Minggu, 05 Juli 2015

Biar Kau Tebak, Aku Tidak Peduli

sudah berapa lama kita tak bertemu? aku tidak yakin dapat memastikannya. tapi kurasa, sudah lama sekali.
bertemu denganmu bukankah itu suatu bencana bagi aku?
kenapa bisa?
Tentu saj bisa.
sebelum semua.... aku nyaris mati-matian menghindar dari pertemuan denganmu. jangankan bertemu kamu. timeline kamu yang muncul di beranda aku saja, aku nyaris tak mau melihatnya. hahaha sampai.... aku berdo'a agar tak di pertemukan dengan kamu sebelum aku siap.

dan hari ini???
sungguh, aku tidak berani mengakuinya.
aku sudah siap????? setelah beberapa tahun ini???
saat ini aku sudah siap?
aku bertemu denganmu, kamu yang pernah melukai aku.
meremuk redamkan perasaanku tanpa tanggung dan pandang bulu.
kau congkel sebagian hatiku, lalu kau bawa pergi seenaknya saja dan tak mengembalikan sedikitpun serpihan yang kau ambil itu?
Sekarang... Dengan tega, kamu... masih berani-beraninya muncul di hadapanku, sekarang ini? ini tega sekali...

sekarang???

Sungguh... aku tak percaya. hari ini aku benar-benar bertemu denganmu.
tepat berada di depanku. hanya bersekat petak meja di depan kita.
aku nyaris tak percaya.

Aku sudah siap bertemu denganmu?

coba, tebak. apa yang akan aku lakukan saat ini.
"menjadi biasa-biasa saja setelah terjadi apa-apa, menurutmu, apa yang bisa aku lakukan sekarang?"
aku nyaris mati gaya. atau aku sudah mati rasa? ini, tidak jelas.

apa peduliku sekarang?
harusnya....
aku.... tidak peduli.

Salatiga, 18 Ramadhan 1436

Minggu, 24 Mei 2015

senyumnya lapuk, seiring dengan malam yang kian terkantuk. adakah yang salah pada malam berkah ini, nona? binarmu pudar diantara kerlipnya bintang yang berpendar pada kamis malam. adakah sesuatu yang membuat ronamu mengabu-abu kelam, tuan?

saya tahu, kesalahan terbesar saya adalah menutup telinga rapat-rapat. seakan akan tidak peduli dengan suara suara di sekeliling saya.
betapa bodohnya saya, sebab hal itu membuat saya menjadi buta dengan keadaan sekitar.
sampai suatu ketika, saya baru menyadari apa yang saya lakukan adalah kurang tepat.

saya perlu merungu, sesekali. saya perlu melihat, sewaktu-waktu. terlalu menuli dan membuta bukanlah tindakan yang tepat.

setelah semua, ah.... betapa-makin bodohnya saya.... hanya bisa berkata "selama ini saya kemana?" hahaha

dan ketika saya tahu.... saya malah tidak tahu saya harus bagaima? tertawa bahagia, atau malah menangis berduka. (satu hal ini yang belum saya temukan jawabannya.) yang jelas... saya menjadi tahu. dan hmmmm.... alhamdulillah . saya lebih lega setelah tahu akan hal ini.

lega..... lega...... legaa......
hahahahahahay

oi... pandai sekali kau berkelakar..
lihai mengumbar janji tanpa mengaamiini.
hati hati pada hati yang kecewa oleh bualanmu itu.
lebih lebih pada emak emak, embah embah, embak embak. pokoknya kaum perempuan! sebab mereka sangat berperasaan.
bisa bisa kau di buat sekarat mereka tanpa perasaan. hahaha

soal ini, kau mungkin kurang paham. tapi maaf. aku ini perempuan.

selamat bertandang, kesal!

seorang perempuan datang kepada saya. masih perempuan kemarin yang datangkan hujan.
saya tidak tahu apa yang tengah membelenggu pada matanya. hanya saja, sendunya seakan menyimpan rahasia besar. pada hujan kala itu. perempuan bermata sendu berkata;
katanya "mungkin, perasaan yg tulus itu.. yang membuat seorang perempuan selalu kembali pada titik yg sama. Bukan hujan, bukan krn dia tak bisa melepas.. dia hanya trlalu mengerti bhwa perasaannya sangat sederhana.. dan itu sangat cukup menjadi alasan baginya untuk bertahan. Tulus.." #hujan #berkata #kata #pada #suatu #hujan #katanya #perempuan #bermata #sendu

bagaimana mau terbang??
sayap sebelah baru tumbuh saja sudah bersiap di tumbangkan.
bagaimana mau terbang??
baru mau terbang saja, sayap sebelah sudah bersiap di patahkan.
bagaimana mau terbang??
kalau sayap saja tak punya sama sekali??
bagaimana mau terbang??
bagaimana?

Senin, 23 Maret 2015

Senja ke 22

saya punya dongeng tentang seorang perempuan yang tinggal dari kebisingan kesepian. matanya nanar oleh ketidak berdayaan sebab kepercayaan yang di binanya berakhir dengan kekecewaan..
dia adalah seorang perempuan penunggu senja. penikmat senja. dan pengagum senja.

&&&

senja ke 22: perempuan tu masih berharap; semoga senja kali ini berbaik hati mengajaknya untuk tenggelam dengan memesona. tanpa mendung yang jadikannya gulana.

&&&

suatu waktu, ada seorang perempuan datang kepada saya. matanya sendu berkaca-kaca. seakan apa yang di tahannya hendak keluar saat itu juga. saya tanya; "kenapa?" tapi dia hanya tersenyum saja.

Dan sesekali memegang matanya seperti mengusap sesuatu yang tidak tampak.

Dari tatapan matanya kepada saya, tampaknya, ia hendak mengisyaratkan kata; tapi.... "aku kehilangan kata untuk berkata" sedangkan bibirnya hanya membuat lengkung senyum saja(lagi-lagi).

"Kau kenapa?" Tanya saya untuk kedua kalinya. Dia masih menggeleng dan tersenyum saja(lagi-lagi)
Sungguh, dia pastilah berbohong dengan gelengan dan senyumnya itu. Matanya makin lama makin basah. Dan pada akhirnyaa...... tumpah ruah air dari kelopaknya.


"Kenapa?" Tanya saya (lagi-lagi)

Dia menangis. Sesenggukan. Seperti sedang mengais kata apa yang mau dia katakan kepada saya.

Aku berjalan menujunya, kupeluk dia. Dan berkata. "Sudah, mbak... semua baik-baik saja. Lanjutkan tangismu. Aku akan menunggu" dan bukankah yang dia adalah pelukan untuk ringankan beban yang bertengger pada pundaknya?

&&&

Sampai senja tiba. Lagi-lagi.. dia masih menangis. Sesekali tersenyum kepada saya yang kebingungan. Kurasa, dadanya makin lama makin riuh, penuh, dan sesak saja.

"Kenapa?" Tanya saya lagi. Sumpah!! Saya sudah terlanjur penasaran dengan tangisnya yang tak biasa itu.

"Kau tahu? Ada beberapa kenapa yang tak ada jawabannya. Dan seperti itulah yang aku rasakan. Kenapa?? Kenapa yang aku rasakan tidak ada penjelasannya."
Lalu, kita sama-sama diam. Di tengah hujan aku berharap kenapa yang tak tahu kenapa segera menemukan jawaban. Sebab, saya percaya, setiap kenapa adalah beralasan dengan karena.
&&&

senja ke 22 itu hujan... dengan harapan seorang perempuan yang harus tumbang. sebab.... senja ke 22 hujan. sebab... perempuan itu menghujani hujan dengan rinainya.
Pada senja di bulan Maret
Oleh seorang perempuan yang membosankan

Minggu, 01 Februari 2015

Sebab; ....., Tuan?

Pernah merasakan seperti ini;

Dadamu begitu bergemuruh seperti gemuruh ombak yang pasang; Benakmu begitu riuh, seriuh pasar malam di akhir pekan; Atau hatimu begitu sesak seperti ada yang memaksa menjejalkan barang yang sangat besar, meskipun tak muat, jejalan benda itu makin dipaksa masuk kedalam?

Lalu kau dapati hatimu yang begitu sesak, dadamu begitu riuh, dan benakmu begitu bergemuruh. Sampai sampai bola matamu yang berusaha membendung rundung tak dapat lagi mempertahankan pertahanannya. Matamu begitu merah. Dan kau ingin menangis sejadi jadinya. Namun pikirmu meminta agar jangan. Hingga pada akhirnya, yang harusnya tangis itu tumpah, terpaksa tertahan pada pelupuk saja. Bukankah itu adalah saat-saat yang paling menyedihkan sekali, bukan? Hatimu makin penuh dengan berbagai macam beban yang bergelantung padanya. Pikiranmu begitu kalut sekalut langit berawan musim hujan. abu-abu legam!

Atau mungkin kau pernah kecewa dengan diri kamu sendiri. Sampai kau begitu marah dan bingung bagaimana cara lampiaskan kemarahanmu itu. Lalu kau hanya bisa diam dan bungkam. Menyancang kemarahanmu dalam-dalam. Menunggu dimengerti oleh suatu hal yang tak kau mengerti kenapa kau begitu sangat marah dengan dirimu sendiri. Atau menanti waktu yang tapat untuk luapkan semua yang berada di penat. Sebab; kau tahu siapa kau sebenarnya.

Apa yang akan kau lakukan ketika kau berada di posisi yang seperti itu? Menangis? Meraung? Meronta? Atau seperti apa?

Kau tahu, aku sedang melakukannya. Sedang merasakannya. Sedang menghadapinya.

Sebab; tak apa! Aku baik-baik saja.
Begitu kataku tiap kali perasaan ini menyelinap buru-buru. Ini bukan kali pertama aku merasakan itu. Satu-dua aku berhasil mengalihkan dengan beberapa caraku. Ketiga-selanjutnya masih sama seperti biasa. Hingga sampai pada saat ini, aku tidak tahu sudah yang keberapa perasaan itu menyelinap diam-diam. Aku tak dapat menghalanginya untuk memporak-porandakan pertahananku selama ini.

Perihal; ANDA, TUAN!

Yang datang tiba-tiba, persilakan nyaman aman dan tentram berada di sisi Anda. Lalu tiba-tiba pergi menghilang entah kemana sebenarnya kau tinggalkan aku sendirian kebingungan. Awalnya aku biasa saja dengan kepergianmu yang tiba-tiba. Lalu datang tiba-tiba. Sekali lagi, AWALNYA saya masih baik-baik saja!!!

Kau lakukan itu lagi. Menghilang tiba-tiba tanpa ada alasan yang kau jelaskan kepadaku. Kecewa! Tentu! Ingin sekali aku marah. Meneriakkan maki kepada Anda secara keras-keras. Agar Anda dengar dengan jelas.

“Lalu bisaku hanya apa?” selain diam bercengkrama dengan amarah yang kadang meletup kadang mereda tak tentu arah. Mekipun pada akhirnya amarah benar-benar meletup-letup dan menguasai tega diriku, TUAN!

Sejenak saku berpikir. Siapa saya? Apa hak saya? Di mana tempat saya harusnya berada? Dan aku menarik kesimpulan bahwa ini bukanlah amarah karena ditinggal pergi Anda entah kemana. Ini…. Lebih tepatnya karena prasangka yang kubuat-buat sendiri dengan suka-suka. Aku bawa naik sangkaan itu, lalu rasio dan realita saling berinteraksi hasilkan keputusan yang membuat aku benar-benar terjun payung karena malu begitu sadar.

Semua murni salahku, rupanya. Aku yang menunggui Anda, dan Anda yang tiba-tiba pergi menghilang entah kemana? Kemudian aku menaruh curiga, sampai-sampai mengutuki Anda; apakah jangan-jangan Anda itu adalah Avatar yang pada saat dibutuhkan tiba-tiba menghilang? Atau bagaimana prasangka yang aku buat-buat itu berbicara. Aku biarkan bebas menguasaiku tanpa batas. Aku yang semula tak punya jawaban saat ini pula aku jadi tahu.

Dari aku yang tak punya hak untuk marah-marah dan mengutuki Anda tak tentu adab dan tata.


Sebab; aku yang terlalu berprasangka kepada Anda. Atau… Sebab; aku yang terlalu berharap kepada Anda?????

Salatiga, 1 Februari 2015

Sabtu, 24 Januari 2015

Kepada Jarak

kepada jarak, saya berterimakasih kepada anda. karena anda, saya jadi tahu bagaimana sepasi itu sangat dibutuhkan pada setiap kata agar tersusun menjadi sebuah kalimat.
saya berterimakasih sekali sebab adanya anda saya jadi mengerti bagaimana cerita itu bisa terangkai dengan indah sesuai dengan alurnya. hahaha

dan tentu saja saya tahu kalau anda datang sebagai sebab yang menyebabkan akibat, bukan? dan akibat anda.....


aiii... terimakasih sekali lohh karena telah mengizinkan dan mempercayakan saya untuk merasakan rasa akibat adanya anda. meskipun tidak sebentar saya ditingkahi oleh rasa yang anda datangkan. dibuat klimpungan kepada siapa saya harus titipkan dan adukan rasa akibat dari adanya anda agar sampai pada yang saya maksudkan.

ya memang, awalnya saya bingung dan asing, bahkan saya heran, kenapa anda datang tanpa memberikan penawar pula? tapi... saya berterimakasih lagi...
barangkali saya harus mencari penawarnya sendiri.

................

Jadi, saat ini sudah ada beberapa jalan keluar. mungkin nanti saya akan titipkan pada dandelion yang siap diterbangkan oleh angin agar sampai. yahh seperti kata dongeng bahwa dia adalah penyampaian harap yang ulung dan pasti akan dia sampaikan pada apa yang tertujukan.

tapi.... tidak-tidak. mungkin tidak. dia terlalu rapuh dan pasrah, saya rasa. saya takut sekali apabia ditengah jalan dia malah mendarat lebih pagi dari yang saya duga....


hmmmmm.
atau mungkin saya harus titipkan pada do'a-do'a pada suatu waktu ketika dia menggebu, saja? agar dia diterbangkan oleh angin tanpa pasrah dan tak berhenti ditengah jalan serta mendarat pada tempatnya tanpa ada kebingungan yang sergap. bagaimana menurutmu? kepada siapa saya titipkan rindu itu??? yang karena kamu???? kepada siapa??? kalau saya sendiri sihh lebih percaya pada pilihan ke dua.


tsaaahhh... saya lucu sekali, ya?... bagaimana sedari tadi saya tidak sadar bahwa adanya anda adalah untuk memperkenalkan saya dengan yang namanya nikmat munajat. maaf terlalu rumit dan lama saya memahaminya. tapi terimakasih sekali ya, Jar. seharusnya saya lebih pandai kedatangan tamu tak berpemisi seperti anda dan teman anda yang ngakunya bernama rindu itu. terumakasih sudah mau membaca keluh saya. ☺