Rabu, 15 Januari 2014

"Bahwasannya kamu berhak untuk bahagia"


 kisah ini masih berlanjut. Kembali aku dan dia (An) perdebatkan lagi masalah yang sempat telah 'hampir' aku lupakan. Ya! Meskipun aku belum bisa sepenuhnya mampu untuk melupakan.

Rabu malam.. Jatahnya memang saat ini aku pergunakan untuk melanjutkan tugas proposal yang belum kelar-kelar. Namun, entahlah bayangnya kembali lagi muncul dalam benakku. Tanpa sadar ketika aku tengah membuka akun twitter, ada kicauan dari sahabatku itu. Aku tak tahu, apakah dia hanya iseng atau memberiku wejangan untuk segera bangkit menghilangkan bayangnya d benakku. Katanya:

Kenapa milih bersedih meratapi masa lalu kalau bisa bahagia dengan lembaran baru?--- @bukanadelia | kenapa, Med?

Aku mencoba untuk mencerna apa yang dia katakan. Mencoba untuk mencari cari alasan kenapa aku bertahan dengan keadaanku saat ini. Beberapa saat kemudian aku membalas pertanyaannya.

"Sebenarnya.. aku hanya cari waktu untuk membuka lembaran baru." asalku.


"Jadi, kapan dong?" tanyanya kembali.

"Simple kok. karena aku bahagia saat itu! ya.. saat itu." gertakku sangat kebingungan. saat ini aku hanya berfikir bahwa aku bahagia pada 'saat itu'

"Saat itu? :O" kejutnya tiba-tiba

"Ya.. meskipun saat itu aku sering terluka dan memilih 'memaafkan'. " aku mencoba mengingat-ingat kejadian 'saat itu'. saat dimana penuh keluh derita karena dusta dan bahagia karena dusta pula.

"Mengikhlaskan :). " pintanya kepadaku

"Aku tdk tahu apa yg akn trjadi setelah ikhlas." sanggahku dengan tidak ada keyakinan

"Rela :)" Bujuknya lagi

"Apa mungkin aku bisa setelah kejadian itu merobek2 perasaanku??" aku bertanya dengan memelas

"Karena harapan masih selalu ada." yaqinnya

"Aku hampir lupa akan hal itu. ajarkan kepadaku. karena aku kerap lalai." aku semakin memohon kepada dia untuk hal ini.

"Kau hanya perlu mencarinya, menjemputnya. harapanmu. harapanmu untuk memeluk bahagia!"

dahiku mengernyit pertanda aku tak mengerti apa yang ia maksud 'cari dan jemput' harapan itu... "Izinkan aku menjemputnya." jawabku yang mulai mengerti akan maksudnya


aku tersenyum. dan kami pun tersenyum. Senyum yang awalnya sulit untuk d temukan kala duka itu datang. akan tetapi saat ini. Kita bisa melihatnya. bahkan dengan mata yang berbinar. ^_^

Tidak ada komentar:

Posting Komentar