Pernah merasakan seperti ini;
Dadamu begitu bergemuruh seperti
gemuruh ombak yang pasang; Benakmu begitu riuh, seriuh pasar malam di akhir
pekan; Atau hatimu begitu sesak seperti ada yang memaksa menjejalkan barang
yang sangat besar, meskipun tak muat, jejalan benda itu makin dipaksa masuk
kedalam?
Lalu kau dapati hatimu yang begitu
sesak, dadamu begitu riuh, dan benakmu begitu
bergemuruh. Sampai sampai bola matamu yang berusaha membendung rundung tak
dapat lagi mempertahankan pertahanannya. Matamu begitu merah. Dan kau ingin
menangis sejadi jadinya. Namun pikirmu meminta agar jangan. Hingga
pada akhirnya, yang harusnya tangis itu tumpah, terpaksa tertahan pada pelupuk saja.
Bukankah itu adalah saat-saat yang paling menyedihkan sekali, bukan? Hatimu makin penuh dengan
berbagai macam beban yang bergelantung padanya. Pikiranmu begitu kalut sekalut
langit berawan musim hujan. abu-abu legam!
Atau mungkin kau pernah kecewa
dengan diri kamu sendiri. Sampai kau
begitu marah dan bingung bagaimana cara lampiaskan
kemarahanmu itu. Lalu kau hanya bisa diam dan bungkam. Menyancang kemarahanmu
dalam-dalam. Menunggu dimengerti oleh suatu hal yang tak kau mengerti kenapa
kau begitu sangat marah dengan dirimu sendiri. Atau menanti waktu yang tapat untuk
luapkan semua yang berada di penat. Sebab; kau tahu siapa kau sebenarnya.
Apa yang akan kau lakukan ketika kau berada di posisi yang seperti itu? Menangis?
Meraung? Meronta? Atau seperti apa?
Kau tahu, aku sedang melakukannya. Sedang merasakannya. Sedang menghadapinya.
Sebab; tak apa! Aku baik-baik saja.
Begitu kataku tiap kali perasaan ini menyelinap buru-buru. Ini bukan
kali pertama aku merasakan itu. Satu-dua aku berhasil mengalihkan dengan
beberapa caraku. Ketiga-selanjutnya masih sama seperti biasa. Hingga sampai
pada saat ini, aku tidak tahu sudah yang keberapa perasaan itu menyelinap
diam-diam. Aku tak dapat menghalanginya untuk memporak-porandakan pertahananku
selama ini.
Perihal; ANDA, TUAN!
Yang datang tiba-tiba, persilakan nyaman aman dan tentram berada di sisi
Anda. Lalu tiba-tiba pergi menghilang entah kemana sebenarnya kau tinggalkan
aku sendirian kebingungan. Awalnya aku biasa saja dengan kepergianmu yang
tiba-tiba. Lalu datang tiba-tiba. Sekali lagi, AWALNYA saya masih baik-baik
saja!!!
Kau lakukan itu lagi. Menghilang tiba-tiba tanpa ada alasan yang kau
jelaskan kepadaku. Kecewa! Tentu! Ingin sekali aku marah. Meneriakkan maki
kepada Anda secara keras-keras. Agar Anda dengar dengan jelas.
“Lalu bisaku hanya apa?” selain diam bercengkrama dengan amarah yang kadang meletup
kadang mereda tak tentu arah. Mekipun pada akhirnya amarah benar-benar
meletup-letup dan menguasai tega diriku, TUAN!
Sejenak saku berpikir. Siapa saya? Apa hak saya? Di mana tempat saya
harusnya berada? Dan aku menarik kesimpulan bahwa ini bukanlah amarah
karena ditinggal pergi Anda entah kemana. Ini…. Lebih tepatnya karena prasangka
yang kubuat-buat sendiri dengan suka-suka. Aku bawa naik sangkaan itu, lalu
rasio dan realita saling berinteraksi hasilkan keputusan yang membuat aku
benar-benar terjun payung karena malu begitu sadar.
Semua murni salahku, rupanya. Aku yang menunggui Anda, dan Anda yang
tiba-tiba pergi menghilang entah kemana? Kemudian aku menaruh curiga, sampai-sampai
mengutuki Anda; apakah jangan-jangan Anda itu adalah Avatar yang pada saat dibutuhkan
tiba-tiba menghilang? Atau bagaimana prasangka yang aku buat-buat itu berbicara.
Aku biarkan bebas menguasaiku tanpa batas. Aku yang semula tak punya jawaban
saat ini pula aku jadi tahu.
Dari aku yang tak punya hak untuk marah-marah dan mengutuki Anda tak tentu adab dan tata.
Dari aku yang tak punya hak untuk marah-marah dan mengutuki Anda tak tentu adab dan tata.
Sebab; aku yang terlalu berprasangka kepada Anda. Atau… Sebab; aku yang terlalu berharap
kepada Anda?????
Salatiga, 1 Februari 2015
Tidak ada komentar:
Posting Komentar