Minggu, 25 Mei 2014

perayaan coret-mencoret selepas kelulusan

bismillah...
kali ini saya akan membahas tentang kelulusan kakak-kakak yang baru saja menerima surat LULUS/TIDAKnya ujian tahun ini. hehe ini mungkin bakalan jadi tulisan late post, tapi gak ada salahnya buat dibahas.

hmm.... baru saja saya stalking twitter seorang psikolog, mungkin beliau adalah seorang psikolog remaja (hihihi mulai deh sok taunya) soalnya kebanyakan pembahasannya adalah mengenai kasus kasus remaja. gak sengaja, saya nemuin ini nih

nah, saya jadi inget. beberapa hari yang lalu, kira-kira tanggal 20 Mei waktu saya dan teman sedikit tidak baik saya, otw pulang dari sebuah tempat dimana disana hanya ada jajaran rak-rak dan tumpukan buku-buku (duh.. terlalu bertele-tele yaa :D ) alias perpustakaan, kami melihat kakak-kakak kelas--yang gatau dari sekolah mana--sedang beriring-iringan dengan mengendarai motor. aku kira mereka lagi pawai ta'aruf, namun melihat baju yang mereka kenakan, so IUH kalo mau dibilang pawai ta'aruf. tentu saja mereka sedang berkonvoi merayakan kelulusannya.

hmm.. saya dan teman saya yang pada saat itu antara terburu-buru dan kalem-kalem aja dikejer waktu, mau menyebrang aja nyaris kudu nunggu beberapa lama dulu sampai mereka yang berkonvoi berlalu. kita gak gila buat nyebrang pada kondisi kayak gitu. gak mungkin kan kita menyebrang disaat seperti itu. apalagi kita bukan kucing yang konon punya nyawa 9. kita masih sayang dengan nyawa kita.

kembali kemereka yang berkonvoi. mereka terdiri dari --mungkin-- 75an kendaraan bermotor. beriring-iringan dijalan raya, tanpa mengenakan properti berkendara secara lazimnya, seperti memakai helm. ada yang berboncengan dengan lawan jenis, ada yang rambutnya di modis sebagai pengganti helm--mungkin-- karena di cat berwarna warni. hihihi

melihat seperti itu temen saya bilang suruh memotret mereka yang lagi pada konvoi gitu. bagus buat liputan katanya. yaudah saya motret aja pake HP yang cameranya tak sebagus camera SLR.
dan tiba-tiba aja muncul dibenak kita masing-masing gergara kita liat konvoi (entah ilegal atau enggak itu gak selese selese). "sebenernya apa manfaatnya seperti itu sih?" || "kalaupun buat kesenangan aja kan bisa di realisasikan dengan hal-hal yang lebih positive lagi" || "ihh kaya gitu apaan sih?? norak banget. || "apa gak sayang sama bensinnya kalo dibuat muter-muter kaya gitu?" || kasihan dong orang tuanya, apa gak tau gimana sulitnya cari uang?" || "yaa kalo bensinnya beli pake duit sendiri sih gapapa, kalo masih nodong orang tua....????" || "belum lagi kalo orang tuanya itu pekerjaannya gak tetap." || "Hadehh... cuman untuk kesenangan"
dan lain sebagainya

sebenernya saya bisa mengerti sih kenapa mereka melakukan tindakan seperti itu. yayalah karena saya juga pelajar yang pernah ngerasain lulus 2 kali ( SD sama MTs :D ) jadi, mungkin konvoi seperti itu menjadi hal yang sangat wajar menurut kacamata pelajar yang baru saja lulus. "sebagai wujud kesenangan atas keberhasilan mereka lulus dari SMA/MA/SMK" || "buat kenanganlah, seumur hidup cuman sekali doang" yayayaya bisa diterima. tapi, apakah bentuk kesenangan itu hanya berkonvoi aja? ngabisin bensin buat keliling kota? nunjukkin ke semua orang kalo AKU UDAH LULUS NIH LOH? mencoret-coret seragam putih abu-abu mereka?

tapi disisi lain saya kurang setuju. kenapa? why? limadza?

hey, see. tidak semua pelajar itu berbahagia karena mendapatkan surat pemberitahuan berjejer 5 huruf menggembirakan buat siapapun yang merasai debar penantian dengan kata "LULUS". di luar sana, mungkin saja ada pelajar yang mendapati sebelum 5 huruf itu dengan imbuhan 5 huruf lain: "TIDAK LULUS". mungkin saja diluar sana ada yang menangis-nangis karena ada satu kata yang keimbuhan dengan kata lain. dan tidakkah terbesit dipikran kita bahwa diluar sana ada orang yang sangat membutuhkan uang dan baju seragam untuk sekolahnya?

mereka sudah dewasa, berfikirkah mereka mengenai kehidupan sosial? ada yang membutuhkan uluran tangan mereka. hm... daripada uanganya mubazir buat beli bensin sama cat lalu coret-coret rambut sama seragam terus muter-muter gak tau tujuan mau kemana pada akhirnya, apalagi yang beralasan buat kenang-kenangan seumur hidup satu kali, atau bentuk rasa syukur atas lulusnya mereka dari SMA/MA/SMK mending uang dan sragamnya di sumbangin buat orang yang kurang mampu. di sedekahin kek gitu. hihi bukankah itu lebih bermanfaat??

dan, kak. tindakan kakak kakak itu akan menyisakan bekas buat adek-adek kakak. tolong, untuk adek-adek kakak termasuk saya dan teman-teman saya, jangan lagi mengenalkan kami dengan hal-hal yang kurang bermanfaat dan hanya mementingkan kesenangan individual lagi. paling tidak ajarkan kami tentang berbagi antar satu dengan yang lainnya.. terimakasih telah membaca.

Selasa, 20 Mei 2014

Aku Dan Rindu Yang Ada Kamu


"baik-baik disana, bhe. Jangan lupa, jaga hatiku baik-baik”
"bhie… I love you."

Ah.. Sudah hampir melupa aku dengan apa yang aku kata kepadamu beberapa waktu lalu sebelum keberangkatanmu untuk merantau di provinsi seberang itu. Entah berapa kali aku bilang seperti itu kepadamu. Sedangkan kamu hanya tersenyum simpul dan mengusap kepalaku kemudian kamu bilang "Tidak usah khawatir. 6 bulan bukanlah waktu yang lama.” Lalu dengan wajah dan gelagat konyolmu itu seperti biasa kamu bilang “Hati kamu aman disini. Aku sayang kamu."

Pedih. Itu yang pertama kali aku rasakan ketika aku mendapati diriku dan kamu telah berada di tengah-tengah lampu malam di tepi terminal kota kelahiran kita. Malam itu. Hm. Rasanya belum siap untukku harus berjauhan darimu

Entahlah nantinya apa yang akan terjadi setelah aku jauh darimu. Mungkin rindu harus berpuasa lebih lama lagi untuk mengabulkan sebuah temu. Belum lagi ketika kita—atau mungkin lebih tepatnya hanya aku saja—harus menunggu waktu luangmu yang adanya sangat sempit untuk sekedar bertukar kata "siang, sayang" atau "selamat pagi, bheb. Udah makan?" atau beberapa baris huruf yang mudah sekali membuatku debar entah ketika kamu send ke inboxku. Meskipun hanya sekali.

Khawatir. Adalah rasa kedua yang aku rasakan. Belum dapat terima dan lagi-lagi belum siap pabila kamu meninggalkan diriku sendiri menanti di pojok hening dengan penantian-penantian yang katamu 6 bulan lagi akan bertemu--atau lebih tepatnya entah kapan akan berujungnya.
Aku khawatir, tentu. Sikapmu yang sering kali genit dengan wanita lain itu yang membuatku khawatir. Takut sesekali kamu jatuh cinta dengan seorang patner disana yang lebih lebih lebih dari diriku. Khawatir ada wanita lain yang mengambil hatimu dari aku. Khawatir apabila kamu tiba-tiba pergi dari hatiku yang mencoba aku pagar agar terjaga setiap waktunya. Khawatir tentang kamu yang akan pergi dariku selama waktu, tidak hanya saat aku melambaikan tangan kepadamu malam itu di bus yang akan mengantarkanmu ke tempat barumu—yang katamu hanya 6 bulan saja.

***
Sudah 3 minggu kamu berada di tempat barumu itu. Aku fikir kamu sangat sibuk. Aku tahu. Ini tidak biasanya ketika kamu sekota denganku kamu selalu mengejutkanku dengan beberapa kata serupa syair cinta melalui bib bib handphone hitamku.
Aku ingat sekali ketika kamu masih sekota denganku, kamu selalu tak sabar ingin mendengar suaraku. Baru beberapa menit telephone dariku terputus saja kamu cepat cepat menelphone balik aku.

Atau pada hari setelah aku menemui kamu, setelah kita sama-sama sampai pada tempat kita masing-masing, kamu bilang ingin menemuiku lagi esoknya. "aku ingin membunuh rindu yang selalu saja angkuh setiap aku jauh dari kamu" katamu kala itu melalui petakan obrolan facebook yang berhasil membuatku tersipu.

Saat ini. Jangankan kita berbalas kata sayang, bertukar kabar saja rasanya sangat sulit sekali bagiku. Hahaha. Aku ingin sekali menertawai diriku karena menanti kamu. Aku yang selalu menanti kamu menghubungiku terlebih dahulu dan tak berani menghubungimu lebih dahulu. Aku ingin tertawa karena aku masih menanti kamu datang melalui ponselku yang tak segera berdering juga dengan harap-harap tak tentu. Aku ingin tertawa karena aku sudah tahu kamu tidak akan datang menghubungiku karena kesibukanmu di tempat barumu itu.

***
Sudah genap usia rinduku selama satu bulan. Kelihatannya itu sebuah bilangan yang sangat sedikit, bukan? Hanya ada bilangan 1 di balik bulan. Tapi tahukah kamu, bagiku itu sangatlah lama. Bukankah 1 bulan itu berarti 4 minggu yang artinya sudah 28 hari aku terjerat rindu karenamu. Sebenarnya.. Ingin sekali aku bersua denganmu memenggal rindu yang beringas meminta temu.

Selasa malam ke 4 selepas kepergianmu itu. Ada sedikit hati yang mengganjal menyinggahi rasaku. Aku merasa ada sesuatu yang berkeliaran di dadaku. Lebih tepatnya pada perasaanku. Entah ini namanya apa. tapi, sudahlah jangan pikirkan. Mungkin hanya sebuah akalku yang terlalu khwatir atas keberadaanmu disana selama 4 minggu ini.

***

2 hari kemudian, 30 hari setelah sekian lama aku menunggu moment terpenting antara aku dan kamu kemudian kita saling mengikatkan pada berkas berkas yang bernama kita akhirnya datang juga. Kamu bilang padaku "apa kabar, tuan putriku? Huh. Beberapa hari melihat tumpukan kertas dan pekerjaan yang tak usai-usai menyebabkan aku sangat kelelahan sampai tak sempat menghubung kamu sekedar menanyakan kabarmu."

Segera aku menanggapi pesanmu yang kukira namanya bukan lagi pesan singkat. Aku katakan aku baik-baik saja tanpa aku memberitahumu bahwa aku bigitu kecewa dengan dirimu yang tak sedikitpun memperhatikanku dan memberiku kabar beberapa minggu ini. Namun.. Katamu kemudian bahwa kamu sangat merindukanku. Kamu ingin menemuiku, mengusir rindumu yang menyelinap di hadapmu, leburlah sudah aku yang semula kecewa kepadamu. Kita lanjutkan bertukar pesan singkat smapai 3 segmen lalu aku rasa kamu kemudian tertidur lelah karena pekerjaanmu seharian menguras tenagamu. Aku kesal. Bagaimana tidak? Momentumku dan kamu yang bernama kita tiba-tiba kamu koyahkan dengan rasa kantuk yang menyebabkan kamu terjun ke alam mimpimu.

Kamu selalu saja begitu. Selalu saja menghilang meninggalkanku sendiri tanpa berpamit kepadaku terlebih dahulu. Seperti beberapa bulan lalu ketika aku dan kamu pergi jalan-jalan berlibur ke suatu tempat yang terbilang sangat bagus pesona alamnya kamu menyandarkan kepalamu di pangkuanku. Kemudian kita saling bercerita tentang apa yang nanti kita lakukan ketika kita telah sama-sama lulus dari pendidikan kita. Begitu juga aku bercerita mengenai keinginanku yang begitu banyak, ketika hendak aku bertanya pendapatmu tentang harapanku itu, kudapati dirimu telah terlelap tanpa berani aku mengganggumu.

Duh, betapa malunya aku atas tingkahmu yang selalu tertidur di pangkuanku tanpa memdulikan beberapa orang yang mencibirku mendapati aku memangku kepalamu dengan matamu yang terpejam. Aku ingin sekali marah namun aku membiarkan saja kamu tertidur pulas di pangkuanku. Karena disisi lain aku suka memandangi wajahmu ketika terlelap seperti itu.

Ah… menyenangkan sekali ketika aku harus mengingat masa-masa itu. Kamu yang selalu saja berbuat konyol dan membuatku kesal tak ada ampun itu. Kamu yang bisa saja membuatku kesal dengan sangat kemudian membuatku terpingkal sampai perutku sakit. Ah.. Aku rindu kamu. Sudah selama ini kamu pergi. Jadi, kapan kamu akan pulang lalu mengajakku menebas rindu yang kian kurangajar? Disini aku merindumu, apakah kamu tidak?

Salam, Perempuanmu

Rabu, 14 Mei 2014

Kenangan

sepasang kaki bergantian mulai berjalan. menapaki setiap jengkal kenyataan.
tapak pertama tampak baik-baik saja.
tapak kedua, ia mulai meragu langkah.
tapak brikutnya ia mulai tersadar,
bahwasannya ia akan meninggalkan kenangan.
lalu pada tapak tapak yang lain ia kembali terkenang
pada tapak yang ia tinggalkan.
lalu tapak itu mulai bertanya
"bagaimana cara ia meninggalkan tanpa mengenang?"

Entah apa

aku merasaimu berada di dada sebelah kiri.
aku baru tersadar ketika namamu tersebut ia melakukan reaksi dabar yang tak biasa terjadi.
tapi ketika kuketahui ada nama lain yang tersebut beriringan dengan namamu tadi,
seperti ditikam belati kemudian aku mati.
Sebenarnya sosok seperti apa kamu sampai berani membuatku seperti ini?

Jumat, 09 Mei 2014

Harap-- absurd!

Suatu kala, ada seorang wanita yang meringkuk dekam dingin di sudut malam karena pelukaan. Wajahnya terlihat pucat, terlukis jelas murung di rautnya. Matanya sembab. Memandang kosong apa yang ia pandang.

tubuhnya mengigil sepi. katanya ia baru saja mendapatkan pengabaian dari sosok yang ia harapkan datang. Padahal ia sering menunggui sosok itu datang berharap menungginya itu bersambut senyum dan peluk menghangatkan. Berharap dapat nengusir paksa gigil dari gelap pekat kesendirian yang ia rasai. Namun ujar si wanita, sosok itu belum juga datang merentangkan dekap dan menghangatkan wanita itu. 

Sampai suatu ketika ia bilang bahwa ia telah lelah menanti harap pada sosok yang tak kunjung datang namun masih menggantukan janji-janji temunya. janji untuk menemuinya dari ujung timur setiap paginya, hingga barat menenggelamkannya lagi.

Ia menyesal karena harap itu ia gantungkan kepada sosok yang katanya akan datang kembali memberikan hal hal indah yang baru kepadanya. Tapi apa yang si wanita itu pikirkan? dan apa yang wanita dapat? Kepalsuan--pikirnya.

tapi, bukankah itu hanya sangkaan-sangkaan wanita saja karena terlalu berharap dengan tak kenal sabar?

Rupanya, dibalik sangkaan sangkaan si wanita itu, sosok itu telah datang. menimpal bahwa wanita itu tidak dapat merasakan kehadirannya lantaran si wanita terlalu erat memeluk kesendirian malam. Tanpa ia memedulikan siapa yang datang menjemputnya untuk membantu menghentikan kenestapaan karena pikiran-pikirannya.

Kamis, 01 Mei 2014

Aku pernah

Aku pernah memilihmu...
Sebagai sosok yang pantas aku tunggu.
Aku pernah memilihmu...
Sebagai sosok yang patut aku rindu.
Aku pernah memlihmu...
Sebagai sosok yang menemani sepiku...

Karena aku mencintaimu.
Segala sesuatu tentangmu menjadikan aku untuk memilihmu.
Karena aku mencintaimu. Segala hal tentangmu adalah keterindahan bagiku.
Karena aku mencintaimu. Apapun tentangmu itu baik untukku.

Tapi aku dibuat buta oleh percintaan kapadamu.
Kamu membutakan aku dengan segala lakumu yang sangat berbeda di depanku dan di belakangku.
Kamu orang lain. Ketika kamu berada di depanku.
Namun kamu menjadi diri kamu yang sesungguhnya ketika kamu berada si belakangku.

Di depanku. Kamu katakan kata cinta yang mempu membuatku terbang ke awang menjauh dari tapakkan.
Di depanku. Kamu hadirkan pelukan yang mengahangatkan gigil tubuhku.
Di depanku. Kamu luruhkan air nata yang tertumpah karena kesepian yang mendekapku erat.

Sebelum aku tau bahwa di belakangku kamu tebarkan kata cinta untuk orang lain pula.
Sebelum aku tau jika di belakangku kamu singgap ke pelukan orang lain jua.
sebelum aku tau mengenai kamu yang berpura-pura mengusir kesepianku saja.

Namun itu dahulu.
Sebelum aku memutuskan untuk pergi darimu tanpa kembali lagi.
Sebelum aku memutuskan untuk meninggalkanmu dari kebohongan-kebohonganmu yang membodohkan.