Jumat, 19 Desember 2014

Resensi Buku 60 Puisi Terbaik Indonesia Tahun 2009


                  
Judul Buku      : 60 Puisi Terbaik Indonesia Tahun 2009; Anugerah Sastra pena Kencana
Pengarang     : Acep Zamzam Noor, Alois A. Nugroho, A. Muttaqien, Ari Pahala  Hutabarat, Deddy Arsya, Esha Tegar Putra, Fitri Yani, Frans Nadjira, Gunawan Maryanto, Hasan Aspahani, Inggit Putria Marga, I Nyoman Wirata, Isbedy Stiawan ZS, Jamal D. Rahman, Joko Pinurbo, Komang Ira Puspitaningsih, Kurnia Effendi, Lupita Lukman, Mardi Luhung, Marhalim Zaini, Nana Rishki Susanti, Nersalya Renata, Ni Made Purnama Sari, Nirwan Dewanto, Oka Rusmini, Ook Nugroho, Ramon Damora, Romi Zarman, Sindu Putra, Sunlie Thomas Alexander, Timur Sinar Suprabana, Triyanto Triwikromo, TS Pinang, Warih Wisatsana.
Tebal             : 160 halaman
Penerbit        : PT Gramedia Pustaka Utama
Harga            : Rp 43.000
Tahun Terbit : Catakan Pertama, Februari 2009
                      Cetakan Kedua, Juni 2009
&&&
            Buku ini merupakan kumpulan puisi yang telah terseleksi dari koran-koran terkemuka di Indonesia. Setelah sekali lagi disaring oleh tim juri Pena Kencana (Sapardi Joko Damono, Sitok Srengenge dan Joko Pinurbo) terpilihlah 60 puisi yang temanya bervariasi. Dan buku ini berhasil terbit pada Februari 2009 oleh Anugrah Sastra pena Kencana dan diterbitkan oleh PT Gramedia Pustaka Utama.
            Jujur, pertamakali melihat buku ini saya tidak tertarik sama sekali untuk membacanya karena covernya yang kurang menarik. Namun ketika saya membaca prolog dari Triyanto Triwikromo sebagai penyelenggara yang berujar “Apakah kesusastraan Indonesia hidup dalam suasana yang kondusif? Apa boleh buat jawabannya: ia masih nelangsa. Ia diproduksi dengan semangat gegap-gempita, tetapi tetap tak menyihir manusia-manusia di luar dunia teks untuk membaca kaya-karya yang dianggap sangat elistis tidak bertolak dari kenyataan sosial, dan kian jauh meninggalkan persoalan-persoalan sejarah bangsanya itu.” membuat saya tergugah untuk berselancar pada kata-demi kata di dalam puisi ini.
Ah, membaca buku ini saya seperti dipermainkan oleh kata. Kadang suka karena sekali baca langsung faham, namun kadang jengkel dan bebal karena ada beberapa kata yang sulit untuk saya fahami—mungkin karena faktor saya bukan anak sastra kali yaa. Tapi beginilah puisi, suka-suka yang menulis. Untuk di bikin sesuai dengan minat pembaca dengan terpaksa, maka karyanya pun akan terancam membosankan dan menjemukan. Jadi sekali lagi, baiklah… suka-suka yang nulis—saya mengerti.
&&&
Kita tentu tahu bahwa yang namanya perasaan itu sukar untuk diungkapkan. Dan apa yang dirasa pun musykil untuk ditumpahkan. Kecuali dengan puisi.
Membaca buku ini, saya jadi menyadari suatu hal, bahwa puisi adalah perwakilan rasa untuk berbicara. Dan sajak adalah agen dari sebuah rasa yang katanya musykil untuk dituturkan.
Sajak maupun puisi adalah bahasa perasaan yang memaksa untuk diperhatikan. Ataupun tutur rasa yang sangat manja dan menyebalkan. Terlebih lagi perihal rindu. Adalah rasa yang datang dari berantah dan entah untuk dipahami oleh logika. Misalnya, kalau memang rindu kenapa tidak bilang langsung saja kepada yang dituju bahwa “aku merindukanmu?” Nah, hal ini saya jumpai pada sajak rindu yang banyak dilahirkan di buku ini. Salah satunya dari sajak Metamorforsis oleh A Muttaqien:
“Pada mulanya adalah bunga: sekuntum doa yang menggigil di bibir senja. Pada mulanya adalah bunga: kelopak mata yang mekar di kedalaman rahasia. Pada mulanya adalah bunga: setangkai cinta yang akan jadi buah. Rindu” (Hal. 12)
            Tentu saja bukan hanya rindu yang tertuang di buku ini. Masih banyak lagi sajak yang mewakili bahasa rasa di dalamnya. Suka, duka, kesal, damba, dan lain-lain sebagainya.
&&&
            Layaknya pelangi yang memiliki warna lebih dari 3 rona, buku ini tak kalah berwarna dengan berbagai bahasa rasa yang saya utarakan seperti kata diatas tadi. Dan lagi, semua mempesona. Membuat saya terbuai serta ingin berlama-lama membaca buku ini dan membabat habis setiap katanya—meskipun saya berkali-kali dipermainkan oleh beberapa kata di sana-sini.
            Sudah saya katakan, saya bukanlah bocah sastra, namun saya suka kata. Nyaris semua puisi di dalam buku ini saya suka dan senang membacanya. Tetaplah, diantara beberapa hal yang disuka, pasti ada salah satu yang paling disuka. Salah satu yang paling saya sukai adalah sajak dari Hasan Aspahani berjudul Yang Sajak, Yang Kata.
“Ketika kau tuliskan sajak-sajak suram, ketika itu pula mata kata memejam.
“Apabila tak kau tulis sebait pun sajak, Ada kata yang diam-diam hendak berteriak.
“Saat kau dilahitkan sajak sebait, Sejak itu kata mengenal jerit sakit.
“Walau tak datang sajak yang kau undang, Jangan kau usir kata asing yang datang.
“Kau sembunyikan di mana jejak sajakmu? Selalu ada kata rindu memaksa bertemu.
“Ada sajak yang kau tuangkan ke gelas, Siapakah yang mereguk kata hingga tandas?
“Jika kau paksa juga menulis sajak, Kata memang tiba, tapi makna jauh bertolak.
“jangan ajari sajakmu mengucap dusta, Sebab mulutmu akan dibungkam kata-kata.
“Biarkan sajakmu dicela dicaci dinista, Karena maki Cuma kata yang cemburu buta.
“Di mana kau simpan sajak terbaik? Di hati, lalu biarkan kata mengucap tabik.
“Pernahkah sajak meminta lebih darinya? Kata berkata: ah apalah, aku cuma kata…” (Hal. 26)
Nah… bagi teman-teman yang sama seperti saya; sama-sama menyukai kata. Buku ini sangat layak untuk dikonsumsi oleh kamu sekalian sebagai muda-mudi bangsa yang mendamba frasa maupun kata.
Dan pada akhirnya, buku dari Anugerah Sastra Pena Kencana memang menjadi anugrah bagi penyuka frasa dan kata. Baik muda maupun tua--saya pikir seperti itu. Selamat membaca dan semoga tak di permainkan oleh kata seperti saya.

Happy reading…

Ps: dikutip dari beberapa sumber

Sabtu, 13 Desember 2014

Dera

Aku ini sepi.
Terjebak enyah menunggui, tetapi
Serupa nyaman mulai menepi
Pergi... jangan kembali.
Aku mati
Kenapa tak bunuh saja aku sekalian?
Aku lelah menunggu nanti
Yang tak bertepi,
Lama telah.
AKu kalah telak.
Aku sekarat.
Pergi-pergi...
Lalu kembali sesuka hati
Aku apa menurutmu?
Kau singgai lalu kau campa,
Tak peduli
Permisi, aku protes;
Cepat kembali.
Menetaplah dan jangan kemana-mana agi
Hahhh!!!!
Terdakwa kau!!!
Bedebah! Bersenda dengan biar!
Melihat aku pun tidak ketara, enyah.

Minggu, 07 Desember 2014

bismillah... ini nemu tulisan di note netbook saya. lupa sumbernya darimana. tapi semoga saja bermanfaat untuk para pembaca. heheheh :D

janganlah kau berdusta atas nama cinta.. lalu kau lampiaskan cinta dengan syahwatmu.. jagalah hati dengan cinta- Nya.. karena betapapun kita memalingkan hati, hanya kepada Nya lah kita kembali.. dan hanyalah cinta Nya abadi.. kecantikan yang mempesonamu.. apalah artinya jika hanya menyesatkanmu.. jangan tertipu dengan bisik godaannya.. betapa banyak orang yang mengaku patah hati.. padahal cinta belum lah halal baginya.. lalu merenunglah ia dan menangisinya.. sudikah ia menangisi maksiatnya karena enggan menjauh darinya?? sesungguhnya cinta hakiki membawa kepada kebahagiaan abadi.. raihlah cinta yang berpahala.. cinta yang suci di atas perjanjian yang kuat.. Ia menggambarkannya sebagai “mitsaqon gholidzho”(perjanjian yang kuat) “…Dan mereka (isteri-isterimu) telah mengambil dari kamu perjanjian yang kuat.” (An-Nisa: 21) -allahummaghfirlii maa qoddamtu wa maa akh-khortu-

Sabtu, 06 Desember 2014

Sebuah Damba

Saya sering bertanya tanya tentang sebuah damba yang berakhir luka atau tentang suka yang berujung duka. mengapa mereka selalu membawa kecewa?



Apa memang selalu seperti itu damba dan suka berada? Dicipta untuk mendampingi luka dan duka. Ujung-ujungnya kecewa. || Tidak! Tentu tidak. Ini pastilah saya yang salah. Luka ada pasti karna terlalu berharap. Duka ada pasti karna terlalu mendamba. sedang Kecewa ada karna terlalu memberi ruang pada mereka.


Seseorang pernah berkata "bukankah sesuatu yang terlalu itu tak selalu damai dengan mau. Jangan terlalu mengelu-elukan merea. Nanti kecewa. Nanti terluka. Nanti merana. Nanti berduka." || baik. Saya yang terlalu mengelu-elukan mereka. Tidak seharusnya begitu. || Ya.. Tapi saya tak percaya dengan damba berakhir luka, suka berujung duka. Lalu kecewa. bahkan merana. rasanya tak adil.
Saya tidak percaya. || Seseorang mengajarkan kepada saya, bahwa memang begitu adanya damba dan suka… selalu ada kecewa dan sejenisnya. mereka tentu telah diciptakan oleh Dia Yang Maha Adil dan Bijaksana dengan sepaket rasa beraneka. Duka. Luka. Kecewa. Merana. Sengsara. Tapi jangan bersedih. DIA Maha Kasih tak akan lupa mencipta suka dan bahagia.

"dan ingat, jangan ada kata terlalu. Cukuplah dengan cukup." begitu imbuhnya.
Pada senja yang murung.
Oleh perempuan yang tengah gelisah mendamba.
17:44, Sab 06-12-2014

Kamis, 14 Agustus 2014

Mengenai Kehilangan


Pernah, begitu mencintai namun di tinggalkan? Pernah, begitu menyayangi namun di tinggal pergi? Pernah, begitu menggenggam namun terlepas? Pernah, begitu sangat memiliki namun pada akhirnya kamu kehilangan? Bukan. Ini bukan tentang patah hati karena di hianati. Atau depresi karena di tinggal pergi. Dan bukan… ini bukan tentang kamu diberikan janji kemudian kamu di bohongi. Namun ini tentang takdir yang memintamu dan sosok yang kamu sayangi harus terpisah oleh suatu hal yang memang sudah menjadi kehendak Tuhan.

Nah, Sudahkah kalian? Sudahkah kalian pernah merasakan apa yang pernah saya rasakan itu?

Ini tentang kisah saya yang menyayangi namun di tinggal pergi. saya berjanji akan bercerita. Mengapa saya begitu sangat bersedih karena kepergian sosok itu. Saya berjanji akan bercerita mengapa saya sangat kehilangan oleh sosok yang saya maksudkan ini. ini sajak tentang kehilangan. Jadi tolong kepada kalian yang tengah membaca tulisan saya ini, duduklah sebentar, biarkan saya bercerita, kemudian kalian boleh pergi dari tulisan yang saya tulis ini.

***

Dia sosok yang manis, lucu, lugu, menyenangkan, menggemaskan, menyebalkan, dan kamu yang dekat dengannya pasti tak akan sanggup jauh darinya berlama-lama. Seperti halnya aku yang memilikinya. Aku tak dapat jauh darinya. Aku selalu merindukannya ketika aku berada jauh darinya. Dia milikku. Aku menyayanginya.

Dia milikku, dan aku menyayanginya.
Aku ingat 5 desember 2013 lalu dia datang kepadaku. Aku mendapati dirinya dari kakakku, kakak pertamaku. Aku mengenalnya. Kupeluk dirinya, kubelai dia, dan pertama kalinya saat aku memeluknya, itu adalah kali pertama aku dan dia mulai mengikat sebuah kedekatan yang akan mengubah aku dan dia menjadi KAMI.

Dia menggemaskan. Dia milikku, dan aku menyayanginya.
Dia masih kecil sekali. Tak sebesar tanganku. Dia seekor bayi kucing yang menggemaskan. Ah, lucu sekali, bulunya yang hitam mulus di bagian atas, dan berpadu dengan warna putih di bagian bawah. Aku beri saja nama dia BLENTONG. Aku menyukainya. Aku yaqin dia menyukaiku pula. Lalu, kami bersahabat. Kami berteman akrab.

Dia menyenangkan. Dia milikku, dan aku menyanginya.
Ketika semesta tengah melukiskan kisah sedihku, dirinya datang, menghiburku, dengan caranya sendiri tentunya. Aku selalu suka. Aku menyayanginya.

Dia menyebalkan, tapi dia milikku, dan aku menyayanginya.
Pernah suatu ketika aku akan memandikan dia di belakang rumah, dia marah karena kesalahanku, memberinya air dingin, kakiku di cakar dia. berdarah. Aku sebal padanya. Tapi aku menyayanginya. Dia lari dariku. Sampai beberapa hari dia tak mau lagi aku gendong dan bermain padaku. Tapi sudah kubilang aku menyayanginya. Dan dia menyayangiku pula. Aku tahu persis hal itu, terlihat dari cara dia tak betah berlama lama menyuekiku. Dia kembali kepelukanku.

Dia menyebalkan..
Ketika lebaran kemarin sohibku datang kerumahku, sohibku yang sering menannyakan keberadaannya namun sangat takut ketika bertemu dengan dirinya, dia malah jahil dan nakal, berlari mendatangi temanku, dengan cepat temanku lari keatas kursi dan merengek ketakutan. Aku menggendongnya. Tertawa geli dengan kelakuan dirinya membuat sohibku ketakutan seperti itu

Dia sangat rewel. Tapi dia milikku, dan aku menyayanginya.
Entah pada bulan keberapa dia bersamaku, tapi kebiasaannya mengeyong yang terkadang aku artikan sebagai kode dia sedang kelaparan sering kali malah ketika makanan untuknya sudah tersedia, ia malah tak mau makan. Oh, rupanya dia sedang kesakitan. Ibuku, biadanya yang sangat perhatian dengannya, membuatkannya susu madu. Dia menyukainya. Dia kembali sehat seperti semula.

Dia penemanku yang tengah kesepian. Dan dia milikku, aku menyayanginya.
Pada malam yang sepi, aku kedinginan. Entah pada saat itu pukul berapa malam, namun aku ingat, malam itu sudah terlalu larut. Aku terbangun dari mimpiku yang sangat buruk. Dia mengeyong. Datang kepadaku. Kemudian dia tidur dia bawah kakiku. Sudah berapa kali aku bilang? Aku menyayanginya.

Aku merindukannya, dia yang milikku, aku yang menyayanginya, dan dia yang menyayangiku pula. Dia sakit, bulan agustus ini, entah sejak kapan dia sakit, aku lupa. Tapi dia tak mau makan. Dia tak mau masuk rumah. Saat itu aku sangat sibuk. Aku bahkan sedikit tak peduli dengan dirinya. Bukan berarti aku tak menyayanginya lagi. aku tetap menyayanginya. Tapi aku sudah kelas 3. waktuku untuk bersama dengan dirinya berkurang. Dia sakit. Tapi aku bingung bagaimana cara merawatnya. Ibuku seperti biasa membuatkannya susu dengan madu. Dia tak mau meminumnya. Aku tidak tahu. Kenapa dia. sakit apa dia.

Dan pada suatu hari, mungkin satu minggu yang lalu atau beberapa hari yang lalu entah hari apa aku lupa. Dia datang kepadaku. Mengikutiku. Dia mendatangiku ke kamar. Dia berputar putar di kakiku. Tapi aku hendak berangkat ke sekolah. Aku tidak mengerti. Aku sebal dengannya. Dia pergi. Aku pergi. Beberapa hari kemudian setelah kejadian itu, benarlah dia pergi. Sampai saat itu pula aku tak pernah melihatnya lagi.

Kemarin, ibuku baru saja pulang dari Palembang. Kakak pertamaku bilang kepada ibuku, memberitahukan bahwa kucingnya mati beberapa hari yang lalu. Aku baru saja bangun tidur. Tapi aku mendengar dengan jelas apa yang dikatakan oleh kakak pertamaku. Aku tak salah mendengar. Tangisku pecah. Tak peduli ada siapa saja aku menangis sejadinya. Saudara-saudaraku yang mengetahui akan hal itu pun angkat bicara. Ketika Blentong bermaon, Blentong di tabrak orang yang tak bertanggung jawab. Nyawa blentong tak bisa di selamatkan. Dia pergi. Benar-benar pergi. Aku tak kuasa menahan tangisanku. Menyedihkan sekali. Ini semua salahku. aku tak dapat menjaganya dengan benat.

Aku kehilangan sosoknya. Aku kehilangan Blentong bukan hanya sehari saja. atau seminggu. Namun ini untuk seamanya. Aku tak akan melihatnya lagi. dia pergi dariku. Tak akan pernah kembali pada pelukanku lagi. aku kehilangan dia, untuk s-e-l-a-m-a-n-y-a.

Kehilangannya menyadarkanku akan beberapa hal. Dia yang milikku, rupanya tak pernah menjadi milikku. Dia yang kugenggam, nyatanya tak pernah kugenggam. Dia milikNya. Dia berada pada kuasaNya. Dia hanya titipan yang diberikan olehNya kepadaku saja. Dia hanya menjadi titipan untukku. Dan aku, tak bisa menjaga titipan itu dengan benar.

Ketahuilah blentong… disini aku merindukanmu. Aku rindu kamu yang tidur di bawah kakiku. Aku rindu kamu yang bermain denganku. Aku rindu dengan kamu yang ketika kupanggil, kau akan berlari dan mengeong kearahku, mendatangiku, mengajakiku bercanda dan bermain lagi secara bersama. Tidak lagi sekarang. Tidak lagi aku dapat bermain main lagi bersamamu. Kita sudah berbeda dunia. Tapi, aku masih menyayangimu.

Blen, disini banyak sekali yang menengkan aku agar tak menangisi kepergianmu, mereka banyak yang bilang akan ada lagi pengganti dirimu. Tapi semudah itukah mereka bilang begitu? Saat ini saja aku tidak tahu bagaimana cara aku untuk menghapus kesedian akan kepergianmu. Apalagi mencari penggantimu. Apa ada yang sama seperti dirimu? Menyenangkan seperti kamu? Entah. Aku lelah..

Blen, aku bertanya tanya dengan apalagi aku mengenangmu kecuali dengan tulisan sederhana ini, Blen? Dan dengan kenangan permainan yang sering kita mainkan? Ada hal yang ingin kusampaikan. Kepadamu yang begitu kurindukan. Aku mencintaimu. Aku menyayangimu, Blentong..

Tertanda, aku yang menyayangimu
dan sangat merindukanmu,
Maeda

14 Agustus 2014


Minggu, 25 Mei 2014

perayaan coret-mencoret selepas kelulusan

bismillah...
kali ini saya akan membahas tentang kelulusan kakak-kakak yang baru saja menerima surat LULUS/TIDAKnya ujian tahun ini. hehe ini mungkin bakalan jadi tulisan late post, tapi gak ada salahnya buat dibahas.

hmm.... baru saja saya stalking twitter seorang psikolog, mungkin beliau adalah seorang psikolog remaja (hihihi mulai deh sok taunya) soalnya kebanyakan pembahasannya adalah mengenai kasus kasus remaja. gak sengaja, saya nemuin ini nih

nah, saya jadi inget. beberapa hari yang lalu, kira-kira tanggal 20 Mei waktu saya dan teman sedikit tidak baik saya, otw pulang dari sebuah tempat dimana disana hanya ada jajaran rak-rak dan tumpukan buku-buku (duh.. terlalu bertele-tele yaa :D ) alias perpustakaan, kami melihat kakak-kakak kelas--yang gatau dari sekolah mana--sedang beriring-iringan dengan mengendarai motor. aku kira mereka lagi pawai ta'aruf, namun melihat baju yang mereka kenakan, so IUH kalo mau dibilang pawai ta'aruf. tentu saja mereka sedang berkonvoi merayakan kelulusannya.

hmm.. saya dan teman saya yang pada saat itu antara terburu-buru dan kalem-kalem aja dikejer waktu, mau menyebrang aja nyaris kudu nunggu beberapa lama dulu sampai mereka yang berkonvoi berlalu. kita gak gila buat nyebrang pada kondisi kayak gitu. gak mungkin kan kita menyebrang disaat seperti itu. apalagi kita bukan kucing yang konon punya nyawa 9. kita masih sayang dengan nyawa kita.

kembali kemereka yang berkonvoi. mereka terdiri dari --mungkin-- 75an kendaraan bermotor. beriring-iringan dijalan raya, tanpa mengenakan properti berkendara secara lazimnya, seperti memakai helm. ada yang berboncengan dengan lawan jenis, ada yang rambutnya di modis sebagai pengganti helm--mungkin-- karena di cat berwarna warni. hihihi

melihat seperti itu temen saya bilang suruh memotret mereka yang lagi pada konvoi gitu. bagus buat liputan katanya. yaudah saya motret aja pake HP yang cameranya tak sebagus camera SLR.
dan tiba-tiba aja muncul dibenak kita masing-masing gergara kita liat konvoi (entah ilegal atau enggak itu gak selese selese). "sebenernya apa manfaatnya seperti itu sih?" || "kalaupun buat kesenangan aja kan bisa di realisasikan dengan hal-hal yang lebih positive lagi" || "ihh kaya gitu apaan sih?? norak banget. || "apa gak sayang sama bensinnya kalo dibuat muter-muter kaya gitu?" || kasihan dong orang tuanya, apa gak tau gimana sulitnya cari uang?" || "yaa kalo bensinnya beli pake duit sendiri sih gapapa, kalo masih nodong orang tua....????" || "belum lagi kalo orang tuanya itu pekerjaannya gak tetap." || "Hadehh... cuman untuk kesenangan"
dan lain sebagainya

sebenernya saya bisa mengerti sih kenapa mereka melakukan tindakan seperti itu. yayalah karena saya juga pelajar yang pernah ngerasain lulus 2 kali ( SD sama MTs :D ) jadi, mungkin konvoi seperti itu menjadi hal yang sangat wajar menurut kacamata pelajar yang baru saja lulus. "sebagai wujud kesenangan atas keberhasilan mereka lulus dari SMA/MA/SMK" || "buat kenanganlah, seumur hidup cuman sekali doang" yayayaya bisa diterima. tapi, apakah bentuk kesenangan itu hanya berkonvoi aja? ngabisin bensin buat keliling kota? nunjukkin ke semua orang kalo AKU UDAH LULUS NIH LOH? mencoret-coret seragam putih abu-abu mereka?

tapi disisi lain saya kurang setuju. kenapa? why? limadza?

hey, see. tidak semua pelajar itu berbahagia karena mendapatkan surat pemberitahuan berjejer 5 huruf menggembirakan buat siapapun yang merasai debar penantian dengan kata "LULUS". di luar sana, mungkin saja ada pelajar yang mendapati sebelum 5 huruf itu dengan imbuhan 5 huruf lain: "TIDAK LULUS". mungkin saja diluar sana ada yang menangis-nangis karena ada satu kata yang keimbuhan dengan kata lain. dan tidakkah terbesit dipikran kita bahwa diluar sana ada orang yang sangat membutuhkan uang dan baju seragam untuk sekolahnya?

mereka sudah dewasa, berfikirkah mereka mengenai kehidupan sosial? ada yang membutuhkan uluran tangan mereka. hm... daripada uanganya mubazir buat beli bensin sama cat lalu coret-coret rambut sama seragam terus muter-muter gak tau tujuan mau kemana pada akhirnya, apalagi yang beralasan buat kenang-kenangan seumur hidup satu kali, atau bentuk rasa syukur atas lulusnya mereka dari SMA/MA/SMK mending uang dan sragamnya di sumbangin buat orang yang kurang mampu. di sedekahin kek gitu. hihi bukankah itu lebih bermanfaat??

dan, kak. tindakan kakak kakak itu akan menyisakan bekas buat adek-adek kakak. tolong, untuk adek-adek kakak termasuk saya dan teman-teman saya, jangan lagi mengenalkan kami dengan hal-hal yang kurang bermanfaat dan hanya mementingkan kesenangan individual lagi. paling tidak ajarkan kami tentang berbagi antar satu dengan yang lainnya.. terimakasih telah membaca.

Selasa, 20 Mei 2014

Aku Dan Rindu Yang Ada Kamu


"baik-baik disana, bhe. Jangan lupa, jaga hatiku baik-baik”
"bhie… I love you."

Ah.. Sudah hampir melupa aku dengan apa yang aku kata kepadamu beberapa waktu lalu sebelum keberangkatanmu untuk merantau di provinsi seberang itu. Entah berapa kali aku bilang seperti itu kepadamu. Sedangkan kamu hanya tersenyum simpul dan mengusap kepalaku kemudian kamu bilang "Tidak usah khawatir. 6 bulan bukanlah waktu yang lama.” Lalu dengan wajah dan gelagat konyolmu itu seperti biasa kamu bilang “Hati kamu aman disini. Aku sayang kamu."

Pedih. Itu yang pertama kali aku rasakan ketika aku mendapati diriku dan kamu telah berada di tengah-tengah lampu malam di tepi terminal kota kelahiran kita. Malam itu. Hm. Rasanya belum siap untukku harus berjauhan darimu

Entahlah nantinya apa yang akan terjadi setelah aku jauh darimu. Mungkin rindu harus berpuasa lebih lama lagi untuk mengabulkan sebuah temu. Belum lagi ketika kita—atau mungkin lebih tepatnya hanya aku saja—harus menunggu waktu luangmu yang adanya sangat sempit untuk sekedar bertukar kata "siang, sayang" atau "selamat pagi, bheb. Udah makan?" atau beberapa baris huruf yang mudah sekali membuatku debar entah ketika kamu send ke inboxku. Meskipun hanya sekali.

Khawatir. Adalah rasa kedua yang aku rasakan. Belum dapat terima dan lagi-lagi belum siap pabila kamu meninggalkan diriku sendiri menanti di pojok hening dengan penantian-penantian yang katamu 6 bulan lagi akan bertemu--atau lebih tepatnya entah kapan akan berujungnya.
Aku khawatir, tentu. Sikapmu yang sering kali genit dengan wanita lain itu yang membuatku khawatir. Takut sesekali kamu jatuh cinta dengan seorang patner disana yang lebih lebih lebih dari diriku. Khawatir ada wanita lain yang mengambil hatimu dari aku. Khawatir apabila kamu tiba-tiba pergi dari hatiku yang mencoba aku pagar agar terjaga setiap waktunya. Khawatir tentang kamu yang akan pergi dariku selama waktu, tidak hanya saat aku melambaikan tangan kepadamu malam itu di bus yang akan mengantarkanmu ke tempat barumu—yang katamu hanya 6 bulan saja.

***
Sudah 3 minggu kamu berada di tempat barumu itu. Aku fikir kamu sangat sibuk. Aku tahu. Ini tidak biasanya ketika kamu sekota denganku kamu selalu mengejutkanku dengan beberapa kata serupa syair cinta melalui bib bib handphone hitamku.
Aku ingat sekali ketika kamu masih sekota denganku, kamu selalu tak sabar ingin mendengar suaraku. Baru beberapa menit telephone dariku terputus saja kamu cepat cepat menelphone balik aku.

Atau pada hari setelah aku menemui kamu, setelah kita sama-sama sampai pada tempat kita masing-masing, kamu bilang ingin menemuiku lagi esoknya. "aku ingin membunuh rindu yang selalu saja angkuh setiap aku jauh dari kamu" katamu kala itu melalui petakan obrolan facebook yang berhasil membuatku tersipu.

Saat ini. Jangankan kita berbalas kata sayang, bertukar kabar saja rasanya sangat sulit sekali bagiku. Hahaha. Aku ingin sekali menertawai diriku karena menanti kamu. Aku yang selalu menanti kamu menghubungiku terlebih dahulu dan tak berani menghubungimu lebih dahulu. Aku ingin tertawa karena aku masih menanti kamu datang melalui ponselku yang tak segera berdering juga dengan harap-harap tak tentu. Aku ingin tertawa karena aku sudah tahu kamu tidak akan datang menghubungiku karena kesibukanmu di tempat barumu itu.

***
Sudah genap usia rinduku selama satu bulan. Kelihatannya itu sebuah bilangan yang sangat sedikit, bukan? Hanya ada bilangan 1 di balik bulan. Tapi tahukah kamu, bagiku itu sangatlah lama. Bukankah 1 bulan itu berarti 4 minggu yang artinya sudah 28 hari aku terjerat rindu karenamu. Sebenarnya.. Ingin sekali aku bersua denganmu memenggal rindu yang beringas meminta temu.

Selasa malam ke 4 selepas kepergianmu itu. Ada sedikit hati yang mengganjal menyinggahi rasaku. Aku merasa ada sesuatu yang berkeliaran di dadaku. Lebih tepatnya pada perasaanku. Entah ini namanya apa. tapi, sudahlah jangan pikirkan. Mungkin hanya sebuah akalku yang terlalu khwatir atas keberadaanmu disana selama 4 minggu ini.

***

2 hari kemudian, 30 hari setelah sekian lama aku menunggu moment terpenting antara aku dan kamu kemudian kita saling mengikatkan pada berkas berkas yang bernama kita akhirnya datang juga. Kamu bilang padaku "apa kabar, tuan putriku? Huh. Beberapa hari melihat tumpukan kertas dan pekerjaan yang tak usai-usai menyebabkan aku sangat kelelahan sampai tak sempat menghubung kamu sekedar menanyakan kabarmu."

Segera aku menanggapi pesanmu yang kukira namanya bukan lagi pesan singkat. Aku katakan aku baik-baik saja tanpa aku memberitahumu bahwa aku bigitu kecewa dengan dirimu yang tak sedikitpun memperhatikanku dan memberiku kabar beberapa minggu ini. Namun.. Katamu kemudian bahwa kamu sangat merindukanku. Kamu ingin menemuiku, mengusir rindumu yang menyelinap di hadapmu, leburlah sudah aku yang semula kecewa kepadamu. Kita lanjutkan bertukar pesan singkat smapai 3 segmen lalu aku rasa kamu kemudian tertidur lelah karena pekerjaanmu seharian menguras tenagamu. Aku kesal. Bagaimana tidak? Momentumku dan kamu yang bernama kita tiba-tiba kamu koyahkan dengan rasa kantuk yang menyebabkan kamu terjun ke alam mimpimu.

Kamu selalu saja begitu. Selalu saja menghilang meninggalkanku sendiri tanpa berpamit kepadaku terlebih dahulu. Seperti beberapa bulan lalu ketika aku dan kamu pergi jalan-jalan berlibur ke suatu tempat yang terbilang sangat bagus pesona alamnya kamu menyandarkan kepalamu di pangkuanku. Kemudian kita saling bercerita tentang apa yang nanti kita lakukan ketika kita telah sama-sama lulus dari pendidikan kita. Begitu juga aku bercerita mengenai keinginanku yang begitu banyak, ketika hendak aku bertanya pendapatmu tentang harapanku itu, kudapati dirimu telah terlelap tanpa berani aku mengganggumu.

Duh, betapa malunya aku atas tingkahmu yang selalu tertidur di pangkuanku tanpa memdulikan beberapa orang yang mencibirku mendapati aku memangku kepalamu dengan matamu yang terpejam. Aku ingin sekali marah namun aku membiarkan saja kamu tertidur pulas di pangkuanku. Karena disisi lain aku suka memandangi wajahmu ketika terlelap seperti itu.

Ah… menyenangkan sekali ketika aku harus mengingat masa-masa itu. Kamu yang selalu saja berbuat konyol dan membuatku kesal tak ada ampun itu. Kamu yang bisa saja membuatku kesal dengan sangat kemudian membuatku terpingkal sampai perutku sakit. Ah.. Aku rindu kamu. Sudah selama ini kamu pergi. Jadi, kapan kamu akan pulang lalu mengajakku menebas rindu yang kian kurangajar? Disini aku merindumu, apakah kamu tidak?

Salam, Perempuanmu

Rabu, 14 Mei 2014

Kenangan

sepasang kaki bergantian mulai berjalan. menapaki setiap jengkal kenyataan.
tapak pertama tampak baik-baik saja.
tapak kedua, ia mulai meragu langkah.
tapak brikutnya ia mulai tersadar,
bahwasannya ia akan meninggalkan kenangan.
lalu pada tapak tapak yang lain ia kembali terkenang
pada tapak yang ia tinggalkan.
lalu tapak itu mulai bertanya
"bagaimana cara ia meninggalkan tanpa mengenang?"

Entah apa

aku merasaimu berada di dada sebelah kiri.
aku baru tersadar ketika namamu tersebut ia melakukan reaksi dabar yang tak biasa terjadi.
tapi ketika kuketahui ada nama lain yang tersebut beriringan dengan namamu tadi,
seperti ditikam belati kemudian aku mati.
Sebenarnya sosok seperti apa kamu sampai berani membuatku seperti ini?

Jumat, 09 Mei 2014

Harap-- absurd!

Suatu kala, ada seorang wanita yang meringkuk dekam dingin di sudut malam karena pelukaan. Wajahnya terlihat pucat, terlukis jelas murung di rautnya. Matanya sembab. Memandang kosong apa yang ia pandang.

tubuhnya mengigil sepi. katanya ia baru saja mendapatkan pengabaian dari sosok yang ia harapkan datang. Padahal ia sering menunggui sosok itu datang berharap menungginya itu bersambut senyum dan peluk menghangatkan. Berharap dapat nengusir paksa gigil dari gelap pekat kesendirian yang ia rasai. Namun ujar si wanita, sosok itu belum juga datang merentangkan dekap dan menghangatkan wanita itu. 

Sampai suatu ketika ia bilang bahwa ia telah lelah menanti harap pada sosok yang tak kunjung datang namun masih menggantukan janji-janji temunya. janji untuk menemuinya dari ujung timur setiap paginya, hingga barat menenggelamkannya lagi.

Ia menyesal karena harap itu ia gantungkan kepada sosok yang katanya akan datang kembali memberikan hal hal indah yang baru kepadanya. Tapi apa yang si wanita itu pikirkan? dan apa yang wanita dapat? Kepalsuan--pikirnya.

tapi, bukankah itu hanya sangkaan-sangkaan wanita saja karena terlalu berharap dengan tak kenal sabar?

Rupanya, dibalik sangkaan sangkaan si wanita itu, sosok itu telah datang. menimpal bahwa wanita itu tidak dapat merasakan kehadirannya lantaran si wanita terlalu erat memeluk kesendirian malam. Tanpa ia memedulikan siapa yang datang menjemputnya untuk membantu menghentikan kenestapaan karena pikiran-pikirannya.

Kamis, 01 Mei 2014

Aku pernah

Aku pernah memilihmu...
Sebagai sosok yang pantas aku tunggu.
Aku pernah memilihmu...
Sebagai sosok yang patut aku rindu.
Aku pernah memlihmu...
Sebagai sosok yang menemani sepiku...

Karena aku mencintaimu.
Segala sesuatu tentangmu menjadikan aku untuk memilihmu.
Karena aku mencintaimu. Segala hal tentangmu adalah keterindahan bagiku.
Karena aku mencintaimu. Apapun tentangmu itu baik untukku.

Tapi aku dibuat buta oleh percintaan kapadamu.
Kamu membutakan aku dengan segala lakumu yang sangat berbeda di depanku dan di belakangku.
Kamu orang lain. Ketika kamu berada di depanku.
Namun kamu menjadi diri kamu yang sesungguhnya ketika kamu berada si belakangku.

Di depanku. Kamu katakan kata cinta yang mempu membuatku terbang ke awang menjauh dari tapakkan.
Di depanku. Kamu hadirkan pelukan yang mengahangatkan gigil tubuhku.
Di depanku. Kamu luruhkan air nata yang tertumpah karena kesepian yang mendekapku erat.

Sebelum aku tau bahwa di belakangku kamu tebarkan kata cinta untuk orang lain pula.
Sebelum aku tau jika di belakangku kamu singgap ke pelukan orang lain jua.
sebelum aku tau mengenai kamu yang berpura-pura mengusir kesepianku saja.

Namun itu dahulu.
Sebelum aku memutuskan untuk pergi darimu tanpa kembali lagi.
Sebelum aku memutuskan untuk meninggalkanmu dari kebohongan-kebohonganmu yang membodohkan.

Selasa, 08 April 2014

Pentingnya bersosialisasi


Bismillahir-rahamnir-rahiim.

Bersosialisasi pada lingkungan baru adalah kewajiban bagi seseorang. Seseorang tak akan dapat melakukan aktivitas social tanpa melakukan interaksi sosial antara manusia yang satu dengan manuasia yang lainnya.

***

Asna adalah seoarang anak yang pandai. Bahkan, dia mendapatkan juara satu meraih nilai yang terbaik sekotanya ketika ujian. Pada saat ia masuk ke SMA, ia tidak sulit untuk mendapatkan teman. Di sekolah Asna yang baru, ia terkenal sebagai seorang berpribadi pendiam suka menyendiri dan tidak memiliki seorang teman. Kemana-mana ia selalu sendiri. Pada akhirnya, Asna merasa tidak nyaman dengan lingkungan barunya, maka dari itu Asna mulai mencoba berbicara dan sering berkumpul dengan teman-teman sekelasnya. Bahkan, Asna juga mengikuti beberapa oraganisasi di sekolah barunya. Hingga pada akhirnya Asna memiliki teman yang banyak. Asna tidak lagi sendirian kemana-mana. Teman-temannya yang dahulu menyebut Asna sebagai seorang yang pendiam dan suka menyendiri, sekarang Asna disebut sebagai anak yang friendly dan kini Asna memiliki banyak sahabat.

Terlamat

Qul bifadl lillaahi,
wa birachmatihii
fabidzaalika fal yafrachuu.
Katakanlah (Muhammad) dengan fadol Allah (karunia)
Dan rachmatNya (berupa Nabi dan syari’at)
Maka hendaknya mereka bergembira atas semua itu. (QS. Yunus: 58)

Allah.. lihatlah aku yang tengah sibuk dengan keberadaankku sekarang ini..
Merangkai kata dari satu huruf ke huruf lain.
Bukan karena ku ingin merayuMu dengan rayuan-rayuan munafik,
Yang hanya timbul di awang-awang langit tetepi tak sampai hati.
Atau… hanya ingin mengapresiasikan apa yang ada di pikiran saja.
Jujurlah. Ini dari hati nurani, duhai Allah..
Ingin ku katakan kepadaMu.
Tentang bentuk cintaMu kepada insan ciptaanmu.
Aku hanya ingin Engkau menyampaikan salam rinduku terhadap rasulMu.
Yaaaa!! Yang beliau memberikan kepada para umat terdahulu ataukah sekarang, bahkan nanti.
Yang melalui perataranya Engkau dapat turunkan Al-qur’an.
Dan melalui sabdaMu melalui beliau, para khalifah bumi mengenal kewajiban dan larangan yang Engkau tetapkan.
Bahkan para khalifah bumi dapat mengetahui bagaimana mendekatkan diri kepadMu.
Kepadamu Rasulullah yang di rindui oleh beribu umat yang mencintaimu,
Cukuplah al-qur’an yang begitu subi sebagai bukti keberadaanmu, duh Rassul.
Takkan terbayangkan jika tiada sosok seperti engkau, bagaimana nanti para umat manusia?


*Ps: sebenarnya saya tidak tahu kalau pernah menulis tulisan ini. Mungkin tulisan awal masuk SMA hihihi lucu juga bisa nulis kaya gitu.

Pelajaran Dari Masa Lalu

Yang lalu, biarlah berlalu?

Beberapa waktu lalu saya sedang membongkar-bongkar data saya di netbook saya. Biasalah.. melakukan pembersihan hal-hal yang tidak penting. Kemudian saya menemukan tulisan saya ini. Ketika saya baca paragraph pertama rupanya tulisan ini adalah tugas pidato saya ketika kelas 10.

Karena ada beberapa hal yang membuat saya teringat dengan masalalu saya dan masa saya pada saat ini. Saya jadi tertarik untuk berbagi. Mohon maaf kepada para pembaca apabila pada tulisan ini banyak sekali kata yang kurang dan jauh dari PAS atau TEPAT. Tentunya, kita tahu bahwa yang pas dan tempat hanyalah milik Allah saja.


"Pelajaran dari masalalu”

Yang lalu biarlah berlalu??? Masalalu biarlah berlalu??? Benarkah demikian? Tapi mengapa banyak sekali sebagian orang yang membahas masalalu orang lain dengan berapi-api. Bahkan ada pula sebagian yang menceritakan masalalu orang lain kepada temannya sendiri atau kepada orang lain (yang lainnya :D) dengan kata menjatuhkan. Seperti tidak memberi perubahan kepada orang yang ia jatuhkan untuk menjadi yang lebih baik dari masalalunya.

Hm….. Saya memiliki cerita, insyaAllah semoga bermanfaat.

Umar Bin Khatab pernah suatu ketika menangis karena teringat suatu hal sebelum keislamannya masuk dalam dirinya. Pada saat itu Umar Bin Khatab menggali lubang di temani seorang anak perempuannya.

Sang anak setia menunggu sang ayah menggali lubang itu. Sewaktu-waktu keringat bercucuran di kepala sang ayah, sang anak mengusap dengan lembut keringat ayahnya. Bahkan, setitik debu yang menempel di jenggot ayahnya, sang anak pun membersihkan debu itu. Namun, setelah penggalian telah selesai, sang anak di kubur hidup-hidup oleh sang ayah. Na'udzubillah. Masalalu yang pahit dari sang Umar Bin Khatab.

Don’t Tell, But Show

Ini adalah tulisan saya waktu pertama kali terdaftar jadi jurnalis. saya menemukan ini beberapa waktu lalu. nah, karena saya berharap tulisan ini jangan sampai lumutan karena hanya tersimpan di netbook saya, saya berniat untuk berbagi kepada kalian para pembaca. semoga bermanfaat ya.. ^_^
-------------

Jum’at, 8 Februari sampai 10 Februari 2013, di sekolah saya mengadakana cara Pelatihan Jurnalistik dengan bertemakan ‘Menjadi Jurnalis Kreatif dan Bertanggung Jawab’ acara ini di hadiri oleh 20 peserta dari siswa/siswi MAN Salatiga yang terdaftar. Saya pun salah satu dari 20 peserta itu.

Acara pelatihan tersebut berlangsung selama 3 hari. Pada hari pertama, di hadiri oleh beberapa team redaksi dari Kompas. Salah satunya adalah Sonya Hellen Sinombor. Beliau menerangkan beberapa hal kepada kami tentang; About Journalist, berita, bentuk atau jenis berita, dan masih banyak lagi.

About Journalist
“Journalist it not medicane, but it can heal. It is not law, but it can bring about justice. It is not military, but it can help us safe.” (Mary Maps)

Dari 3 pokok penuturan Mary Maps tersebut, Ibu Sonya Hellen menjelaskan kepada peserta pelatihan. Bahwa;

Journalist it not medicane, but it can heal (jurnalis itu bukan obat, tetapi dapat menyembuhkan). Beliau berkisah; Suatu ketika ada seorang balita yang mengidam tumor ganas di kepalanya bertahun-tahun, tidak dapat menjalankan operasi lantaran perekonomian yang kurang. Pada saat itu juga, para dokter meminta kepada journalist agar meliputnya. Setelah masalah itu di publikasikan melalui media cetak/masa, tidak jarang para kalangan atas menyumbang biaya operasi untuk si balita tersebut.

Minggu, 30 Maret 2014

Diskusi Tentang Luka


Malam ke 21 pada 3 di tahun ini. Hm… merdunya suara angin yang bernyanyi ria membawa setiap daun-daun bernari dan berdansa kekanan dan kekiri. Kobaran bendera-bendera partai yang telah terpasang di setiap sudut jalan dan tiang tak kalah asyiknya ikut berdansa dengan iringan terpaan sang angin.

Malam ke 21 pada 3 di tahun ini. Hm.. terlihat bentangan awan keabu-abuan meyelimuti kerlip kejora dan venus di tiap sisi langit. Rembulan terlihat sangat pucat karena arakan awan keabu-abuan itu. Ingin sekali rasanya melihat bintang dan bulan bersanding mesra seperti biasanya. Ada sesuatu yang hilang hinggap pada kerling mataku tiap aku memandang langit.

Oh iya, aku lupa memperkenalkan diri. Perkenalkan, namaku Medina Mueeza. Aku tinggal di kota kecil bernama Salatiga. Aku seorang pelajar kelas 2 Aliyah. Hobiku melihat langit. Aku pecinta benda benda langit seperti bintang dan bulan. Penikmat matahari terbit dan terbenam bahkan hujan. Penyuka warna hijau dan biru. Penggemar lampu kota, lautan, dan hamparan sawah hijau nan luas. Aku juga seorang penyayang binatang; kucing.

Sudah aku katakan, melihat langit adalah hobiku. Aku suka memandanginya, apalagi kalau tak ada si abu-abu datang (re; mendung). Dan hari ini, hampir seharian kota tempat tinggalku di guyur hujan. Itu artinya si abu-abu mendominasi hari ini.

Aku kurang suka dengan suasana malam ini. Aku bosan dengan malam yang kelabu. Rasanya aku sudah merindukan adanya kerlip kejora dan cantiknya cahaya rembulan yang seringkali mendatangkan suasana berbeda pada tiap malamnya.

Aku memang penikmat hujan. Namun tidak untuk hari ini. Aku sudah terlalu bosan dengan hadirnya hujan yang seringkali datang membawa penantian—penantian untuk kembali menatap girang cahaya rembulan dengan sang penghibur; bintang.

Rabu, 15 Januari 2014

"Bahwasannya kamu berhak untuk bahagia"


 kisah ini masih berlanjut. Kembali aku dan dia (An) perdebatkan lagi masalah yang sempat telah 'hampir' aku lupakan. Ya! Meskipun aku belum bisa sepenuhnya mampu untuk melupakan.

Rabu malam.. Jatahnya memang saat ini aku pergunakan untuk melanjutkan tugas proposal yang belum kelar-kelar. Namun, entahlah bayangnya kembali lagi muncul dalam benakku. Tanpa sadar ketika aku tengah membuka akun twitter, ada kicauan dari sahabatku itu. Aku tak tahu, apakah dia hanya iseng atau memberiku wejangan untuk segera bangkit menghilangkan bayangnya d benakku. Katanya:

Kenapa milih bersedih meratapi masa lalu kalau bisa bahagia dengan lembaran baru?--- @bukanadelia | kenapa, Med?

Aku mencoba untuk mencerna apa yang dia katakan. Mencoba untuk mencari cari alasan kenapa aku bertahan dengan keadaanku saat ini. Beberapa saat kemudian aku membalas pertanyaannya.

"Sebenarnya.. aku hanya cari waktu untuk membuka lembaran baru." asalku.

Antara Aku, An, Senja, dan Rindu

Perlukah kita perdebatkan antara apa yang ada pada hatiku mengenai dirimu? perlukah aku tahu tentang pemahamanku tentang kamu? yang kini telah melebur menjadi pasir atau bahkan debu dalam waktuku kala dirimu itu berada di sisiku? 1 hal lagi, apa perlu aku mengingat ingat waktuku denganmu, waktu lalu, KALA SENJA, ketika kau dan aku saling berbisik rindu? sedangkan kau telah pergi dari hadirku? dari nanar hatiku.

sore itu.. selasa kemarin, 14012014. tak kusagka bayangmu hadir memenuhi anganku.. kata "SENJA" tiba tiba datang ketika aku tak sengaja membaca bait kata. seperti yang tertera: "Senja, pada langit biru ia menjingga. Menjelma kereta kuda yang menjemput mimpi pada malamnya. Keindahan sesaat, sekejapan mata. Datang sekali di antara siang dan malam. Tapi ia setia. Tak pernah lupa untuk kembali keesokan lagi, meski malam kerap melahapnya dalam hitam hari. Dan aku adalah senja itu. Pengantar rindu menuju kamu." (Galih Hidayatullah)
akukata pada sosok sepertiku, si penggemar senja, sahabatku sendiri. An. tak lama setelah itu, dia (An) kata:

"Senja itu sementara, tapi indah. Yaa disitu letak keindahanya." jelasnya mengawali percakapan antara aku dan dia.

"tidak. dia tidak semntara. dia akan datang lagi. esok. kau tak percaya?" elakku

"Iya dia datang lagi. Tapi dia tak selalu ada bukan? dia sementara" jelasnya

"apa aku salah terlalu takut dengan ke-sementaraan-nya??" aku mulai mengeluhkan hal yang tengah terpendam di sini. di dada ini.