Jumat, 09 Mei 2014

Harap-- absurd!

Suatu kala, ada seorang wanita yang meringkuk dekam dingin di sudut malam karena pelukaan. Wajahnya terlihat pucat, terlukis jelas murung di rautnya. Matanya sembab. Memandang kosong apa yang ia pandang.

tubuhnya mengigil sepi. katanya ia baru saja mendapatkan pengabaian dari sosok yang ia harapkan datang. Padahal ia sering menunggui sosok itu datang berharap menungginya itu bersambut senyum dan peluk menghangatkan. Berharap dapat nengusir paksa gigil dari gelap pekat kesendirian yang ia rasai. Namun ujar si wanita, sosok itu belum juga datang merentangkan dekap dan menghangatkan wanita itu. 

Sampai suatu ketika ia bilang bahwa ia telah lelah menanti harap pada sosok yang tak kunjung datang namun masih menggantukan janji-janji temunya. janji untuk menemuinya dari ujung timur setiap paginya, hingga barat menenggelamkannya lagi.

Ia menyesal karena harap itu ia gantungkan kepada sosok yang katanya akan datang kembali memberikan hal hal indah yang baru kepadanya. Tapi apa yang si wanita itu pikirkan? dan apa yang wanita dapat? Kepalsuan--pikirnya.

tapi, bukankah itu hanya sangkaan-sangkaan wanita saja karena terlalu berharap dengan tak kenal sabar?

Rupanya, dibalik sangkaan sangkaan si wanita itu, sosok itu telah datang. menimpal bahwa wanita itu tidak dapat merasakan kehadirannya lantaran si wanita terlalu erat memeluk kesendirian malam. Tanpa ia memedulikan siapa yang datang menjemputnya untuk membantu menghentikan kenestapaan karena pikiran-pikirannya.

2 komentar: