Yang lalu, biarlah berlalu?
Beberapa waktu lalu saya sedang membongkar-bongkar data
saya di netbook saya. Biasalah.. melakukan pembersihan hal-hal yang tidak
penting. Kemudian saya menemukan tulisan saya ini. Ketika saya baca paragraph
pertama rupanya tulisan ini adalah tugas pidato saya ketika kelas 10.
Karena ada beberapa hal yang membuat saya teringat dengan
masalalu saya dan masa saya pada saat ini. Saya jadi tertarik untuk berbagi.
Mohon maaf kepada para pembaca apabila pada tulisan ini banyak sekali kata yang
kurang dan jauh dari PAS atau TEPAT. Tentunya, kita tahu bahwa yang pas dan
tempat hanyalah milik Allah saja.
"Pelajaran dari
masalalu”
Yang lalu biarlah berlalu??? Masalalu biarlah berlalu???
Benarkah demikian? Tapi mengapa banyak sekali sebagian orang yang membahas
masalalu orang lain dengan berapi-api. Bahkan ada pula sebagian yang
menceritakan masalalu orang lain kepada temannya sendiri atau kepada orang lain
(yang lainnya :D) dengan kata menjatuhkan. Seperti tidak memberi perubahan kepada
orang yang ia jatuhkan untuk menjadi yang lebih baik dari masalalunya.
Hm….. Saya memiliki cerita, insyaAllah semoga bermanfaat.
Umar Bin Khatab pernah suatu ketika menangis karena
teringat suatu hal sebelum keislamannya masuk dalam dirinya. Pada saat itu Umar
Bin Khatab menggali lubang di temani seorang anak perempuannya.
Sang anak setia menunggu sang ayah menggali lubang itu.
Sewaktu-waktu keringat bercucuran di kepala sang ayah, sang anak mengusap
dengan lembut keringat ayahnya. Bahkan, setitik debu yang menempel di jenggot
ayahnya, sang anak pun membersihkan debu itu. Namun, setelah penggalian telah
selesai, sang anak di kubur hidup-hidup oleh sang ayah. Na'udzubillah.
Masalalu yang pahit dari sang Umar Bin Khatab.
Kemudian, setelah waktu berjalan dengan begitu gagah, sang Umar
masuk islam dan menyesali perbuatnya tersebut.
Apakah kalian dapat mengambil sisi lain dari cerita Umar
Bin Khatab tersebut? Seperti ini:
Jika masalalu penuh pelajaran. Tanpa masalalu, semua orang di pelosok bumi ini tidak
akan merasakan pembenahan. Dan kalian harus tahu, bahwa masalalu membuktikan
antara kegagalan dan keberhasilan. Lihat saja Umar, setelah ia masuk islam dan
mendapati masalalunya yang kelam berkelana pada ingatannya, ia mengangis sesal
karena perbuatannya. Tentu saja, Umar menyesali perbuatannya.
Masalalu-pun ada bukan hanya untuk di sesali dan diratapi.
Melainkan untuk di jadikan cambukan dan motivasi untuk melakukan perubahan yang
lebih baik lagi. Allah SWT berfirman;
“Hai
orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan hendaklah setiap diri
memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok (akhirat); dan
bertakwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang kamu
kerjakan.” (QS. Al-Hasyr:18)
Menurut buku yang saya baca tapi lupa judulnya (hahaha). Masalalu
merupakan kumpulan serpihan sejarah. Sejarah dari masalalu ketika kita
bahagia. Misalkan di waktu lalu, kita pergi ke suatu tempat yang menyimpan
pemandangan yang sangat indah. Kita jalan-jalan di sana dan menemukan berbagai
hal-hal yang unik. Berbulan-bulan berlalu, kita masih ingat sejarah waktu lalu
kita yang membahagiakan. Kita mengingatnya pun merupakan kebahagiaan. Subhanallah.
Namun di balik kebahagiaan itu, ada masalalu yang pahit, pada
saat kita perki ke suatu tempat itu, karena terlalu bahagia melihat-lihat
pemandangan di sekitar kita sampai-sampai kita tidak melihat bahwa ada lubang
yang cukup curam. Kemudian kita terperosok kedalam lubang tersebut. Hingga pada
akhirnya kita mengalami cidera kaki yang cukup lama. Tentunya, hal itu pun tak
dapat terlupakan begitu saja bukan?
Dan yang terakhir adalah masalalu penuh hikmah. Sebenarnya
sama dengan masalalu penuh pembelajaran sih. Cuma berbeda penggunaan
katanya saja. haha. Masih menyinggung tentang jatuh dalam lubang curam tadi.
Kita terjatuh dalam lubang kemarin. suatu hari ketika kita berkunjung pada
tempat itu, dan ketika kita melewati tempat yang terdapat lubang yang menyebabkan
kita terperosok, kita akan memilih jalan lain untuk menghindari lubang
tersebut, atau mungkin membuat peringatan bahwa di tempat itu terdapat lubang
yang cukup curam agar orang lain kalau lewat di situ lebih berhati-hati lagi.
Saya jadi teringat, ketika kajian An-Nisa’, ustadzah saya
menerangkan bahwa ada 3 golongn orang di masa datang. 1. orang yang beruntung,
yaitu orang yang menjadikan hari ini lebih baik dari hari kemarin. 2. orang
yang rugi, yaitu orang yang menjadikan hari ini lebih buruk daripada hari
kemarn, 3. orang yang celaka. Orang yang hari ini tetap seperti hari kemarin
(tidak melakukan perubahan apa pun)
Jadi intinya: masalalu tidak untuk di lalu-lalukan,
bukan juga untuk di kenang. Tetapi, masalalu itu untuk di jadikan pelajaran.
insyaAllah siapa saja yang menganggap masalalunya sebagai pelajaran, ia akan
menjadi orang yang beruntung. aamiin
Tidak ada komentar:
Posting Komentar