bismillah...
kali ini saya akan membahas tentang kelulusan kakak-kakak yang baru saja menerima surat LULUS/TIDAKnya ujian tahun ini. hehe ini mungkin bakalan jadi tulisan late post, tapi gak ada salahnya buat dibahas.
hmm.... baru saja saya stalking twitter seorang psikolog, mungkin beliau adalah seorang psikolog remaja (hihihi mulai deh sok taunya) soalnya kebanyakan pembahasannya adalah mengenai kasus kasus remaja. gak sengaja, saya nemuin ini nih
nah, saya jadi inget. beberapa hari yang lalu, kira-kira tanggal 20 Mei waktu saya dan teman sedikit tidak baik saya, otw pulang dari sebuah tempat dimana disana hanya ada jajaran rak-rak dan tumpukan buku-buku (duh.. terlalu bertele-tele yaa :D ) alias perpustakaan, kami melihat kakak-kakak kelas--yang gatau dari sekolah mana--sedang beriring-iringan dengan mengendarai motor. aku kira mereka lagi pawai ta'aruf, namun melihat baju yang mereka kenakan, so IUH kalo mau dibilang pawai ta'aruf. tentu saja mereka sedang berkonvoi merayakan kelulusannya.
hmm.. saya dan teman saya yang pada saat itu antara terburu-buru dan kalem-kalem aja dikejer waktu, mau menyebrang aja nyaris kudu nunggu beberapa lama dulu sampai mereka yang berkonvoi berlalu. kita gak gila buat nyebrang pada kondisi kayak gitu. gak mungkin kan kita menyebrang disaat seperti itu. apalagi kita bukan kucing yang konon punya nyawa 9. kita masih sayang dengan nyawa kita.
kembali kemereka yang berkonvoi. mereka terdiri dari --mungkin-- 75an kendaraan bermotor. beriring-iringan dijalan raya, tanpa mengenakan properti berkendara secara lazimnya, seperti memakai helm. ada yang berboncengan dengan lawan jenis, ada yang rambutnya di modis sebagai pengganti helm--mungkin-- karena di cat berwarna warni. hihihi
melihat seperti itu temen saya bilang suruh memotret mereka yang lagi pada konvoi gitu. bagus buat liputan katanya. yaudah saya motret aja pake HP yang cameranya tak sebagus camera SLR.dan tiba-tiba aja muncul dibenak kita masing-masing gergara kita liat konvoi (entah ilegal atau enggak itu gak selese selese). "sebenernya apa manfaatnya seperti itu sih?" || "kalaupun buat kesenangan aja kan bisa di realisasikan dengan hal-hal yang lebih positive lagi" || "ihh kaya gitu apaan sih?? norak banget. || "apa gak sayang sama bensinnya kalo dibuat muter-muter kaya gitu?" || kasihan dong orang tuanya, apa gak tau gimana sulitnya cari uang?" || "yaa kalo bensinnya beli pake duit sendiri sih gapapa, kalo masih nodong orang tua....????" || "belum lagi kalo orang tuanya itu pekerjaannya gak tetap." || "Hadehh... cuman untuk kesenangan"
dan lain sebagainya
sebenernya saya bisa mengerti sih kenapa mereka melakukan tindakan seperti itu. yayalah karena saya juga pelajar yang pernah ngerasain lulus 2 kali ( SD sama MTs :D ) jadi, mungkin konvoi seperti itu menjadi hal yang sangat wajar menurut kacamata pelajar yang baru saja lulus. "sebagai wujud kesenangan atas keberhasilan mereka lulus dari SMA/MA/SMK" || "buat kenanganlah, seumur hidup cuman sekali doang" yayayaya bisa diterima. tapi, apakah bentuk kesenangan itu hanya berkonvoi aja? ngabisin bensin buat keliling kota? nunjukkin ke semua orang kalo AKU UDAH LULUS NIH LOH? mencoret-coret seragam putih abu-abu mereka?
tapi disisi lain saya kurang setuju. kenapa? why? limadza?
hey, see. tidak semua pelajar itu berbahagia karena mendapatkan surat pemberitahuan berjejer 5 huruf menggembirakan buat siapapun yang merasai debar penantian dengan kata "LULUS". di luar sana, mungkin saja ada pelajar yang mendapati sebelum 5 huruf itu dengan imbuhan 5 huruf lain: "TIDAK LULUS". mungkin saja diluar sana ada yang menangis-nangis karena ada satu kata yang keimbuhan dengan kata lain. dan tidakkah terbesit dipikran kita bahwa diluar sana ada orang yang sangat membutuhkan uang dan baju seragam untuk sekolahnya?
mereka sudah dewasa, berfikirkah mereka mengenai kehidupan sosial? ada yang membutuhkan uluran tangan mereka. hm... daripada uanganya mubazir buat beli bensin sama cat lalu coret-coret rambut sama seragam terus muter-muter gak tau tujuan mau kemana pada akhirnya, apalagi yang beralasan buat kenang-kenangan seumur hidup satu kali, atau bentuk rasa syukur atas lulusnya mereka dari SMA/MA/SMK mending uang dan sragamnya di sumbangin buat orang yang kurang mampu. di sedekahin kek gitu. hihi bukankah itu lebih bermanfaat??
dan, kak. tindakan kakak kakak itu akan menyisakan bekas buat adek-adek kakak. tolong, untuk adek-adek kakak termasuk saya dan teman-teman saya, jangan lagi mengenalkan kami dengan hal-hal yang kurang bermanfaat dan hanya mementingkan kesenangan individual lagi. paling tidak ajarkan kami tentang berbagi antar satu dengan yang lainnya.. terimakasih telah membaca.

Tapi kenapa ya setiap tahun selalu ada tradisi konvoi dan coret coret ? Apa secara tidak langsung sekolahan terkait juga mendukung untuk sbg salah satu media promosi ? Menunjukkan bahwa "ini lho peserta didik kita yang lulus sekian banyak"
BalasHapus