Jumat, 22 Maret 2013

Ukiran Dzikir Prajurit Allah




Bismillah-hirrahmanir-rahim..
Aku dengar gemircik air hujan turun di tanah yang gersang. Aku yaqin, Mereka, prajurit langit yang turun bukan sedang membuka topeng kehidupan melainkan mereka sedang menurunkan rahmat dari Allah.

Tik.. Tik.. Tik.. Suara yang nyaring dan merdu menggugah para ruh yang mati agar ikut bersenandung dengannya.. Mereka meminta penduduk bumi untuk bersuka ria bersamanya.

Mereka memberikan ketegasan kepada khalifah fil ardh bahwa recik-recik air hujan yang turun merupakan dzikir-dzikir cinta sang langit dan bumi kepada Rabbnya. Dan suara petir yang menyambar-nyambar itu merupakan sebuah bacaan syahadat mereka. Dan aku percaya akan hal itu, mereka membawa keberkahan bagi khalifah fil ardh.

Kamis, 21 Maret 2013

Pelabuhan Hati


Lembayung senja di pelupuk mata penuh maknaa... terhempas oleh semilir angin menyibak manja. Bahasa istana langit terdengar merayu jiwa yang berhati putih untuk segera menemui Rabbnya. Nafas lega terembuskan dari hati yang semula terpompa riuh kebisingan menyakitkan.

Ahh.. Sejenak aku mengingat sosok baru menjemput kejadianku waktu lalu stelah kekacauan meraut-raut sebongkah hati yang rapuh.
Terasakan desiran hati ketika ingatan tertuju pada satu titik yaitu dia, jasad ini mulai terdorong lagi untuk mendekat kepada Sang Pemilik Cinta.. Membingungkan. Ya. Memang!

Awal mengenalnya.. Aku benar-benar merasakan akan jantung yang bedegup lebih kencang dari pada yang lalu-lau. Sekencang meteor yang meluncur ke atmosfer hingga terdampar ke permukaan bumi.

Misterius. Sosok baru itu memaksaku untuk mengingatnya juga mengingat Sang Pemberi Ingatan; Dari tutur katanya.. Dari lekuk bahasa isyaratnya melalui tingkah polahnya. Juga dari suaranya yang aku dengar dari sebrang.



Selasa, 19 Maret 2013

Aku Hanya Butuh Allah

Selamat malam, ahad.. ^_^
Semoga dzikir masih senantiasa terukir indah dalam lamunan dan kerumunan harimu hingga saat ini.. Aamiin:)

Hai malam tak berbintang..
Aku tahu kau sedang jenuh dengan hidup ini. Dengan keberadaanmu tanpa seorang yang menyapamu. Bahkan memperhatikanmu. Sama halnya dengan aku. Tak sama sekali orang yang selalu ku nanti memperhatikanku, bedanya dia tak jua menantiku.

Aku datang kepadanya tanpa kemauannya. Aku datang tanpa keinginannya. Aku datang dengan sendirinya. Tanpa di panggil. Bahkan tanpa di nanti-nanti.
Kau tahu, malam? Sebenarnya sangat sedih jika mengetahui itu..

Dia menyapa mereka dengan ramah. Dengan sanjungan. Dengan kata-kata yang indah. Tapi aku?? Hah.. Jangankan sebait puisi yang di persembahkan untuk aku. Ucapan "Assalamu'alaikum" aja enggk. :")