Senin, 23 Maret 2015

Senja ke 22

saya punya dongeng tentang seorang perempuan yang tinggal dari kebisingan kesepian. matanya nanar oleh ketidak berdayaan sebab kepercayaan yang di binanya berakhir dengan kekecewaan..
dia adalah seorang perempuan penunggu senja. penikmat senja. dan pengagum senja.

&&&

senja ke 22: perempuan tu masih berharap; semoga senja kali ini berbaik hati mengajaknya untuk tenggelam dengan memesona. tanpa mendung yang jadikannya gulana.

&&&

suatu waktu, ada seorang perempuan datang kepada saya. matanya sendu berkaca-kaca. seakan apa yang di tahannya hendak keluar saat itu juga. saya tanya; "kenapa?" tapi dia hanya tersenyum saja.

Dan sesekali memegang matanya seperti mengusap sesuatu yang tidak tampak.

Dari tatapan matanya kepada saya, tampaknya, ia hendak mengisyaratkan kata; tapi.... "aku kehilangan kata untuk berkata" sedangkan bibirnya hanya membuat lengkung senyum saja(lagi-lagi).

"Kau kenapa?" Tanya saya untuk kedua kalinya. Dia masih menggeleng dan tersenyum saja(lagi-lagi)
Sungguh, dia pastilah berbohong dengan gelengan dan senyumnya itu. Matanya makin lama makin basah. Dan pada akhirnyaa...... tumpah ruah air dari kelopaknya.


"Kenapa?" Tanya saya (lagi-lagi)

Dia menangis. Sesenggukan. Seperti sedang mengais kata apa yang mau dia katakan kepada saya.

Aku berjalan menujunya, kupeluk dia. Dan berkata. "Sudah, mbak... semua baik-baik saja. Lanjutkan tangismu. Aku akan menunggu" dan bukankah yang dia adalah pelukan untuk ringankan beban yang bertengger pada pundaknya?

&&&

Sampai senja tiba. Lagi-lagi.. dia masih menangis. Sesekali tersenyum kepada saya yang kebingungan. Kurasa, dadanya makin lama makin riuh, penuh, dan sesak saja.

"Kenapa?" Tanya saya lagi. Sumpah!! Saya sudah terlanjur penasaran dengan tangisnya yang tak biasa itu.

"Kau tahu? Ada beberapa kenapa yang tak ada jawabannya. Dan seperti itulah yang aku rasakan. Kenapa?? Kenapa yang aku rasakan tidak ada penjelasannya."
Lalu, kita sama-sama diam. Di tengah hujan aku berharap kenapa yang tak tahu kenapa segera menemukan jawaban. Sebab, saya percaya, setiap kenapa adalah beralasan dengan karena.
&&&

senja ke 22 itu hujan... dengan harapan seorang perempuan yang harus tumbang. sebab.... senja ke 22 hujan. sebab... perempuan itu menghujani hujan dengan rinainya.
Pada senja di bulan Maret
Oleh seorang perempuan yang membosankan