Rabu, 15 Januari 2014

Antara Aku, An, Senja, dan Rindu

Perlukah kita perdebatkan antara apa yang ada pada hatiku mengenai dirimu? perlukah aku tahu tentang pemahamanku tentang kamu? yang kini telah melebur menjadi pasir atau bahkan debu dalam waktuku kala dirimu itu berada di sisiku? 1 hal lagi, apa perlu aku mengingat ingat waktuku denganmu, waktu lalu, KALA SENJA, ketika kau dan aku saling berbisik rindu? sedangkan kau telah pergi dari hadirku? dari nanar hatiku.

sore itu.. selasa kemarin, 14012014. tak kusagka bayangmu hadir memenuhi anganku.. kata "SENJA" tiba tiba datang ketika aku tak sengaja membaca bait kata. seperti yang tertera: "Senja, pada langit biru ia menjingga. Menjelma kereta kuda yang menjemput mimpi pada malamnya. Keindahan sesaat, sekejapan mata. Datang sekali di antara siang dan malam. Tapi ia setia. Tak pernah lupa untuk kembali keesokan lagi, meski malam kerap melahapnya dalam hitam hari. Dan aku adalah senja itu. Pengantar rindu menuju kamu." (Galih Hidayatullah)
akukata pada sosok sepertiku, si penggemar senja, sahabatku sendiri. An. tak lama setelah itu, dia (An) kata:

"Senja itu sementara, tapi indah. Yaa disitu letak keindahanya." jelasnya mengawali percakapan antara aku dan dia.

"tidak. dia tidak semntara. dia akan datang lagi. esok. kau tak percaya?" elakku

"Iya dia datang lagi. Tapi dia tak selalu ada bukan? dia sementara" jelasnya

"apa aku salah terlalu takut dengan ke-sementaraan-nya??" aku mulai mengeluhkan hal yang tengah terpendam di sini. di dada ini.


"tenang, meskipun dia sementara. tapi bianglalalnya begitu memukau. dan dia setia dengan berjanji selalu datang di setiap harinya. bukankah begitu?" hiburnya mengerti.

"iya seperti itu. tapi bagaimana jika aku ingin memandangnya lebih lama dari sebelumnya? *eh" ungkapku lagi.

"ada kenangan tentang senja yang setia saat kapan pun kau mau, dia ada" sambutnya dengan halus

"kenangan itu setia. melekat d setiap senja. awalnya manis untuk sebuah kenangan. tapi bagaimana kalau kini menjadi sebuah pengiris?" cercaku semakin kesal dengan apa yang kurasa

"ciptakan kenangan baru, yang lebih manis, dengan seuatu yang baru. kelak kenangan yang membuatmu teriris bisa tertumpuk dan tak terlihat lagi, dengan sendirinya." pintanya kepadaku

"sudah aku lakukan. Berulang kali. Namun tetap saja. aku hmpir tdk bs melupakannya. Malahan kenangan itu mkin mengakar dlm dada. Apa itu brarti rindu?"  kataku dengan mata ingin memuntahkan cairan

"Iya, itu rindu. Dan obat dari suatu kerinduan hanya satu, yaitu temu." dia memper jelas.

"itu tdk mungkin. Aku akn smkin terajam olehnya. Ya kenangan itu." aku tak sanggup untuk menahan cairan itu. tumpah

"Apa kau tak ada niatan untuk mencetak kenangan di atas kertas buram, dan tumpuklah di atas kertas-kertasmu yang lain. Jadi, kenangan itu sudah tak di memori, hanya di kertas yang ditumpuk. dan mungkin suatu saat bisa lupa (((((mungkin)))))" nasihatnya untuk yang kesekian kali. 

"kalo pun aku tak mau, apa berarti aku telah membiarkan diriku untk trsakiti? Kau tau rindu kan? Dia smkin hri smkin melekat. Terisolasi dgn kenangan." selaku dengan kebingungan yang semakin lama semakin bersambut

"Galau boleh. Rindu yang semakin buat galau boleh. Tapi, tau takaran dong. Jangan lupa cara untuk berbahagia!"

(aku fikir, aku tidak sedang membicarakan seputar 'galau')

*to be continued

Tidak ada komentar:

Posting Komentar