"baik-baik
disana, bhe. Jangan lupa, jaga hatiku baik-baik”
"bhie…
I love you."
Ah.. Sudah hampir melupa aku dengan apa yang
aku kata kepadamu beberapa waktu lalu sebelum keberangkatanmu untuk merantau di
provinsi seberang itu. Entah berapa kali aku bilang seperti itu kepadamu.
Sedangkan kamu hanya tersenyum simpul dan mengusap kepalaku kemudian kamu bilang
"Tidak usah khawatir. 6 bulan bukanlah waktu yang lama.” Lalu dengan
wajah dan gelagat konyolmu itu seperti biasa kamu bilang “Hati kamu aman disini. Aku sayang
kamu."
Pedih. Itu yang pertama kali aku rasakan ketika
aku mendapati diriku dan kamu telah berada di tengah-tengah lampu malam di tepi
terminal kota kelahiran kita. Malam itu. Hm. Rasanya belum siap untukku harus
berjauhan darimu
Entahlah nantinya apa yang akan terjadi setelah
aku jauh darimu. Mungkin rindu harus berpuasa lebih lama lagi untuk mengabulkan
sebuah temu. Belum lagi ketika kita—atau mungkin lebih tepatnya hanya aku saja—harus
menunggu waktu luangmu yang adanya sangat sempit untuk sekedar bertukar kata
"siang, sayang" atau "selamat pagi, bheb. Udah makan?" atau
beberapa baris huruf yang mudah sekali membuatku debar entah ketika kamu send
ke inboxku. Meskipun hanya sekali.
Khawatir. Adalah rasa kedua yang aku rasakan.
Belum dapat terima dan lagi-lagi belum siap pabila kamu meninggalkan diriku
sendiri menanti di pojok hening dengan penantian-penantian yang katamu 6 bulan
lagi akan bertemu--atau lebih tepatnya entah kapan akan berujungnya.
Aku khawatir, tentu. Sikapmu yang sering kali
genit dengan wanita lain itu yang membuatku khawatir. Takut sesekali kamu jatuh
cinta dengan seorang patner disana yang lebih lebih lebih dari diriku. Khawatir
ada wanita lain yang mengambil hatimu dari aku. Khawatir apabila kamu tiba-tiba
pergi dari hatiku yang mencoba aku pagar agar terjaga setiap waktunya. Khawatir
tentang kamu yang akan pergi dariku selama waktu, tidak hanya saat aku
melambaikan tangan kepadamu malam itu di bus yang akan mengantarkanmu ke tempat
barumu—yang katamu hanya 6 bulan saja.
***
Sudah 3 minggu kamu berada di tempat barumu
itu. Aku fikir kamu sangat sibuk. Aku tahu. Ini tidak biasanya ketika kamu
sekota denganku kamu selalu mengejutkanku dengan beberapa kata serupa syair cinta
melalui bib bib handphone hitamku.
Aku ingat sekali ketika kamu masih sekota
denganku, kamu selalu tak sabar ingin mendengar suaraku. Baru beberapa menit telephone
dariku terputus saja kamu cepat cepat menelphone balik aku.
Atau pada hari setelah aku menemui kamu,
setelah kita sama-sama sampai pada tempat kita masing-masing, kamu bilang ingin
menemuiku lagi esoknya. "aku ingin membunuh rindu yang selalu saja
angkuh setiap aku jauh dari kamu" katamu kala itu melalui petakan obrolan
facebook yang berhasil membuatku tersipu.
Saat ini. Jangankan kita berbalas kata sayang,
bertukar kabar saja rasanya sangat sulit sekali bagiku. Hahaha. Aku ingin
sekali menertawai diriku karena menanti kamu. Aku yang selalu menanti kamu
menghubungiku terlebih dahulu dan tak berani menghubungimu lebih dahulu. Aku
ingin tertawa karena aku masih menanti kamu datang melalui ponselku yang tak
segera berdering juga dengan harap-harap tak tentu. Aku ingin tertawa karena
aku sudah tahu kamu tidak akan datang menghubungiku karena kesibukanmu di
tempat barumu itu.
***
Sudah genap usia rinduku selama satu bulan. Kelihatannya
itu sebuah bilangan yang sangat sedikit, bukan? Hanya ada bilangan 1 di balik
bulan. Tapi tahukah kamu, bagiku itu sangatlah lama. Bukankah 1 bulan itu
berarti 4 minggu yang artinya sudah 28 hari aku terjerat rindu karenamu. Sebenarnya..
Ingin sekali aku bersua denganmu memenggal rindu yang beringas meminta temu.
Selasa malam ke 4 selepas kepergianmu itu. Ada
sedikit hati yang mengganjal menyinggahi rasaku. Aku merasa ada sesuatu yang
berkeliaran di dadaku. Lebih tepatnya pada perasaanku. Entah ini namanya apa.
tapi, sudahlah jangan pikirkan. Mungkin hanya sebuah akalku yang terlalu
khwatir atas keberadaanmu disana selama 4 minggu ini.
***
2 hari kemudian, 30 hari setelah sekian lama
aku menunggu moment terpenting antara aku dan kamu kemudian kita saling
mengikatkan pada berkas berkas yang bernama kita akhirnya datang juga. Kamu
bilang padaku "apa kabar, tuan putriku? Huh. Beberapa hari melihat
tumpukan kertas dan pekerjaan yang tak usai-usai menyebabkan aku sangat
kelelahan sampai tak sempat menghubung kamu sekedar menanyakan kabarmu."
Segera aku menanggapi pesanmu yang kukira namanya
bukan lagi pesan singkat. Aku katakan aku baik-baik saja tanpa aku
memberitahumu bahwa aku bigitu kecewa dengan dirimu yang tak sedikitpun
memperhatikanku dan memberiku kabar beberapa minggu ini. Namun.. Katamu
kemudian bahwa kamu sangat merindukanku. Kamu ingin menemuiku, mengusir rindumu
yang menyelinap di hadapmu, leburlah sudah aku yang semula kecewa kepadamu.
Kita lanjutkan bertukar pesan singkat smapai 3 segmen lalu aku rasa kamu
kemudian tertidur lelah karena pekerjaanmu seharian menguras tenagamu. Aku
kesal. Bagaimana tidak? Momentumku dan kamu yang bernama kita tiba-tiba kamu
koyahkan dengan rasa kantuk yang menyebabkan kamu terjun ke alam mimpimu.
Kamu selalu saja begitu. Selalu saja menghilang
meninggalkanku sendiri tanpa berpamit kepadaku terlebih dahulu. Seperti
beberapa bulan lalu ketika aku dan kamu pergi jalan-jalan berlibur ke suatu
tempat yang terbilang sangat bagus pesona alamnya kamu menyandarkan kepalamu di
pangkuanku. Kemudian kita saling bercerita tentang apa yang nanti kita lakukan
ketika kita telah sama-sama lulus dari pendidikan kita. Begitu juga aku
bercerita mengenai keinginanku yang begitu banyak, ketika hendak aku bertanya
pendapatmu tentang harapanku itu, kudapati dirimu telah terlelap tanpa berani
aku mengganggumu.
Duh, betapa malunya aku atas tingkahmu yang
selalu tertidur di pangkuanku tanpa memdulikan beberapa orang yang mencibirku
mendapati aku memangku kepalamu dengan matamu yang terpejam. Aku ingin sekali
marah namun aku membiarkan saja kamu tertidur pulas di pangkuanku. Karena disisi
lain aku suka memandangi wajahmu ketika terlelap seperti itu.
Ah… menyenangkan sekali ketika aku harus
mengingat masa-masa itu. Kamu yang selalu saja berbuat konyol dan membuatku
kesal tak ada ampun itu. Kamu yang bisa saja membuatku kesal dengan sangat
kemudian membuatku terpingkal sampai perutku sakit. Ah.. Aku rindu kamu. Sudah selama ini kamu
pergi. Jadi, kapan kamu akan pulang lalu mengajakku menebas rindu yang kian
kurangajar? Disini aku merindumu, apakah kamu tidak?
Salam, Perempuanmu

Tidak ada komentar:
Posting Komentar