Perlukah kita
perdebatkan antara apa yang ada pada hatiku mengenai dirimu? perlukah aku tahu
tentang pemahamanku tentang kamu? yang kini telah melebur menjadi pasir atau
bahkan debu dalam waktuku kala dirimu itu berada di sisiku? 1 hal lagi, apa
perlu aku mengingat ingat waktuku denganmu, waktu lalu, KALA SENJA, ketika kau
dan aku saling berbisik rindu? sedangkan kau telah pergi dari hadirku? dari
nanar hatiku.
sore itu.. selasa
kemarin, 14012014. tak kusagka bayangmu hadir memenuhi anganku.. kata
"SENJA" tiba tiba datang ketika aku tak sengaja membaca bait kata.
seperti yang tertera: "Senja, pada langit biru ia menjingga. Menjelma
kereta kuda yang menjemput mimpi pada malamnya. Keindahan sesaat, sekejapan
mata. Datang sekali di antara siang dan malam. Tapi ia setia. Tak pernah lupa
untuk kembali keesokan lagi, meski malam kerap melahapnya dalam hitam hari. Dan
aku adalah senja itu. Pengantar rindu menuju kamu." (Galih Hidayatullah)
akukata pada sosok
sepertiku, si penggemar senja, sahabatku sendiri. An. tak lama setelah itu, dia (An) kata:
"Senja itu
sementara, tapi indah. Yaa disitu letak keindahanya." jelasnya mengawali
percakapan antara aku dan dia.
"tidak. dia
tidak semntara. dia akan datang lagi. esok. kau tak percaya?" elakku
"Iya dia datang
lagi. Tapi dia tak selalu ada bukan? dia sementara" jelasnya
"apa aku salah
terlalu takut dengan ke-sementaraan-nya??" aku mulai mengeluhkan hal yang
tengah terpendam di sini. di dada ini.
"tenang,
meskipun dia sementara. tapi bianglalalnya begitu memukau. dan dia setia dengan
berjanji selalu datang di setiap harinya. bukankah begitu?" hiburnya
mengerti.
"iya seperti
itu. tapi bagaimana jika aku ingin memandangnya lebih lama dari sebelumnya?
*eh" ungkapku lagi.
"ada kenangan
tentang senja yang setia saat kapan pun kau mau, dia ada" sambutnya dengan
halus
"kenangan itu
setia. melekat d setiap senja. awalnya manis untuk sebuah kenangan. tapi
bagaimana kalau kini menjadi sebuah pengiris?" cercaku semakin kesal
dengan apa yang kurasa
"ciptakan
kenangan baru, yang lebih manis, dengan seuatu yang baru. kelak kenangan yang
membuatmu teriris bisa tertumpuk dan tak terlihat lagi, dengan
sendirinya." pintanya kepadaku
"sudah aku
lakukan. Berulang kali. Namun tetap saja. aku hmpir tdk bs melupakannya.
Malahan kenangan itu mkin mengakar dlm dada. Apa itu brarti rindu?"
kataku dengan mata ingin memuntahkan cairan
"Iya, itu
rindu. Dan obat dari suatu kerinduan hanya satu, yaitu temu." dia memper
jelas.
"itu tdk
mungkin. Aku akn smkin terajam olehnya. Ya kenangan itu." aku tak sanggup
untuk menahan cairan itu. tumpah
"Apa kau tak
ada niatan untuk mencetak kenangan di atas kertas buram, dan tumpuklah di atas
kertas-kertasmu yang lain. Jadi, kenangan itu sudah tak di memori, hanya di
kertas yang ditumpuk. dan mungkin suatu saat bisa lupa (((((mungkin)))))"
nasihatnya untuk yang kesekian kali.
"kalo pun aku
tak mau, apa berarti aku telah membiarkan diriku untk trsakiti? Kau tau rindu
kan? Dia smkin hri smkin melekat. Terisolasi dgn kenangan." selaku dengan
kebingungan yang semakin lama semakin bersambut
"Galau boleh.
Rindu yang semakin buat galau boleh. Tapi, tau takaran dong. Jangan lupa cara
untuk berbahagia!"
(aku fikir, aku
tidak sedang membicarakan seputar 'galau')
*to
be continued
Tidak ada komentar:
Posting Komentar