Selasa, 08 April 2014

Pentingnya bersosialisasi


Bismillahir-rahamnir-rahiim.

Bersosialisasi pada lingkungan baru adalah kewajiban bagi seseorang. Seseorang tak akan dapat melakukan aktivitas social tanpa melakukan interaksi sosial antara manusia yang satu dengan manuasia yang lainnya.

***

Asna adalah seoarang anak yang pandai. Bahkan, dia mendapatkan juara satu meraih nilai yang terbaik sekotanya ketika ujian. Pada saat ia masuk ke SMA, ia tidak sulit untuk mendapatkan teman. Di sekolah Asna yang baru, ia terkenal sebagai seorang berpribadi pendiam suka menyendiri dan tidak memiliki seorang teman. Kemana-mana ia selalu sendiri. Pada akhirnya, Asna merasa tidak nyaman dengan lingkungan barunya, maka dari itu Asna mulai mencoba berbicara dan sering berkumpul dengan teman-teman sekelasnya. Bahkan, Asna juga mengikuti beberapa oraganisasi di sekolah barunya. Hingga pada akhirnya Asna memiliki teman yang banyak. Asna tidak lagi sendirian kemana-mana. Teman-temannya yang dahulu menyebut Asna sebagai seorang yang pendiam dan suka menyendiri, sekarang Asna disebut sebagai anak yang friendly dan kini Asna memiliki banyak sahabat.

Terlamat

Qul bifadl lillaahi,
wa birachmatihii
fabidzaalika fal yafrachuu.
Katakanlah (Muhammad) dengan fadol Allah (karunia)
Dan rachmatNya (berupa Nabi dan syari’at)
Maka hendaknya mereka bergembira atas semua itu. (QS. Yunus: 58)

Allah.. lihatlah aku yang tengah sibuk dengan keberadaankku sekarang ini..
Merangkai kata dari satu huruf ke huruf lain.
Bukan karena ku ingin merayuMu dengan rayuan-rayuan munafik,
Yang hanya timbul di awang-awang langit tetepi tak sampai hati.
Atau… hanya ingin mengapresiasikan apa yang ada di pikiran saja.
Jujurlah. Ini dari hati nurani, duhai Allah..
Ingin ku katakan kepadaMu.
Tentang bentuk cintaMu kepada insan ciptaanmu.
Aku hanya ingin Engkau menyampaikan salam rinduku terhadap rasulMu.
Yaaaa!! Yang beliau memberikan kepada para umat terdahulu ataukah sekarang, bahkan nanti.
Yang melalui perataranya Engkau dapat turunkan Al-qur’an.
Dan melalui sabdaMu melalui beliau, para khalifah bumi mengenal kewajiban dan larangan yang Engkau tetapkan.
Bahkan para khalifah bumi dapat mengetahui bagaimana mendekatkan diri kepadMu.
Kepadamu Rasulullah yang di rindui oleh beribu umat yang mencintaimu,
Cukuplah al-qur’an yang begitu subi sebagai bukti keberadaanmu, duh Rassul.
Takkan terbayangkan jika tiada sosok seperti engkau, bagaimana nanti para umat manusia?


*Ps: sebenarnya saya tidak tahu kalau pernah menulis tulisan ini. Mungkin tulisan awal masuk SMA hihihi lucu juga bisa nulis kaya gitu.

Pelajaran Dari Masa Lalu

Yang lalu, biarlah berlalu?

Beberapa waktu lalu saya sedang membongkar-bongkar data saya di netbook saya. Biasalah.. melakukan pembersihan hal-hal yang tidak penting. Kemudian saya menemukan tulisan saya ini. Ketika saya baca paragraph pertama rupanya tulisan ini adalah tugas pidato saya ketika kelas 10.

Karena ada beberapa hal yang membuat saya teringat dengan masalalu saya dan masa saya pada saat ini. Saya jadi tertarik untuk berbagi. Mohon maaf kepada para pembaca apabila pada tulisan ini banyak sekali kata yang kurang dan jauh dari PAS atau TEPAT. Tentunya, kita tahu bahwa yang pas dan tempat hanyalah milik Allah saja.


"Pelajaran dari masalalu”

Yang lalu biarlah berlalu??? Masalalu biarlah berlalu??? Benarkah demikian? Tapi mengapa banyak sekali sebagian orang yang membahas masalalu orang lain dengan berapi-api. Bahkan ada pula sebagian yang menceritakan masalalu orang lain kepada temannya sendiri atau kepada orang lain (yang lainnya :D) dengan kata menjatuhkan. Seperti tidak memberi perubahan kepada orang yang ia jatuhkan untuk menjadi yang lebih baik dari masalalunya.

Hm….. Saya memiliki cerita, insyaAllah semoga bermanfaat.

Umar Bin Khatab pernah suatu ketika menangis karena teringat suatu hal sebelum keislamannya masuk dalam dirinya. Pada saat itu Umar Bin Khatab menggali lubang di temani seorang anak perempuannya.

Sang anak setia menunggu sang ayah menggali lubang itu. Sewaktu-waktu keringat bercucuran di kepala sang ayah, sang anak mengusap dengan lembut keringat ayahnya. Bahkan, setitik debu yang menempel di jenggot ayahnya, sang anak pun membersihkan debu itu. Namun, setelah penggalian telah selesai, sang anak di kubur hidup-hidup oleh sang ayah. Na'udzubillah. Masalalu yang pahit dari sang Umar Bin Khatab.

Don’t Tell, But Show

Ini adalah tulisan saya waktu pertama kali terdaftar jadi jurnalis. saya menemukan ini beberapa waktu lalu. nah, karena saya berharap tulisan ini jangan sampai lumutan karena hanya tersimpan di netbook saya, saya berniat untuk berbagi kepada kalian para pembaca. semoga bermanfaat ya.. ^_^
-------------

Jum’at, 8 Februari sampai 10 Februari 2013, di sekolah saya mengadakana cara Pelatihan Jurnalistik dengan bertemakan ‘Menjadi Jurnalis Kreatif dan Bertanggung Jawab’ acara ini di hadiri oleh 20 peserta dari siswa/siswi MAN Salatiga yang terdaftar. Saya pun salah satu dari 20 peserta itu.

Acara pelatihan tersebut berlangsung selama 3 hari. Pada hari pertama, di hadiri oleh beberapa team redaksi dari Kompas. Salah satunya adalah Sonya Hellen Sinombor. Beliau menerangkan beberapa hal kepada kami tentang; About Journalist, berita, bentuk atau jenis berita, dan masih banyak lagi.

About Journalist
“Journalist it not medicane, but it can heal. It is not law, but it can bring about justice. It is not military, but it can help us safe.” (Mary Maps)

Dari 3 pokok penuturan Mary Maps tersebut, Ibu Sonya Hellen menjelaskan kepada peserta pelatihan. Bahwa;

Journalist it not medicane, but it can heal (jurnalis itu bukan obat, tetapi dapat menyembuhkan). Beliau berkisah; Suatu ketika ada seorang balita yang mengidam tumor ganas di kepalanya bertahun-tahun, tidak dapat menjalankan operasi lantaran perekonomian yang kurang. Pada saat itu juga, para dokter meminta kepada journalist agar meliputnya. Setelah masalah itu di publikasikan melalui media cetak/masa, tidak jarang para kalangan atas menyumbang biaya operasi untuk si balita tersebut.