Selasa, 20 Mei 2014

Aku Dan Rindu Yang Ada Kamu


"baik-baik disana, bhe. Jangan lupa, jaga hatiku baik-baik”
"bhie… I love you."

Ah.. Sudah hampir melupa aku dengan apa yang aku kata kepadamu beberapa waktu lalu sebelum keberangkatanmu untuk merantau di provinsi seberang itu. Entah berapa kali aku bilang seperti itu kepadamu. Sedangkan kamu hanya tersenyum simpul dan mengusap kepalaku kemudian kamu bilang "Tidak usah khawatir. 6 bulan bukanlah waktu yang lama.” Lalu dengan wajah dan gelagat konyolmu itu seperti biasa kamu bilang “Hati kamu aman disini. Aku sayang kamu."

Pedih. Itu yang pertama kali aku rasakan ketika aku mendapati diriku dan kamu telah berada di tengah-tengah lampu malam di tepi terminal kota kelahiran kita. Malam itu. Hm. Rasanya belum siap untukku harus berjauhan darimu

Entahlah nantinya apa yang akan terjadi setelah aku jauh darimu. Mungkin rindu harus berpuasa lebih lama lagi untuk mengabulkan sebuah temu. Belum lagi ketika kita—atau mungkin lebih tepatnya hanya aku saja—harus menunggu waktu luangmu yang adanya sangat sempit untuk sekedar bertukar kata "siang, sayang" atau "selamat pagi, bheb. Udah makan?" atau beberapa baris huruf yang mudah sekali membuatku debar entah ketika kamu send ke inboxku. Meskipun hanya sekali.

Khawatir. Adalah rasa kedua yang aku rasakan. Belum dapat terima dan lagi-lagi belum siap pabila kamu meninggalkan diriku sendiri menanti di pojok hening dengan penantian-penantian yang katamu 6 bulan lagi akan bertemu--atau lebih tepatnya entah kapan akan berujungnya.
Aku khawatir, tentu. Sikapmu yang sering kali genit dengan wanita lain itu yang membuatku khawatir. Takut sesekali kamu jatuh cinta dengan seorang patner disana yang lebih lebih lebih dari diriku. Khawatir ada wanita lain yang mengambil hatimu dari aku. Khawatir apabila kamu tiba-tiba pergi dari hatiku yang mencoba aku pagar agar terjaga setiap waktunya. Khawatir tentang kamu yang akan pergi dariku selama waktu, tidak hanya saat aku melambaikan tangan kepadamu malam itu di bus yang akan mengantarkanmu ke tempat barumu—yang katamu hanya 6 bulan saja.

***
Sudah 3 minggu kamu berada di tempat barumu itu. Aku fikir kamu sangat sibuk. Aku tahu. Ini tidak biasanya ketika kamu sekota denganku kamu selalu mengejutkanku dengan beberapa kata serupa syair cinta melalui bib bib handphone hitamku.
Aku ingat sekali ketika kamu masih sekota denganku, kamu selalu tak sabar ingin mendengar suaraku. Baru beberapa menit telephone dariku terputus saja kamu cepat cepat menelphone balik aku.

Atau pada hari setelah aku menemui kamu, setelah kita sama-sama sampai pada tempat kita masing-masing, kamu bilang ingin menemuiku lagi esoknya. "aku ingin membunuh rindu yang selalu saja angkuh setiap aku jauh dari kamu" katamu kala itu melalui petakan obrolan facebook yang berhasil membuatku tersipu.

Saat ini. Jangankan kita berbalas kata sayang, bertukar kabar saja rasanya sangat sulit sekali bagiku. Hahaha. Aku ingin sekali menertawai diriku karena menanti kamu. Aku yang selalu menanti kamu menghubungiku terlebih dahulu dan tak berani menghubungimu lebih dahulu. Aku ingin tertawa karena aku masih menanti kamu datang melalui ponselku yang tak segera berdering juga dengan harap-harap tak tentu. Aku ingin tertawa karena aku sudah tahu kamu tidak akan datang menghubungiku karena kesibukanmu di tempat barumu itu.

***
Sudah genap usia rinduku selama satu bulan. Kelihatannya itu sebuah bilangan yang sangat sedikit, bukan? Hanya ada bilangan 1 di balik bulan. Tapi tahukah kamu, bagiku itu sangatlah lama. Bukankah 1 bulan itu berarti 4 minggu yang artinya sudah 28 hari aku terjerat rindu karenamu. Sebenarnya.. Ingin sekali aku bersua denganmu memenggal rindu yang beringas meminta temu.

Selasa malam ke 4 selepas kepergianmu itu. Ada sedikit hati yang mengganjal menyinggahi rasaku. Aku merasa ada sesuatu yang berkeliaran di dadaku. Lebih tepatnya pada perasaanku. Entah ini namanya apa. tapi, sudahlah jangan pikirkan. Mungkin hanya sebuah akalku yang terlalu khwatir atas keberadaanmu disana selama 4 minggu ini.

***

2 hari kemudian, 30 hari setelah sekian lama aku menunggu moment terpenting antara aku dan kamu kemudian kita saling mengikatkan pada berkas berkas yang bernama kita akhirnya datang juga. Kamu bilang padaku "apa kabar, tuan putriku? Huh. Beberapa hari melihat tumpukan kertas dan pekerjaan yang tak usai-usai menyebabkan aku sangat kelelahan sampai tak sempat menghubung kamu sekedar menanyakan kabarmu."

Segera aku menanggapi pesanmu yang kukira namanya bukan lagi pesan singkat. Aku katakan aku baik-baik saja tanpa aku memberitahumu bahwa aku bigitu kecewa dengan dirimu yang tak sedikitpun memperhatikanku dan memberiku kabar beberapa minggu ini. Namun.. Katamu kemudian bahwa kamu sangat merindukanku. Kamu ingin menemuiku, mengusir rindumu yang menyelinap di hadapmu, leburlah sudah aku yang semula kecewa kepadamu. Kita lanjutkan bertukar pesan singkat smapai 3 segmen lalu aku rasa kamu kemudian tertidur lelah karena pekerjaanmu seharian menguras tenagamu. Aku kesal. Bagaimana tidak? Momentumku dan kamu yang bernama kita tiba-tiba kamu koyahkan dengan rasa kantuk yang menyebabkan kamu terjun ke alam mimpimu.

Kamu selalu saja begitu. Selalu saja menghilang meninggalkanku sendiri tanpa berpamit kepadaku terlebih dahulu. Seperti beberapa bulan lalu ketika aku dan kamu pergi jalan-jalan berlibur ke suatu tempat yang terbilang sangat bagus pesona alamnya kamu menyandarkan kepalamu di pangkuanku. Kemudian kita saling bercerita tentang apa yang nanti kita lakukan ketika kita telah sama-sama lulus dari pendidikan kita. Begitu juga aku bercerita mengenai keinginanku yang begitu banyak, ketika hendak aku bertanya pendapatmu tentang harapanku itu, kudapati dirimu telah terlelap tanpa berani aku mengganggumu.

Duh, betapa malunya aku atas tingkahmu yang selalu tertidur di pangkuanku tanpa memdulikan beberapa orang yang mencibirku mendapati aku memangku kepalamu dengan matamu yang terpejam. Aku ingin sekali marah namun aku membiarkan saja kamu tertidur pulas di pangkuanku. Karena disisi lain aku suka memandangi wajahmu ketika terlelap seperti itu.

Ah… menyenangkan sekali ketika aku harus mengingat masa-masa itu. Kamu yang selalu saja berbuat konyol dan membuatku kesal tak ada ampun itu. Kamu yang bisa saja membuatku kesal dengan sangat kemudian membuatku terpingkal sampai perutku sakit. Ah.. Aku rindu kamu. Sudah selama ini kamu pergi. Jadi, kapan kamu akan pulang lalu mengajakku menebas rindu yang kian kurangajar? Disini aku merindumu, apakah kamu tidak?

Salam, Perempuanmu

Tidak ada komentar:

Posting Komentar