Selasa, 08 April 2014

Pelajaran Dari Masa Lalu

Yang lalu, biarlah berlalu?

Beberapa waktu lalu saya sedang membongkar-bongkar data saya di netbook saya. Biasalah.. melakukan pembersihan hal-hal yang tidak penting. Kemudian saya menemukan tulisan saya ini. Ketika saya baca paragraph pertama rupanya tulisan ini adalah tugas pidato saya ketika kelas 10.

Karena ada beberapa hal yang membuat saya teringat dengan masalalu saya dan masa saya pada saat ini. Saya jadi tertarik untuk berbagi. Mohon maaf kepada para pembaca apabila pada tulisan ini banyak sekali kata yang kurang dan jauh dari PAS atau TEPAT. Tentunya, kita tahu bahwa yang pas dan tempat hanyalah milik Allah saja.


"Pelajaran dari masalalu”

Yang lalu biarlah berlalu??? Masalalu biarlah berlalu??? Benarkah demikian? Tapi mengapa banyak sekali sebagian orang yang membahas masalalu orang lain dengan berapi-api. Bahkan ada pula sebagian yang menceritakan masalalu orang lain kepada temannya sendiri atau kepada orang lain (yang lainnya :D) dengan kata menjatuhkan. Seperti tidak memberi perubahan kepada orang yang ia jatuhkan untuk menjadi yang lebih baik dari masalalunya.

Hm….. Saya memiliki cerita, insyaAllah semoga bermanfaat.

Umar Bin Khatab pernah suatu ketika menangis karena teringat suatu hal sebelum keislamannya masuk dalam dirinya. Pada saat itu Umar Bin Khatab menggali lubang di temani seorang anak perempuannya.

Sang anak setia menunggu sang ayah menggali lubang itu. Sewaktu-waktu keringat bercucuran di kepala sang ayah, sang anak mengusap dengan lembut keringat ayahnya. Bahkan, setitik debu yang menempel di jenggot ayahnya, sang anak pun membersihkan debu itu. Namun, setelah penggalian telah selesai, sang anak di kubur hidup-hidup oleh sang ayah. Na'udzubillah. Masalalu yang pahit dari sang Umar Bin Khatab.

Kemudian, setelah waktu berjalan dengan begitu gagah, sang Umar masuk islam dan menyesali perbuatnya tersebut.

Apakah kalian dapat mengambil sisi lain dari cerita Umar Bin Khatab tersebut? Seperti ini:

Jika masalalu penuh pelajaran. Tanpa masalalu, semua orang di pelosok bumi ini tidak akan merasakan pembenahan. Dan kalian harus tahu, bahwa masalalu membuktikan antara kegagalan dan keberhasilan. Lihat saja Umar, setelah ia masuk islam dan mendapati masalalunya yang kelam berkelana pada ingatannya, ia mengangis sesal karena perbuatannya. Tentu saja, Umar menyesali perbuatannya.

Masalalu-pun ada bukan hanya untuk di sesali dan diratapi. Melainkan untuk di jadikan cambukan dan motivasi untuk melakukan perubahan yang lebih baik lagi. Allah SWT berfirman;

“Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan hendaklah setiap diri memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok (akhirat); dan bertakwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan.” (QS. Al-Hasyr:18)


Menurut buku yang saya baca tapi lupa judulnya (hahaha). Masalalu merupakan kumpulan serpihan sejarah. Sejarah dari masalalu ketika kita bahagia. Misalkan di waktu lalu, kita pergi ke suatu tempat yang menyimpan pemandangan yang sangat indah. Kita jalan-jalan di sana dan menemukan berbagai hal-hal yang unik. Berbulan-bulan berlalu, kita masih ingat sejarah waktu lalu kita yang membahagiakan. Kita mengingatnya pun merupakan kebahagiaan. Subhanallah.

Namun di balik kebahagiaan itu, ada masalalu yang pahit, pada saat kita perki ke suatu tempat itu, karena terlalu bahagia melihat-lihat pemandangan di sekitar kita sampai-sampai kita tidak melihat bahwa ada lubang yang cukup curam. Kemudian kita terperosok kedalam lubang tersebut. Hingga pada akhirnya kita mengalami cidera kaki yang cukup lama. Tentunya, hal itu pun tak dapat terlupakan begitu saja bukan?

Dan yang terakhir adalah masalalu penuh hikmah. Sebenarnya sama dengan masalalu penuh pembelajaran sih. Cuma berbeda penggunaan katanya saja. haha. Masih menyinggung tentang jatuh dalam lubang curam tadi. Kita terjatuh dalam lubang kemarin. suatu hari ketika kita berkunjung pada tempat itu, dan ketika kita melewati tempat yang terdapat lubang yang menyebabkan kita terperosok, kita akan memilih jalan lain untuk menghindari lubang tersebut, atau mungkin membuat peringatan bahwa di tempat itu terdapat lubang yang cukup curam agar orang lain kalau lewat di situ lebih berhati-hati lagi.

Saya jadi teringat, ketika kajian An-Nisa’, ustadzah saya menerangkan bahwa ada 3 golongn orang di masa datang. 1. orang yang beruntung, yaitu orang yang menjadikan hari ini lebih baik dari hari kemarin. 2. orang yang rugi, yaitu orang yang menjadikan hari ini lebih buruk daripada hari kemarn, 3. orang yang celaka. Orang yang hari ini tetap seperti hari kemarin (tidak melakukan perubahan apa pun)

Jadi intinya: masalalu tidak untuk di lalu-lalukan, bukan juga untuk di kenang. Tetapi, masalalu itu untuk di jadikan pelajaran. insyaAllah siapa saja yang menganggap masalalunya sebagai pelajaran, ia akan menjadi orang yang beruntung. aamiin

Tidak ada komentar:

Posting Komentar