Minggu, 01 Februari 2015

Sebab; ....., Tuan?

Pernah merasakan seperti ini;

Dadamu begitu bergemuruh seperti gemuruh ombak yang pasang; Benakmu begitu riuh, seriuh pasar malam di akhir pekan; Atau hatimu begitu sesak seperti ada yang memaksa menjejalkan barang yang sangat besar, meskipun tak muat, jejalan benda itu makin dipaksa masuk kedalam?

Lalu kau dapati hatimu yang begitu sesak, dadamu begitu riuh, dan benakmu begitu bergemuruh. Sampai sampai bola matamu yang berusaha membendung rundung tak dapat lagi mempertahankan pertahanannya. Matamu begitu merah. Dan kau ingin menangis sejadi jadinya. Namun pikirmu meminta agar jangan. Hingga pada akhirnya, yang harusnya tangis itu tumpah, terpaksa tertahan pada pelupuk saja. Bukankah itu adalah saat-saat yang paling menyedihkan sekali, bukan? Hatimu makin penuh dengan berbagai macam beban yang bergelantung padanya. Pikiranmu begitu kalut sekalut langit berawan musim hujan. abu-abu legam!

Atau mungkin kau pernah kecewa dengan diri kamu sendiri. Sampai kau begitu marah dan bingung bagaimana cara lampiaskan kemarahanmu itu. Lalu kau hanya bisa diam dan bungkam. Menyancang kemarahanmu dalam-dalam. Menunggu dimengerti oleh suatu hal yang tak kau mengerti kenapa kau begitu sangat marah dengan dirimu sendiri. Atau menanti waktu yang tapat untuk luapkan semua yang berada di penat. Sebab; kau tahu siapa kau sebenarnya.

Apa yang akan kau lakukan ketika kau berada di posisi yang seperti itu? Menangis? Meraung? Meronta? Atau seperti apa?

Kau tahu, aku sedang melakukannya. Sedang merasakannya. Sedang menghadapinya.

Sebab; tak apa! Aku baik-baik saja.
Begitu kataku tiap kali perasaan ini menyelinap buru-buru. Ini bukan kali pertama aku merasakan itu. Satu-dua aku berhasil mengalihkan dengan beberapa caraku. Ketiga-selanjutnya masih sama seperti biasa. Hingga sampai pada saat ini, aku tidak tahu sudah yang keberapa perasaan itu menyelinap diam-diam. Aku tak dapat menghalanginya untuk memporak-porandakan pertahananku selama ini.

Perihal; ANDA, TUAN!

Yang datang tiba-tiba, persilakan nyaman aman dan tentram berada di sisi Anda. Lalu tiba-tiba pergi menghilang entah kemana sebenarnya kau tinggalkan aku sendirian kebingungan. Awalnya aku biasa saja dengan kepergianmu yang tiba-tiba. Lalu datang tiba-tiba. Sekali lagi, AWALNYA saya masih baik-baik saja!!!

Kau lakukan itu lagi. Menghilang tiba-tiba tanpa ada alasan yang kau jelaskan kepadaku. Kecewa! Tentu! Ingin sekali aku marah. Meneriakkan maki kepada Anda secara keras-keras. Agar Anda dengar dengan jelas.

“Lalu bisaku hanya apa?” selain diam bercengkrama dengan amarah yang kadang meletup kadang mereda tak tentu arah. Mekipun pada akhirnya amarah benar-benar meletup-letup dan menguasai tega diriku, TUAN!

Sejenak saku berpikir. Siapa saya? Apa hak saya? Di mana tempat saya harusnya berada? Dan aku menarik kesimpulan bahwa ini bukanlah amarah karena ditinggal pergi Anda entah kemana. Ini…. Lebih tepatnya karena prasangka yang kubuat-buat sendiri dengan suka-suka. Aku bawa naik sangkaan itu, lalu rasio dan realita saling berinteraksi hasilkan keputusan yang membuat aku benar-benar terjun payung karena malu begitu sadar.

Semua murni salahku, rupanya. Aku yang menunggui Anda, dan Anda yang tiba-tiba pergi menghilang entah kemana? Kemudian aku menaruh curiga, sampai-sampai mengutuki Anda; apakah jangan-jangan Anda itu adalah Avatar yang pada saat dibutuhkan tiba-tiba menghilang? Atau bagaimana prasangka yang aku buat-buat itu berbicara. Aku biarkan bebas menguasaiku tanpa batas. Aku yang semula tak punya jawaban saat ini pula aku jadi tahu.

Dari aku yang tak punya hak untuk marah-marah dan mengutuki Anda tak tentu adab dan tata.


Sebab; aku yang terlalu berprasangka kepada Anda. Atau… Sebab; aku yang terlalu berharap kepada Anda?????

Salatiga, 1 Februari 2015