Ibuku seperti biasa membuatkannya susu dengan madu. Dia tak mau meminumnya. Aku tidak tahu. Kenapa dia. sakit apa dia.

Dan pada suatu hari, mungkin satu minggu yang lalu atau beberapa hari yang lalu entah hari apa aku lupa. Dia datang kepadaku. Mengikutiku. Dia mendatangiku ke kamar. Dia berputar putar di kakiku. Tapi aku hendak berangkat ke sekolah. Aku tidak mengerti. Aku sebal dengannya. Dia pergi. Aku pergi. Beberapa hari kemudian setelah kejadian itu, benarlah dia pergi. Sampai saat itu pula aku tak pernah melihatnya lagi.

Kemarin, ibuku baru saja pulang dari Palembang. Kakak pertamaku bilang kepada ibuku, memberitahukan bahwa kucingnya mati beberapa hari yang lalu. Aku baru saja bangun tidur. Tapi aku mendengar dengan jelas apa yang dikatakan oleh kakak pertamaku. Aku tak salah mendengar. Tangisku pecah. Tak peduli ada siapa saja aku menangis sejadinya. Saudara-saudaraku yang mengetahui akan hal itu pun angkat bicara. Ketika Blentong bermaon, Blentong di tabrak orang yang tak bertanggung jawab. Nyawa blentong tak bisa di selamatkan. Dia pergi. Benar-benar pergi. Aku tak kuasa menahan tangisanku. Menyedihkan sekali. Ini semua salahku. aku tak dapat menjaganya dengan benat.

Aku kehilangan sosoknya. Aku kehilangan Blentong bukan hanya sehari saja. atau seminggu. Namun ini untuk seamanya. Aku tak akan melihatnya lagi. dia pergi dariku. Tak akan pernah kembali pada pelukanku lagi. aku kehilangan dia, untuk s-e-l-a-m-a-n-y-a.

Kehilangannya menyadarkanku akan beberapa hal. Dia yang milikku, rupanya tak pernah menjadi milikku. Dia yang kugenggam, nyatanya tak pernah kugenggam. Dia milikNya. Dia berada pada kuasaNya. Dia hanya titipan yang diberikan olehNya kepadaku saja. Dia hanya menjadi titipan untukku. Dan aku, tak bisa menjaga titipan itu dengan benar.

Ketahuilah blentong… disini aku merindukanmu. Aku rindu kamu yang tidur di bawah kakiku. Aku rindu kamu yang bermain denganku. Aku rindu dengan kamu yang ketika kupanggil, kau akan berlari dan mengeong kearahku, mendatangiku, mengajakiku bercanda dan bermain lagi secara bersama. Tidak lagi sekarang. Tidak lagi aku dapat bermain main lagi bersamamu. Kita sudah berbeda dunia. Tapi, aku masih menyayangimu.

Blen, disini banyak sekali yang menengkan aku agar tak menangisi kepergianmu, mereka banyak yang bilang akan ada lagi pengganti dirimu. Tapi semudah itukah mereka bilang begitu? Saat ini saja aku tidak tahu bagaimana cara aku untuk menghapus kesedian akan kepergianmu. Apalagi mencari penggantimu. Apa ada yang sama seperti dirimu? Menyenangkan seperti kamu? Entah. Aku lelah..

Blen, aku bertanya tanya dengan apalagi aku mengenangmu kecuali dengan tulisan sederhana ini, Blen? Dan dengan kenangan permainan yang sering kita mainkan? Ada hal yang ingin kusampaikan. Kepadamu yang begitu kurindukan. Aku mencintaimu. Aku menyayangimu, Blentong..

Tertanda, aku yang menyayangimu
dan sangat merindukanmu,
Maeda

14 Agustus 2014