Rabu, 15 Januari 2014

"Bahwasannya kamu berhak untuk bahagia"


 kisah ini masih berlanjut. Kembali aku dan dia (An) perdebatkan lagi masalah yang sempat telah 'hampir' aku lupakan. Ya! Meskipun aku belum bisa sepenuhnya mampu untuk melupakan.

Rabu malam.. Jatahnya memang saat ini aku pergunakan untuk melanjutkan tugas proposal yang belum kelar-kelar. Namun, entahlah bayangnya kembali lagi muncul dalam benakku. Tanpa sadar ketika aku tengah membuka akun twitter, ada kicauan dari sahabatku itu. Aku tak tahu, apakah dia hanya iseng atau memberiku wejangan untuk segera bangkit menghilangkan bayangnya d benakku. Katanya:

Kenapa milih bersedih meratapi masa lalu kalau bisa bahagia dengan lembaran baru?--- @bukanadelia | kenapa, Med?

Aku mencoba untuk mencerna apa yang dia katakan. Mencoba untuk mencari cari alasan kenapa aku bertahan dengan keadaanku saat ini. Beberapa saat kemudian aku membalas pertanyaannya.

"Sebenarnya.. aku hanya cari waktu untuk membuka lembaran baru." asalku.

Antara Aku, An, Senja, dan Rindu

Perlukah kita perdebatkan antara apa yang ada pada hatiku mengenai dirimu? perlukah aku tahu tentang pemahamanku tentang kamu? yang kini telah melebur menjadi pasir atau bahkan debu dalam waktuku kala dirimu itu berada di sisiku? 1 hal lagi, apa perlu aku mengingat ingat waktuku denganmu, waktu lalu, KALA SENJA, ketika kau dan aku saling berbisik rindu? sedangkan kau telah pergi dari hadirku? dari nanar hatiku.

sore itu.. selasa kemarin, 14012014. tak kusagka bayangmu hadir memenuhi anganku.. kata "SENJA" tiba tiba datang ketika aku tak sengaja membaca bait kata. seperti yang tertera: "Senja, pada langit biru ia menjingga. Menjelma kereta kuda yang menjemput mimpi pada malamnya. Keindahan sesaat, sekejapan mata. Datang sekali di antara siang dan malam. Tapi ia setia. Tak pernah lupa untuk kembali keesokan lagi, meski malam kerap melahapnya dalam hitam hari. Dan aku adalah senja itu. Pengantar rindu menuju kamu." (Galih Hidayatullah)
akukata pada sosok sepertiku, si penggemar senja, sahabatku sendiri. An. tak lama setelah itu, dia (An) kata:

"Senja itu sementara, tapi indah. Yaa disitu letak keindahanya." jelasnya mengawali percakapan antara aku dan dia.

"tidak. dia tidak semntara. dia akan datang lagi. esok. kau tak percaya?" elakku

"Iya dia datang lagi. Tapi dia tak selalu ada bukan? dia sementara" jelasnya

"apa aku salah terlalu takut dengan ke-sementaraan-nya??" aku mulai mengeluhkan hal yang tengah terpendam di sini. di dada ini.